Kolom

Belajar dari Kerusuhan Paris: Mengapa Krisis Biaya Hidup Bisa Memicu Amarah Massal?

Belajar dari Kerusuhan Paris: Mengapa Krisis Biaya Hidup Bisa Memicu Amarah Massal?
Massa demonstran membakar gedung kantor pemerintah di Prancis selama demo anarkis akhir pekan. Massa juga menjarah toko-toko mewah. (Foto/EU Today)

Layar televisi dan linimasa media sosial baru-baru ini dipenuhi oleh gambaran kota Paris yang mencekam. Kota yang biasanya lekat dengan romansa dan menara Eiffel itu mendadak lumpuh akibat gelombang unjuk rasa masif yang berujung pada kerusuhan, pembakaran, hingga penjarahan di berbagai sudut kota. Ratusan ribu orang, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga kelompok pekerja, tumpah ke jalan meluapkan amarah yang tak lagi bisa dibendung.

Melihat kekacauan di salah satu negara paling maju di Eropa tersebut, kita mungkin bertanya-tanya: mengapa masyarakat di negara dengan sistem perlindungan sosial yang begitu luas bisa sampai semarah itu? Apa yang sebenarnya terjadi di balik runtuhnya ketertiban di sana? Jawabannya ternyata sangat mendasar, dan dari sanalah Indonesia harus mulai bercermin dan memetik pelajaran berharga.

Ketika Dompet Kosong Tak Mampu Mengejar Harga Pasar

Jika ditelusuri ke belakang, pemantik utama dari amarah massal ini bukanlah urusan politik elite yang rumit, melainkan masalah perut dan masa depan anak-anak mereka. Gerakan ini awalnya bermula dari protes para pelajar sekolah menengah atas yang mengeluhkan minimnya jumlah guru, ruang kelas yang terlalu padat, hingga rusaknya fasilitas sekolah.

Namun, sumbu pendek itu dengan cepat membakar keresahan yang lebih besar yang sudah lama mengendap di masyarakat: krisis biaya hidup yang semakin mencekik.

Rakyat Prancis merasa dikhianati oleh tabel statistik ekonomi pemerintah mereka. Angka inflasi mungkin terlihat terkendali di atas kertas, tetapi di dunia nyata, harga kebutuhan pokok, tarif listrik, dan bahan bakar melonjak tinggi.

Sementara itu, pertumbuhan upah pekerja berjalan tertatih-tatih dan tidak mampu mengejar kecepatan harga pasar. Ketika pengeluaran untuk kebutuhan dasar terus menguras isi dompet, ditambah dengan buruknya pelayanan publik yang mereka terima, ketidakpercayaan terhadap negara pun berubah menjadi ledakan kemarahan.

Bahaya Mengabaikan Suara Rakyat Kecil

Fenomena di Prancis ini menjadi sebuah kritik keras sekaligus alarm peringatan bagi Indonesia. Kita tidak boleh terlalu terlena dengan laporan-laporan pertumbuhan ekonomi nasional yang tampak indah di atas kertas. Angka pertumbuhan upah, penurunan persentase kemiskinan, atau inflasi yang stabil jangan sampai membuat para pengambil kebijakan cepat berpuas diri.

Sebab pada akhirnya, masyarakat kecil tidak membawa tabel atau grafik infografis saat mereka pergi ke pasar tradisional. Mereka membawa dompet yang isinya terasa makin menipis dari hari ke hari.

Pemerintah Indonesia harus jeli melihat apa yang tersisa di kantong sebuah keluarga setelah mereka membayar beras yang harganya sering bergejolak, tagihan listrik bulanan, uang kontrakan, hingga ongkos transportasi untuk bekerja. Ketika jurang ketimpangan sosial makin melebar dan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah mulai tercekik, sekecil apa pun kebijakan yang dirasa tidak berpihak pada rakyat bisa menjadi pemantik sumbu ledakan sosial yang serupa.

Merawat Kepercayaan Publik Sebelum Terlambat

Pelajaran terbesar dari amarah rakyat Prancis adalah pentingnya menjaga kualitas pelayanan publik dan transparansi anggaran. Uang pajak yang disetorkan oleh rakyat harus benar-benar kembali dalam bentuk fasilitas pendidikan yang layak, layanan kesehatan yang merata, dan jaminan hidup yang memadai.

Jangan sampai anggaran besar habis hanya untuk urusan birokrasi dan megaproyek yang tidak menyentuh kebutuhan primer masyarakat, sementara fasilitas sekolah di pelosok daerah kita masih banyak yang atapnya bocor dan kekurangan guru.

Pendidikan dan kesejahteraan adalah hak paling dasar yang dititipkan rakyat kepada negara. Ketika negara gagal memenuhinya secara adil, maka pondasi kepercayaan publik akan perlahan retak. Kerusuhan di Prancis mengajarkan kita bahwa demonstrasi besar bukan sekadar tentang orang-orang yang marah karena harga barang naik. Ini adalah akumulasi dari rasa tidak dihargai dan tidak didengar oleh para pemimpinnya.

Sebelum bara kekecewaan itu membesar, Indonesia harus bergerak lebih cepat untuk merangkul dan mendengarkan keluhan nyata di akar rumput. Mengurus negara bukan hanya tentang angka-angka capaian makro, melainkan tentang bagaimana memastikan bahwa setiap kepala keluarga masih bisa tidur dengan tenang tanpa cemas memikirkan harga beras esok hari.

Kalau menurut kalian sendiri bagaimana? Apakah kondisi daya beli dan fasilitas publik di sekitar kita saat ini sudah aman, atau sebenarnya kita juga sedang menghadapi tantangan yang mirip dengan apa yang terjadi di Prancis? Tulis opini kalian di kolom komentar ya!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda