Kolom

Kritik Karhutla di Panggung Musik: Peduli Bumi atau Peduli Reputasi?

Kritik Karhutla di Panggung Musik: Peduli Bumi atau Peduli Reputasi?
Kemeriahan konser Synchronize 2026. (IG:@synchronizefest)

Menonton festival musik hari ini rasanya seperti sedang dipaksa menelan pil kontradiksi yang luar biasa pahit. Di satu sisi, kita disuguhkan gemerlap panggung mewah dengan tata lampu jutaan watt dan sound system canggih yang menghentak dada penonton. Di sisi lain, panggung-panggung festival besar belakangan ini mendadak beralih fungsi menjadi mimbar dadakan.

Dari musisi cadas yang distorsif, band indie yang melankolis, legenda jazz kawakan, hingga penyanyi pop senior papan atas, semuanya ramai-ramai melontarkan sindiran tajam tentang Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang mencekik Kalimantan dan Sumatra. Mereka memplesetkan lirik lagu, memajang visual hutan membara di layar LED raksasa, hingga mengajak penonton berdoa bersama. Sebagai sebuah ekspresi seni dan kepedulian sosial, aksi panggung ini tentu sangat memikat perhatian dan emosi massa.

Namun, jika kita mau meninggalkan sejenak euforia konser dan mulai berpikir lebih jernih, fenomena protes musikal ini justru memicu sebuah pertanyaan besar yang sangat mengusik nurani kita, apakah rentetan kritik yang diteriakkan dari atas panggung megah bernilai miliaran rupiah tersebut murni lahir dari panggilan moral yang tulus, atau jangan-jangan hanya sebatas gimmick musiman demi mendongkrak reputasi panggung agar sang artis dinilai edgy, heroik, dan peduli lingkungan oleh basis penggemarnya?

Peduli Bumi, tapi Nyampah Plastik?

Kita harus berani jujur melihat kontradiksi yang terpampang jelas di depan mata. Kritik lantang tentang kehancuran alam dan rusaknya paru-paru bumi justru diteriakkan di dalam sebuah industri festival komersial yang dalam praktiknya mengonsumsi energi fosil luar biasa besar dan menyisakan gunungan sampah plastik tidak terurai pasca-acara.

Sungguh sebuah teater kemunafikan yang sempurna ketika ribuan penonton kelas menengah di kota besar larut dalam kesedihan, berteriak marah mengutuk perusak hutan, lalu sibuk memotret visual kabut asap itu demi konten estetis di media sosial, sementara kaki mereka sendiri sedang berdiri kokoh di atas tumpukan gelas plastik sekali pakai.

Lebih menyedihkan lagi, kritik lingkungan yang disuarakan di atas panggung festival ini sering kali berakhir menjadi komoditas hiburan semata tanpa dampak konkret di hilir. Ketika lagu protes selesai dimainkan dan tepuk tangan riuh ribuan penonton mereda, kesadaran sosial yang baru saja meletup itu biasanya langsung menguap begitu saja bersama keringat.

Esok harinya, setelah lampu panggung padam dan instalasi megah dibongkar untuk dipindahkan ke kota lain, kabut asap di lapangan nyata tetap saja mengepul hitam dan mencekik jutaan warga di luar Pulau Jawa yang tidak punya kemewahan untuk menonton konser.

Haruskah Penderitaan Korban Dijadikan Komoditas Hiburan?

Sindiran sarkas dari seorang vokalis populer atau prosesi doa bersama di sela-sela lagu hit sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum sedikit pun untuk menyeret korporasi sawit nakal ke pengadilan atau memaksa pemangku kebijakan membenahi sistem mitigasi bencana secara serius.

Jika kritik terhadap karhutla hanya dijadikan pemanis atau dekorasi aksi panggung agar konser terasa lebih "berbobot" dan memiliki kedalaman narasi, maka para musisi tersebut sebenarnya sedang melakukan eksploitasi tidak langsung terhadap penderitaan para korban asap.

Menggunakan isu ruang hidup yang hancur berantakan demi menaikkan nilai jual pertunjukan adalah bentuk penurunan moralitas yang patut dipertanyakan kegunaannya. Panggung yang terlihat "terbakar" oleh kritik tajam dan kemarahan musikal akan menjadi sia-sia belaka jika para penikmatnya hanya pulang membawa kepuasan batin yang semu karena mereka merasa telah berkontribusi bagi bumi hanya dengan mendengarkan sebuah lagu protes sambil mengepalkan tangan di udara.

Sebab, bencana karhutla bukanlah sebuah pertunjukan teater atau wahana simulasi yang bisa dinikmati dengan segelas minuman dingin di tangan di area festival yang nyaman. Menyelamatkan hutan adat yang tersisa dan memulihkan hak bernapas jutaan manusia memerlukan tindakan nyata yang terstruktur, radikal, dan sistemik, bukan sekadar riak protes musiman di sela-sela distorsi gitar.

Jangan sampai kita menjelma menjadi generasi yang bebal dan naif, merasa sudah menyelamatkan masa depan bumi hanya karena telah ikut bernyanyi, melompat, dan bersorak mengutuk pembakar hutan di sebuah festival mewah berbayar mahal.

Panggungnya boleh saja sudah menyala merah oleh kritik, tetapi selama kita dan para musisi masih menempatkan isu lingkungan ini sebagai pelengkap hiburan malam, maka selama itu pula kepedulian kolektif kita sebenarnya sedang jalan di tempat tanpa pernah melangkah ke mana-mana.

Menurut kalian, apakah kritik musisi soal karhutla di panggung festival benar-benar bisa membawa perubahan, atau justru hanya menjadi bagian dari pertunjukan?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda