Kolom
Gen Z Stres Memikirkan Biaya Hidup dan Bencana Jadi Beban Baru?
Ketika ada anak muda berusia 23 tahun yang baru lulus kuliah. Setiap pagi, ia membuka laptop untuk mencari lowongan pekerjaan. Puluhan lamaran sudah dikirim, tetapi undangan wawancara belum juga datang. Sementara itu, biaya makan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari terus berjalan.
Kemudian membuka media sosial, ia melihat teman-temannya mulai bekerja, membeli kendaraan, bahkan merencanakan pernikahan. Di tengah tekanan tersebut, bertanya-tanya mengapa kehidupan Generasi Z terasa semakin melelahkan, padahal masa muda seharusnya menjadi kesempatan membangun masa depan?
Persoalan stres pada Gen Z tidak dapat dijelaskan hanya melalui kebiasaan bermain media sosial atau kurangnya kemampuan menghadapi tekanan. Banyak anak muda hidup di tengah ketidakpastian ekonomi, persaingan pekerjaan, perubahan kebijakan, serta ancaman bencana alam.
Sebagian harus memikirkan masa depan ketika kondisi lingkungan dan ekonomi semakin sulit diprediksi. Namun, tidak semua Gen Z mengalami stres, dan penyebabnya dapat berbeda pada setiap individu.
Mengapa gen z banyak mengalami stres? Survei global Deloitte 2026 terhadap 22.595 responden Gen Z dan milenial di 44 negara menunjukkan bahwa biaya hidup menjadi kekhawatiran utama kedua generasi tersebut selama lima tahun berturut-turut.
Sebanyak 55 persen responden Gen Z mengaku menunda keputusan besar, seperti melanjutkan pendidikan, membangun keluarga, atau memulai usaha, karena kondisi keuangan. Sementara itu, 69 persen menyatakan keterjangkauan tempat tinggal memengaruhi keputusan karier mereka.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan finansial tidak hanya memengaruhi pengeluaran hari ini, tetapi juga rencana masa depan. Bagi sebagian anak muda, bekerja bukan lagi sekadar mengejar cita-cita. Mereka juga harus mempertimbangkan apakah pendapatan cukup untuk membayar kebutuhan pokok, membantu keluarga, dan menabung.
Ketika harapan tidak sejalan dengan kesempatan yang tersedia, tekanan emosional dapat meningkat. Indonesia juga menghadapi tantangan ketenagakerjaan usia muda. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Katadata, tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15–24 tahun pada Februari 2026 mencapai 16,36 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran nasional.
Data ini mencakup kelompok umur, bukan seluruh Gen Z. Namun, angkanya memperlihatkan bahwa transisi dari pendidikan menuju dunia kerja masih menjadi tantangan.
Bayangkan seseorang yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menempuh pendidikan, tetapi belum memperoleh pekerjaan sesuai kemampuan. Ia mungkin mulai mempertanyakan pilihan jurusan, keterampilan, hingga nilai dirinya sendiri.
Padahal, sulitnya memperoleh pekerjaan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan individu. Ketersediaan lapangan kerja, kondisi ekonomi, lokasi, dan kebutuhan industri turut menentukan kesempatan. Kemudian pengangguran usia muda bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga tantangan kebijakan ketenagakerjaan.
Kenaikan harga kebutuhan sehari-hari dapat menambah tekanan bagi anak muda yang baru memasuki dunia kerja. Pengeluaran untuk makanan, transportasi, tempat tinggal, dan komunikasi sering kali harus dipenuhi sebelum seseorang mampu menabung.
Bagi pekerja dengan penghasilan terbatas, perubahan harga beberapa kebutuhan saja dapat memengaruhi kondisi keuangan bulanan. Tekanan juga muncul ketika seseorang membandingkan kehidupannya dengan pencapaian orang lain di media sosial.
Namun, pengalaman setiap orang berbeda. Tidak semua anak muda memiliki dukungan keluarga, kesempatan pendidikan, atau kondisi ekonomi yang sama.
Mengukur keberhasilan hanya berdasarkan usia dan pencapaian materi dapat menciptakan standar yang tidak realistis. Apakah kebijakan pemerintah jadi pemicu stres Gen Z? Sebenarnya Kebijakan publik dapat memengaruhi kondisi kehidupan yang menjadi sumber tekanan psikologis.
Contohnya seperti Kebijakan pendidikan menentukan keterjangkauan biaya belajar. Kebijakan ketenagakerjaan memengaruhi kesempatan kerja, sedangkan kebijakan transportasi, perumahan, dan perlindungan sosial dapat memengaruhi pengeluaran masyarakat.
Jika pelaksanaannya tidak mempertimbangkan kondisi kelompok rentan, suatu kebijakan berpotensi memperbesar ketidakpastian ekonomi. Namun, tidak tepat menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah merupakan penyebab langsung seluruh masalah kesehatan mental Gen Z.
Hubungannya lebih kompleks. Kondisi keluarga, pengalaman pribadi, lingkungan sosial, dan faktor kesehatan juga berperan. Pemerintah tetap memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan anak muda melalui pendidikan berkualitas, kesempatan kerja yang layak, serta layanan kesehatan mental yang mudah dijangkau.
Selain tekanan ekonomi, sebagian Gen Z harus menghadapi risiko banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan cuaca ekstrem. Bencana dapat mengganggu sekolah, pekerjaan, transportasi, serta kondisi keuangan keluarga.
Ketika rumah terdampak banjir atau asap kebakaran hutan mengganggu aktivitas, masyarakat mungkin harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kesehatan, perbaikan rumah, atau kebutuhan air bersih.
Bagi anak muda yang sedang membangun kehidupan mandiri, gangguan tersebut dapat memperbesar ketidakpastian. Dalam kajian psikologi lingkungan, kekhawatiran terhadap perubahan iklim sering disebut climate anxiety atau kecemasan iklim.
Istilah tersebut menggambarkan kecemasan yang berkaitan dengan ancaman perubahan iklim, tetapi bukan diagnosis gangguan mental tersendiri.
Tidak semua kecemasan iklim bersifat merugikan. Pada tingkat tertentu, kekhawatiran dapat mendorong seseorang mencari informasi dan terlibat dalam kegiatan lingkungan. Persoalan muncul ketika tekanan berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kementerian Kesehatan pada 2026 kembali menyoroti hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022. Survei tersebut menemukan sekitar satu dari tiga remaja Indonesia usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sekitar satu dari dua puluh remaja mengalami gangguan mental.
Ketika anak muda mengeluhkan tekanan hidup, respons yang sering muncul adalah meminta mereka lebih sabar, bekerja keras, atau berhenti membandingkan diri.
Nasihat tersebut mungkin bermanfaat dalam situasi tertentu. Namun, tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan mengubah pola pikir. Solusi perlu berjalan pada dua tingkat seperti dukungan bagi individu dan perbaikan kondisi sosial yang menjadi sumber tekanan.
Generasi muda membutuhkan kesempatan mengembangkan keterampilan, lingkungan kerja sehat, pelayanan kesehatan mental, serta kebijakan yang memberikan kepastian.
Generasi Z tumbuh bersama kemajuan teknologi dan akses informasi yang semakin luas. Namun, kemajuan tersebut juga hadir bersamaan dengan tekanan ekonomi, perubahan dunia kerja, dan risiko lingkungan. Keadaan ini tidak berarti seluruh Gen Z lemah atau tidak mampu menghadapi tantangan.
Sebaliknya, banyak anak muda terus belajar, bekerja, membangun komunitas, dan mencari solusi bagi persoalan masyarakat. Stres yang dialami sebagian Gen Z seharusnya menjadi pengingat bahwa kesejahteraan generasi muda tidak cukup dibangun melalui motivasi pribadi.
Pemerintah, dunia pendidikan, perusahaan, keluarga, dan masyarakat perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan anak muda menjalani kehidupan secara lebih aman dan bermartabat.
Waktu masa muda seharusnya bukan hanya tentang bertahan menghadapi tekanan, melainkan juga memiliki kesempatan untuk tumbuh dan merencanakan masa depan dengan harapan.