Kolom
Saat Matematika sebagai Alat Penjajahan, Rumus dan Angka Menjadi Alat Kuasa
Sejak sekolah dasar, kita mengenal matematika lewat penjumlahan, perkalian, hingga rumus geometri yang tampaknya murni urusan angka dan logika objektif. Dua ditambah dua selalu sama dengan empat, tidak peduli siapa yang menghitungnya.
Tapi ceritanya menjadi berbeda ketika matematika masuk ke dalam ruang-ruang kelas. Di sana, manusialah yang menentukan materi apa yang diajarkan, sejarah mana yang diceritakan, serta pengetahuan apa yang dianggap sah secara ilmiah. Di titik inilah sains dan kekuasaan mulai saling bertautan.
Hubungan ini terlihat nyata dalam sejarah kolonial India. Kajian Kerry Goettlich dalam buku From Frontiers to Borders (Cambridge University Press) menjelaskan bagaimana survei wilayah di India Britania sejak akhir abad ke-18 digunakan untuk membentuk batas teritorial modern.
Bukti sejarah itu juga tersimpan di Arsip Nasional India dalam bentuk ribuan peta pendapatan desa dari abad ke-19, yang memperlihatkan bagaimana angka dan pemetaan menjadi alat penting dalam tata kelola pemerintahan kolonial.
Pemetaan wilayah juga pada dasarnya membutuhkan pengukuran, perhitungan, dan pengelompokan tanah. Bagi pemerintah kolonial, keahlian ini sangat penting untuk mengenali wilayah baru, menetapkan batas negara, dan menjalankan administrasi.
Di sinilah teknik matematika mulai bekerja guna mendukung kepentingan penguasa dalam mengelola wilayah dan pendapatan. Jalinan angka itu sendiri sebenarnya tidak menjajah, kekuasaan manusialah yang menentukan untuk apa angka-angka tersebut digunakan.
Persoalan ini juga tercermin di ruang kelas lewat cara sejarah matematika diajarkan. Buku Mathematics Across Cultures mencatat bahwa buku sejarah matematika umumnya lebih berfokus pada tradisi Barat, sementara kontribusi dari masyarakat lain sering kali dibahas secara terbatas.
Dampaknya, murid berisiko melihat matematika seolah-olah hanya lahir dan berkembang dari peradaban tertentu saja. Kontribusi besar dari berbagai budaya lain di dunia akhirnya menjadi kurang terlihat. Padahal, siapa saja yang diberi ruang dalam buku pelajaran akan menentukan bagaimana kita mengenali para penghasil pengetahuan di dunia.
Di Indonesia, penelitian dalam Ethnomathematics Journal tentang Keraton Yogyakarta menunjukkan bahwa gunungan Sekaten, motif batik, Bangsal Manganti, hingga tangga keraton dapat menjadi sumber belajar matematika yang menarik. Berbagai praktik budaya tersebut secara alami memuat aktivitas dasar matematika, seperti menghitung, mengukur, mengurutkan, dan mengelompokkan.
Contoh-contoh itu membuka peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari murid. Pola pada kain batik, misalnya, bisa digunakan untuk mempelajari geometri, sementara bentuk arsitektur bangunan dapat menjadi pintu masuk yang pas untuk membahas konsep simetri. Lewat pendekatan ini, pengetahuan lokal menjadi terhubung langsung dengan konsep matematika formal yang siap diuji dan dipelajari.
Gagasan ini tentu bukan ajakan untuk membuang matematika modern atau menganggap semua klaim matematika memiliki tingkat ketepatan yang sama. Sebaliknya, dunia pendidikan justru perlu memisahkan antara kebenaran logis matematika dan keputusan sosial tentang pengetahuan mana yang dipilih untuk diajarkan dan dihargai.
Matematika memiliki peran ganda: membantu kita memahami dunia, sekaligus menjadi alat bagi penguasa untuk mengelolanya. Oleh karena itu, pertanyaan penting di ruang kelas bukan lagi sekadar cara mendapatkan jawaban yang benar. Kita juga perlu melihat sejarah, kepentingan, dan pilihan manusia di balik pengetahuan yang diwariskan.
Rumus memang bekerja dengan logika murni, tetapi penggunaannya akan selalu berada di tengah dinamika kehidupan sosial dan politik.