Kolom
Gen Z FOMO Ngegym: Mengejar Tubuh Bugar atau Validasi Sosial?
Scroll TikTok sebentar, lalu muncul video seseorang mengangkat barbel, memamerkan perut six-pack, atau merekam transformasi tubuh dari kurus menjadi berotot.
Belum selesai menonton, kita sudah disuguhi rekomendasi sepatu training, botol minum estetik, dan rutinitas olahraga pukul lima pagi. Mendadak, pergi ke gym terasa seperti syarat tidak tertulis untuk menjadi anak muda yang produktif.
FOMO ngegym di kalangan Gen Z punya cerita yang lebih rumit daripada sekadar ikut-ikutan tren hidup sehat. Sebagian memang ingin membangun kebugaran, tetapi sebagian lainnya mungkin sedang mengejar sesuatu yang lebih sulit diukur daripada massa otot: pengakuan sosial, rasa percaya diri, dan keyakinan bahwa tubuhnya cukup layak untuk ditampilkan.
Ketika Gym Berubah dari Tempat Olahraga Menjadi Simbol Gaya Hidup
Dulu, orang berolahraga agar tubuh tetap kuat, napas tidak mudah ngos-ngosan, dan aktivitas sehari-hari bisa dijalani tanpa cepat kelelahan. Sekarang, pengalaman ngegym juga bisa hadir sebagai bagian dari identitas digital. Ada pakaian khusus, playlist latihan, foto di depan cermin, sampai unggahan progres tubuh yang membuat rutinitas kebugaran terlihat seperti paket lengkap gaya hidup modern.
Tentu, tidak ada yang salah dengan membagikan pengalaman olahraga. Media sosial bahkan bisa menjadi tempat menemukan komunitas, belajar teknik latihan, dan mendapatkan motivasi ketika semangat mulai turun. Masalahnya muncul ketika standar hidup sehat perlahan bergeser menjadi standar penampilan yang harus dipenuhi agar seseorang merasa tidak tertinggal.
Bayangkan seseorang yang awalnya tidak pernah memikirkan bentuk tubuhnya. Setelah berkali-kali melihat konten fitness, dia mulai membandingkan lengan, perut, dan bahunya dengan tubuh orang asing di layar ponsel. Dia kemudian membeli keanggotaan gym, mengatur pola makan, dan berlatih lebih keras. Semua terlihat positif, sampai muncul pertanyaan sederhana: apakah dia berolahraga karena ingin merasa lebih sehat atau karena mulai merasa tubuhnya sekarang tidak cukup bagus?
FOMO atau fear of missing out membuat seseorang takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau standar yang sedang populer di lingkungannya. Dalam konteks gym, ketakutan itu bisa muncul ketika teman-teman mulai rutin latihan, kreator favorit memamerkan perubahan tubuh, atau konten kebugaran terus memenuhi linimasa. Olahraga yang semestinya menjadi pilihan pribadi akhirnya terasa seperti kewajiban sosial.
Persoalannya bukan pada Gen Z yang rajin mengangkat beban. Justru, kebiasaan aktif secara fisik patut didukung. Yang perlu dikritik adalah budaya yang membuat seseorang merasa harus mengubah tubuhnya agar pantas mendapat tempat dalam pergaulan.
Media Sosial Membuat Tubuh Sehat Terasa Belum Cukup
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JMIR Human Factors pada 2024 memberikan gambaran tentang hubungan media sosial dan kepuasan terhadap tubuh di kalangan Gen Z Indonesia. Penelitian yang melibatkan 507 responden berusia 17–26 tahun dan wawancara terhadap 32 orang itu menemukan bahwa aktivitas berbasis video serta motivasi terkait penampilan berhubungan dengan kecenderungan membandingkan fisik dengan orang lain. Perbandingan penampilan dan internalisasi standar tubuh ideal juga berdampak buruk terhadap kepuasan tubuh responden.
Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa semua anak muda pergi ke gym karena FOMO. Namun, penelitian itu membantu menjelaskan mengapa konten kebugaran bisa menjadi pedang bermata dua: memberikan inspirasi untuk bergerak sekaligus memunculkan standar penampilan yang membuat orang merasa kurang.
Coba perhatikan cara konten fitness dikemas. Video latihan sering disertai foto sebelum dan sesudah, perubahan ukuran otot, atau perbandingan tubuh yang dianggap belum ideal dengan tubuh yang sudah terbentuk. Pesan tentang kesehatan pun berpotensi kalah populer dibandingkan visual tubuh yang mengundang kekaguman.
Algoritma media sosial kemudian memperpanjang siklus tersebut. Ketika seseorang sering menonton konten kebugaran, rekomendasi serupa dapat terus bermunculan dan membuat tubuh berotot seolah menjadi standar umum. Padahal, tubuh yang muncul di layar belum tentu mencerminkan kondisi rata-rata masyarakat, apalagi menjadi ukuran tunggal kesehatan.
Akibatnya, target latihan bisa bergeser. Seseorang yang awalnya ingin memperkuat otot mulai merasa gagal ketika berat badannya tidak turun secepat kreator favoritnya. Orang yang baru berlatih beberapa minggu merasa tertinggal karena belum mendapatkan perubahan visual yang mencolok.
Lebih jauh, gym juga bisa berubah menjadi panggung validasi. Cermin dipakai untuk memeriksa progres, kamera ponsel menjadi saksi latihan, sedangkan jumlah tanda suka menentukan apakah unggahan terasa memuaskan. Aktivitas fisik tetap berlangsung, tetapi kepuasan terhadap hasilnya semakin bergantung pada penilaian orang lain.
Tentu, mengunggah foto latihan bukan bukti seseorang terjebak dalam validasi sosial. Begitu pula keinginan membentuk tubuh bukan sesuatu yang perlu dicurigai. Kritiknya terletak pada standar yang membuat seseorang terus merasa kurang meskipun sudah berusaha menjaga kesehatan.
Sehat Seharusnya Menjadi Tujuan, Bukan Sekadar Penampilan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas intensitas tinggi selama 75–150 menit, disertai latihan penguatan otot setidaknya dua hari per minggu. Rekomendasi tersebut menekankan manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan, bukan kewajiban memiliki bentuk tubuh tertentu.
Artinya, keberhasilan berolahraga tidak harus diukur melalui perut rata, lengan besar, atau foto transformasi yang mengundang pujian. Tubuh yang lebih kuat, tidur yang lebih teratur, stamina yang meningkat, dan kemampuan menjalani aktivitas harian dengan nyaman juga merupakan hasil yang layak dihargai.
Gen Z boleh menjadikan gym sebagai gaya hidup. Mengeluarkan uang untuk keanggotaan, membeli perlengkapan olahraga, dan mempelajari pola latihan juga bukan masalah selama sesuai kebutuhan serta kemampuan finansial. Yang perlu dihindari adalah menganggap semua itu sebagai investasi wajib demi mengejar standar sosial yang terus berubah.
Ada baiknya setiap orang memeriksa kembali alasan mereka berlatih. Apakah latihan membuat tubuh terasa lebih bugar atau justru membuat setiap kekurangan fisik terasa semakin mengganggu? Apakah target yang dibuat sesuai kebutuhan pribadi atau sekadar meniru tubuh seseorang yang bahkan tidak dikenal secara langsung?
Pertanyaan tersebut bukan ajakan untuk berhenti berolahraga. Sebaliknya, pertanyaan itu membantu menempatkan olahraga pada fungsi yang lebih sehat. Media sosial boleh menjadi sumber inspirasi, tetapi keputusan tentang tubuh sebaiknya tidak diserahkan sepenuhnya kepada algoritma, komentar warganet, atau tren yang sebentar lagi berganti.
Gym seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mengenali kemampuan tubuhnya, bukan ruang untuk menghukum diri sendiri karena tidak menyerupai orang lain. Kalau motivasi awalnya FOMO, tidak masalah selama kebiasaan itu berkembang menjadi komitmen yang sehat dan realistis.
Namun, jika setiap sesi latihan justru menambah kecemasan karena tubuh belum sesuai standar media sosial, mungkin yang perlu diubah bukan program latihannya, melainkan ukuran keberhasilannya. Tubuh bukan proyek tanpa akhir yang harus terus diperbaiki demi memperoleh tepuk tangan orang lain.
Sebab, otot bisa tumbuh, stamina bisa meningkat, dan penampilan bisa berubah. Namun, kalau rasa cukup selalu bergantung pada pengakuan dari luar, target berikutnya akan selalu muncul. Jangan sampai Gen Z rajin melatih otot, tetapi lupa melatih kemampuan untuk menerima tubuhnya sendiri.