Kolom
Ironi The Perfect Victim: Mengapa Korban Harus Sempurna untuk Layak Dibela?
Di media sosial, kasus kekerasan atau pelecehan sering kali tidak hanya membahas apa yang terjadi dan siapa yang bertanggung jawab. Perhatian publik justru bisa beralih ke kehidupan pribadi korban.
Bisa jadi cara berpakaian, hubungan masa lalu, keputusan yang pernah diambil, bahkan alasan mengapa korban baru berani bercerita ikut dipertanyakan. Seolah-olah, sebelum dipercaya, korban harus membuktikan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.
Sementara itu, orang yang dituduh melakukan kesalahan bisa mendapat simpati karena latar belakangnya, masalah yang sedang dihadapi, atau penyesalan yang ditunjukkannya di depan publik.
Hal ini menunjukkan bahwa empati tidak selalu diberikan secara adil. Korban terkadang harus memenuhi standar tertentu agar dipercaya dan dibela. Inilah yang disebut The Perfect Victim, yaitu anggapan bahwa korban harus terlihat baik dan nyaris tanpa cela agar penderitaannya dianggap layak mendapat perhatian.
Mengapa Masyarakat Lebih Mudah Membela Pelaku daripada Memahami Korban?
Menurut saya, salah satu alasan fenomena ini terus terjadi adalah karena kita tidak pernah melihat suatu kejadian dari sudut pandang yang utuh. Kita mengenal seseorang melalui cerita yang beredar, potongan video, unggahan media sosial, atau pendapat orang lain. Dari informasi yang terbatas itu, kita mulai membentuk penilaian tentang siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang pantas mendapatkan simpati.
Ketika seseorang yang kita sukai tersandung masalah, kita cenderung lebih mudah mencari alasan untuk memahami tindakannya. Kita mengingat kebaikannya, mempertimbangkan tekanan yang mungkin sedang dihadapinya, atau berpikir bahwa ia sebenarnya bukan orang jahat. Sebaliknya, ketika kita sudah terlanjur memiliki penilaian buruk terhadap seseorang, kesalahan kecilnya pun bisa terasa seperti bukti bahwa penilaian kita selama ini benar.
Standar Ganda yang Membuat Korban Harus Membuktikan Dirinya
Di masyarakat. ada standar berbeda yang digunakan untuk menilai pelaku dan korban. Ketika pelaku melakukan kesalahan, orang bisa mencari berbagai alasan di balik tindakannya. Namun, ketika korban menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat, perilakunya justru dapat dijadikan bahan untuk meragukan cerita yang disampaikan.
Misalnya, korban pelecehan yang tidak segera melapor bisa ditanya mengapa ia baru speak up. Korban yang masih berhubungan dengan orang yang menyakitinya bisa dianggap tidak benar-benar takut atau terluka. Bahkan, cara berpakaian dan riwayat hubungan seseorang tidak jarang ikut dibahas.
Padahal, setiap orang bisa merespons pengalaman buruk dengan cara yang berbeda. Respons seseorang juga dapat dipengaruhi oleh rasa takut, tekanan sosial, ketergantungan ekonomi, atau hubungannya dengan orang yang menyakitinya. Oleh karena itu, tidak tepat jika kita menggunakan satu standar perilaku untuk menentukan apakah penderitaan seseorang layak dipercaya.
Tentu saja, informasi dan bukti tetap penting untuk memahami sebuah kasus secara adil. Namun, memeriksa fakta berbeda dengan menghakimi karakter korban. Kita bisa bersikap kritis terhadap informasi yang beredar tanpa menjadikan kehidupan pribadi seseorang sebagai alasan untuk meremehkan pengalaman buruknya.
Empati Bukan Syarat untuk Mendapatkan Keadilan
Setiap orang memiliki latar belakang, masalah, dan sisi manusiawi yang mungkin tidak kita ketahui. Bahkan, seseorang yang melakukan tindakan buruk tetap berhak diperlakukan secara manusiawi. Namun, memperlakukan seseorang secara manusiawi bukan berarti membebaskannya dari tanggung jawab.
Hal yang sama berlaku bagi korban. Mereka tidak harus memiliki kehidupan yang sempurna untuk mendapatkan perlindungan. Mereka boleh memiliki masa lalu yang rumit, pernah mengambil keputusan yang keliru, atau menunjukkan reaksi yang tidak sesuai dengan ekspektasi orang lain. Semua itu tidak otomatis menghapus hak mereka untuk didengar dan mendapatkan keadilan.
Di sinilah kita perlu menempatkan empati secara lebih bijak. Empati bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling menderita atau siapa yang paling pantas dibela. Empati seharusnya membantu kita memahami keadaan orang lain tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai tindakan secara adil.
Keadilan seharusnya tidak bergantung pada seberapa baik seseorang menjaga citranya, seberapa bersih masa lalunya, atau seberapa sesuai reaksinya dengan harapan masyarakat.