Kolom

Setop Impor Beras: Prestasi Nyata atau Beban Baru?

Setop Impor Beras: Prestasi Nyata atau Beban Baru?
Ilustrasi aktivitas petani di sawah. (Pexels/donny yularso)

Kabar mengudara dari panggung utama kebijakan pangan nasional. Dua tahun berjalan, pemerintahan Prabowo Subianto mencatatkan klaim penting dengan menghentikan impor beras umum. Bagi sebagian kalangan, ini adalah sinyal kebangkitan kedaulatan pangan yang patut dirayakan.

Namun, sebelum kita terburu-buru menepuk dada, ada baiknya kita melangkah sejenak ke tengah petak sawah. Mari melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik hijau bulir padi kita. Apakah meja makan kita benar-benar telah sepenuhnya merdeka dari ulur tangan pasar global?

Jebakan Impor Tersembunyi di Balik Karung Beras

Langkah menekan angka impor beras fisik hingga ke titik nol adalah pencapaian efisiensi yang patut diapresiasi. Kerja keras para petani dan jajaran kementerian teknis dalam menjaga stok beras nasional tentu bukan perkara sepele. Namun, di balik narasi keberhasilan ini, ada tabir paradoks yang jarang disingkap media: fenomena impor tersembunyi.

Beras yang terhampar di piring kita boleh jadi dipanen di Karawang, Ngawi, atau Sidrap. Namun, tanyakan pada para petani: dari mana asal bahan baku pupuk kimia NPK dan fosfat yang memicu kesuburan sawah tersebut? Dari mana paten benih hibrida yang mereka tebar setiap musim tanam? Bahkan, mesin traktor hingga solar yang memutar rantai produksi pun tak lepas dari ketergantungan bahan baku luar negeri.

Artinya, kita tidak benar-benar memutus ketergantungan pangan. Kita hanya menggeser ketergantungan tersebut dari komoditas hilir (beras) ke input hulu (bahan baku pertanian). Jika harga pupuk dunia melonjak akibat konflik geopolitik di belahan bumi lain, biaya produksi tani kita ikut meledak. Ini menghadirkan rasa aman yang semu (false sense of security).

Saatnya Berbenah di Hulu Rantai Pasok

Kemerdekaan pangan sejati tidak berhenti pada ketersediaan fisik karung beras di gudang Bulog. Kedaulatan yang rapuh di tingkat input pertanian akan selalu membayangi keberlanjutan masa depan tani kita. Jika bahan baku utama pupuk dan benih unggul masih disetir pasar luar, stabilitas pangan nasional tetap rentan digoyang gejolak luar negeri.

Lalu, apa langkah konkret agar swasembada ini berumur panjang dan tidak sekadar menjadi etalase angka statistik belaka?

Pertama, pemerintah perlu mendorong reformasi regulasi pupuk organik dan pupuk hayati lokal. Kebijakan subsidi pupuk harus secara bertahap dialokasikan untuk memperkuat kemandirian bio-input berbasis limbah pertanian dan peternakan lokal, bukan melulu bergantung pada pupuk kimia impor.

Kedua, insentif riset nasional untuk pemuliaan benih lokal unggulan (indigenous seeds) harus diperbesar secara masif. Peneliti, akademisi, dan komunitas petani lokal perlu diberi ruang untuk memproduksi benih mandiri yang adaptif terhadap iklim Indonesia tanpa tergantung pada lisensi konglomerasi benih global.

Menjaga Napas Kedaulatan Pangan

Keberhasilan menghentikan impor beras umum adalah modal awal yang berharga. Namun, untuk menjaga napas kedaulatan pangan agar tidak ngos-ngosan di tengah jalan, kita harus berani menata akar masalahnya di tingkat hulu.

Pilihan ada di tangan kita: ingin puas menjadi penonton klaim swasembada karung beras, atau berani mewujudkan kedaulatan sejati dari bulir benih hingga racikan pupuknya?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda