Kolom
Joki Baca Buku dan Komodifikasi Literasi, Solusi atau Sekadar Ilusi?
Saat ini, aktivitas membaca buku tampaknya sedang menemukan panggung barunya sendiri. Di media sosial, buku-buku sering kali dipotret dengan pencahayaan yang apik, kutipan menariknya dibagikan ke story, dan deretan rak bacaan kini menjadi salah satu cara estetik bagi seseorang untuk mengekspresikan diri.
Di berbagai kota, komunitas membaca juga tumbuh subur, menjadi ruang hangat untuk saling bertukar pikiran sekaligus tempat yang asyik untuk mencari teman nongkrong baru. Fenomena positif ini tentu patut disambut dengan baik.
Ketika buku kembali masuk ke dalam obrolan sehari-hari, kesempatan masyarakat untuk berkenalan dengan gagasan-gagasan baru juga ikut terbuka lebar. Seiring dengan popularitasnya yang meningkat, aktivitas membaca kini mulai memiliki daya tarik tersendiri. Buku perlahan menjadi bagian dari gaya hidup yang menyenangkan, sekaligus memberikan citra positif bagi pemiliknya sebagai pribadi yang gemar belajar.
Menariknya, tren ini turut melahirkan praktik unik baru, yaitu jasa membaca buku yang disertai dengan pembuatan anotasi. Melalui jasa ini, pelanggan cukup mengirimkan buku mereka untuk dibaca oleh penyedia jasanya.
Buku tersebut kemudian akan diberi garis stabilo, ditempeli penanda halaman berwarna-warni, serta dilengkapi catatan kecil di pinggir kertas. Hasil akhirnya berupa buku dengan jejak visual yang khas, persis seperti buku yang telah selesai dipelajari dan diresapi seluruh isinya.
Di sinilah letak keunikannya. Melalui jasa ini, seseorang bisa memiliki buku penuh catatan tanpa harus melewati sendiri proses membaca yang panjang. Pola ini membuat pengalaman literasi seolah bisa diwakilkan, sementara bukti fisiknya tetap dapat disimpan secara personal.
Pola seperti ini sebenarnya memiliki kemiripan dengan layanan bantu yang sudah lama kita kenal di dunia akademis. Bedanya, kini bidang yang dibantu meluas ke aktivitas yang sifatnya lebih personal.
Mulai dari bantuan menyelesaikan tugas, pencatatan aktivitas olahraga di aplikasi olahraga Strava, hingga bantuan membaca buku. Semua proses tersebut dikerjakan oleh pihak ketiga, namun hasil akhirnya tetap bisa dinikmati langsung oleh sang pemilik.
Dalam jasa semacam ini, anotasi berpotensi berubah fungsi. Catatan pinggir yang biasanya merekam proses berpikir, rasa ingin tahu, atau sudut pandang personal kini dikemas menjadi produk kreatif yang siap dinikmati.
Menariknya, coretan stabilo dan catatan dari pembaca lain ini bisa memberikan perspektif baru yang barangkali belum terpikirkan oleh kita sebelumnya, sekaligus membuka ruang diskusi yang unik saat kita membuka halaman demi halaman.
Jika melihat dari sudut pandang ekonomi modern, fenomena ini sejalan dengan konsep Platform Capitalism yang ditulis oleh Nick Srnicek pada tahun 2016. Dalam bukunya, Srnicek mengulas bagaimana platform digital kini berfungsi sebagai infrastruktur yang mempermudah berbagai aktivitas ekonomi.
Kehadiran teknologi ini terbukti sukses membuka jalur pemasaran baru yang kreatif, serta mempertemukan para penyedia jasa inovatif dengan masyarakat yang membutuhkan layanan tersebut secara praktis.
Tentu saja, tidak ada yang salah dengan hobi yang bisa menghasilkan pendapatan. Aktivitas seperti membaca, menulis, ataupun olahraga tetap menjadi profesi yang sah dan produktif. Keuntungan dari jasa anotasi ini terletak pada kemampuannya mengemas pengalaman membaca menjadi sesuatu yang lebih visual dan siap pakai.
Kendati demikian, di balik optimalisasi hobi menjadi peluang produktif ini, esensi dasar dari membaca itu sendiri tidak boleh terlupakan.
Sebaiknya kita mulai melihat buku bukan sebagai beban atau pekerjaan rumah yang wajib dituntaskan dengan cepat. Buku setebal 500 halaman sangat boleh dibaca santai sedikit demi sedikit. Tidak masalah jika kita berhenti di halaman ke-50 saat jenuh, lalu melanjutkannya lagi beberapa bulan kemudian. Sebab, membaca tidak harus dipaksakan hanya demi membuktikan kedisiplinan.
Proses membaca yang sesungguhnya memang membutuhkan waktu dan kenyamanan. Terkadang kita perlu mengulang paragraf, mencari arti istilah baru, atau perlahan meresapi gagasan penulis. Lewat proses mandiri inilah hubungan personal antara kita dan isi buku bisa terbangun kuat.
Kehadiran jasa pembaca buku ini memperlihatkan betapa dinamisnya perkembangan tren literasi saat ini. Menjadikan buku sebagai bagian dari gaya hidup dan identitas diri adalah awal yang sangat baik. Langkah ini bisa menjadi pemantik positif untuk perlahan membangun kebiasaan membaca yang nyata, di mana buku menjadi sangat dinikmati setiap lembarnya.