Kolom

Korban Tak Sekadar Angka, Jangan Tunggu Terkena Musibah untuk Mulai Peduli

Korban Tak Sekadar Angka, Jangan Tunggu Terkena Musibah untuk Mulai Peduli
Ilustrasi Pemadam Kebakaran (Unsplash/@mchesin)

Ratusan ribu orang dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ada warga yang mengantre bahan bakar minyak hingga pingsan, ada keluarga yang kehilangan rumah akibat banjir, dan ada masyarakat yang harus bertahan di tengah situasi yang mengancam kesehatan serta penghidupan mereka.

Di balik setiap angka, ada manusia yang sedang berjuang menyelamatkan hidupnya, keluarga yang kehilangan tempat bergantung, dan masa depan yang mendadak berubah karena keadaan yang tidak mereka inginkan. Akan tetapi, ketika penderitaan itu dibicarakan, perhatian publik justru kerap terseret ke persoalan lain: siapa yang mengkritik pemerintah, siapa yang dianggap tidak loyal, dan siapa yang kemudian diserang oleh para buzzer.

Padahal, kritik di media sosial bukanlah persoalan sebesar penderitaan nyata yang dialami masyarakat. Akun yang menyerang bisa diblokir. Komentar yang menyakitkan bisa diabaikan. Namun, bagaimana seseorang memblokir penyakit yang menggerogoti tubuhnya, banjir yang merendam rumahnya, atau antrean panjang yang membuatnya kehilangan tenaga?

Penderitaan tidak bisa diselesaikan dengan menekan tombol block. Dalam masyarakat demokratis, kritik seharusnya menjadi bagian penting dari pengawasan terhadap kekuasaan. Warga berhak mempertanyakan kebijakan, menyampaikan keluhan, dan menuntut penjelasan ketika keputusan publik menimbulkan dampak yang merugikan.

Sayangnya, ruang digital sering kali berubah menjadi arena pertarungan narasi. Orang yang mengangkat persoalan sosial dapat diserang secara personal, dituduh menyebarkan kebencian, atau dianggap memiliki agenda politik tertentu. Perdebatan yang semestinya berfokus pada masalah justru bergeser menjadi pertengkaran mengenai siapa yang berhak berbicara.

Pola seperti ini berbahaya karena dapat mengalihkan perhatian dari persoalan utama. Ketika energi publik habis untuk memperdebatkan motif pengkritik, pertanyaan yang lebih mendesak justru tidak mendapatkan ruang yang cukup: apa penyebab masalahnya, siapa yang terdampak, apa yang sudah dilakukan pemerintah, dan bagaimana solusi konkret dapat segera dijalankan?

Tentu, tidak semua kritik otomatis benar. Informasi harus diperiksa, angka perlu diverifikasi, dan tuduhan harus didukung bukti. Namun, kekeliruan dalam kritik seharusnya dijawab dengan data dan argumentasi, bukan intimidasi atau serangan yang bertujuan membungkam.

Salah satu jebakan terbesar dalam melihat persoalan sosial adalah menganggap penderitaan orang lain sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan kita. Selama rumah tidak kebanjiran, kendaraan masih bisa digunakan, udara masih terasa aman, dan kebutuhan sehari-hari masih terpenuhi, kita mungkin merasa keadaan baik-baik saja. Namun, kenyamanan hari ini bukan jaminan keselamatan esok hari.

Bencana dapat meluas. Krisis dapat mengganggu rantai pasok. Masalah lingkungan dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. Kebijakan yang tidak tepat juga dapat menimbulkan konsekuensi yang melampaui kelompok yang pertama kali terdampak. Karena itu, kepedulian tidak seharusnya menunggu giliran kita menjadi korban. Solidaritas justru diuji ketika penderitaan tersebut belum menyentuh kehidupan pribadi kita. Apakah kita tetap bersedia mendengarkan, membantu menyebarkan informasi yang benar, dan menuntut pertanggungjawaban ketika kita sendiri masih berada dalam keadaan relatif aman?

Masyarakat yang hanya bersuara ketika kepentingannya terancam akan mudah terpecah. Sebaliknya, masyarakat yang peduli terhadap penderitaan sesamanya memiliki peluang lebih besar untuk membangun perlindungan bersama. 

Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk turun langsung ke lokasi bencana, menyumbangkan uang dalam jumlah besar, atau membantu korban secara fisik. Setiap orang memiliki keterbatasan sumber daya, waktu, dan tenaga. Namun, keterbatasan tersebut tidak berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kita dapat membantu menyebarkan informasi yang telah terverifikasi, mengarahkan bantuan kepada pihak yang membutuhkan, mendukung organisasi kemanusiaan yang kredibel, serta menyuarakan persoalan yang berisiko diabaikan. Kita juga dapat menuntut transparansi, mengevaluasi kebijakan berdasarkan bukti, dan mengingatkan para pengambil keputusan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas.

Bersuara bukan berarti menyebarkan setiap kabar tanpa pemeriksaan atau menyerang siapa pun yang berbeda pendapat. Justru, kritik yang berbasis fakta akan lebih sulit dipatahkan dan lebih berguna bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Jika kemampuan kita hanya sebatas berbicara, berbicaralah dengan bertanggung jawab. Jika kita mampu membantu lebih jauh, lakukanlah sesuai kemampuan. Sebab, dalam situasi ketika begitu banyak orang menghadapi penderitaan, diam bukan selalu berarti netral. Terkadang, diam hanya membuat masalah lebih mudah dilupakan.

Buzzer bisa diblokir, tetapi penderitaan rakyat tidak bisa dihapus dengan satu klik. Karena itu, jangan berhenti bersuara hanya karena takut diserang. Selama masih ada orang yang kehilangan tempat tinggal, berjuang mendapatkan layanan dasar, atau menanggung dampak kebijakan yang merugikan, masih ada alasan untuk peduli.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semuanya sendirian. Namun, kita bisa menolak berpura-pura bahwa tidak ada masalah. Teruslah bersuara. Periksa faktanya, jaga nurani, dan tuntut solusi. Sebab hari ini kita mungkin hanya menjadi saksi penderitaan orang lain, tetapi tidak ada jaminan bahwa esok hari kita tidak membutuhkan suara yang sama untuk membela diri sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda