Kolom
Sejarah Kelam Palembang Berdarah: Luka 1965 yang Tertinggal di Sungai Musi
Ada masa ketika pempek, makanan yang begitu lekat dengan identitas orang Palembang, begitu dihindari bukan karena kehilangan selera. Sebagian masyarakat justru memilih menjauh dari ikan dan udang yang berasal dari Sungai Musi. Tidak juga karena harga bahan baku melonjak atau resepnya berubah, melainkan karena sungai yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka menyimpan ingatan tentang kematian.
Peristiwa itu berkaitan dengan salah satu bab paling kelam dalam sejarah Indonesia. Gelombang penangkapan, pembunuhan, dan kekerasan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965. Di Palembang, Sungai Musi dan kawasan Pulau Kemaro menjadi bagian dari kisah tragis tersebut.
Menurut laporan historis yang dihimpun Detik Sumbagsel, pada periode itu jenazah para tahanan yang meninggal selama perjalanan menuju kamp di Pulau Kemaro dilaporkan dibuang ke Sungai Musi. Warga sekitar mengaku pernah melihat mayat mengapung dan menemukan jenazah ketika menjala ikan. Ketakutan itu membuat sebagian masyarakat enggan mengonsumsi ikan dan udang dari sungai tersebut selama beberapa tahun.
Bayangkan sebuah sungai yang selama berabad-abad menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, tiba-tiba berubah menjadi sumber kecemasan. Air yang biasanya menyediakan ikan untuk lauk sehari-hari kini mengingatkan orang pada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, pada jenazah yang tak ditemukan, dan pada kematian yang tidak selalu memperoleh pengakuan.
Pempek bukan sekadar kuliner. Ia merupakan bagian dari sejarah sosial dan kebudayaan Palembang. Olahan ikan dan tepung sagu ini tumbuh bersama kehidupan masyarakat sungai, perdagangan, serta ketersediaan sumber daya perairan. Ikan belida secara historis dikenal sebagai salah satu bahan baku pempek. Dagingnya yang khas membuat ikan ini bernilai tinggi dalam tradisi kuliner setempat. Namun, kelangkaan belida kemudian mendorong perajin menggunakan jenis ikan lain. Penelitian dan dokumentasi Kementerian Kelautan dan Perikanan juga mencatat bahwa pempek awalnya dibuat menggunakan ikan belida atau ikan gabus, sebelum bahan bakunya berkembang mengikuti ketersediaan ikan.
Ada satu hal yang perlu dibedakan secara cermat. Kisah warga menghindari ikan dari Sungai Musi setelah penemuan jenazah memang tercatat dalam laporan sejarah tersebut. Memang, tidak ada bukti kuat yang dapat memastikan bahwa ikan belida secara khusus memakan bangkai manusia dan kemudian menjadi penyebab langsung orang Palembang berhenti makan pempek. Kisah yang terdokumentasi lebih luas menyangkut ketakutan terhadap tragedi traumatis itu secara umum. Pembedaan ini penting agar tragedi sejarah tidak berubah menjadi mitos yang justru mengaburkan fakta. Kengerian yang dialami masyarakat sudah cukup besar tanpa perlu ditambahkan klaim yang belum terverifikasi.
Kisah Sungai Musi juga mengingatkan kita bahwa tragedi 1965 tidak berakhir pada peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal pada 30 September. Setelahnya, berlangsung gelombang kekerasan dan penindasan terhadap orang-orang yang dituduh terkait PKI di berbagai daerah. Banyak korban ditahan tanpa proses hukum yang layak, dibunuh, atau hilang tanpa kejelasan nasib.
Di Palembang, jejak sejarah itu bahkan bersinggungan dengan ikon kota: Jembatan Ampera. Jembatan tersebut awalnya dikenal sebagai Jembatan Bung Karno, lalu namanya diubah menjadi Jembatan Ampera pada 1966, dalam pergolakan politik setelah 1965. Ampera merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Perubahan nama itu memperlihatkan bagaimana pergantian kekuasaan turut membentuk simbol dan ingatan publik.
Hari ini, pempek tetap menjadi kebanggaan Palembang. Sungai Musi tetap mengalir, dan Jembatan Ampera tetap menghubungkan Seberang Ulu dengan Seberang Ilir. Namun, kelanggengan ikon budaya tidak berarti seluruh luka sejarah telah selesai. Tragedi semacam ini perlu dibicarakan bukan untuk mewariskan kebencian antargenerasi, melainkan agar korban tidak dihapus dari ingatan kolektif. Sejarah harus memberi ruang bagi kesaksian, penelitian, dan pengakuan atas penderitaan manusia, termasuk mereka yang selama puluhan tahun tidak memiliki kesempatan untuk menceritakan nasibnya sendiri.
Sebuah kota tidak hanya dibentuk oleh bangunan, makanan, dan sungai yang mengalir di tengahnya. Kota juga dibentuk oleh ingatan tentang orang-orang yang pernah hidup, kehilangan, dan menjadi korban sejarah. Pempek boleh tetap menjadi lambang kebanggaan Palembang. Namun, Sungai Musi juga mengingatkan kita bahwa di balik kebudayaan yang diwariskan, ada sejarah manusia yang tidak boleh ditenggelamkan untuk kedua kalinya.