Kolom
Menjawab Kritik Polisi Bahasa: Mengapa Kita Harus Berhenti Menganggap Bahasa Sedang Rusak
Setiap kali ada istilah baru yang viral di media sosial—seperti “ygy”, “menyala abangku”, hingga “becusn’’t” dan “bagusn’t”—kelompok ‘konservatif bahasa’ sering kali langsung meradang dengan narasi soal kemunduran Bahasa Indonesia.
Ruang komentar di lini masa mendadak dipenuhi "polisi bahasa" yang sibuk merazia kesalahan ketik atau menyalahkan struktur kalimat anak muda yang dianggap tidak sesuai KBBI hingga tudingan merusak tatanan bahasa.
Namun, jika mau menatap fenomena ini dari sudut pandang yang lebih kritis dan terbuka, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan yang berbeda: bahasa Indonesia tidak sedang rusak, justru sedang menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang sangat sehat.
Bahasa layaknya organisme hidup yang harus bernapas, berevolusi, dan beradaptasi dengan kecepatan zaman. Terlebih di era internet yang serba cepat, evolusi bahasa di jempol Gen Z membuat bahasa Ibu tak lagi kaku.
Fatamorgana Bahasa Statis dan Kesalahpahaman Konservatif
Kekeliruan terbesar dari pandangan konservatif adalah memperlakukan bahasa seperti artefak museum yang beku—harus dijaga agar tetap steril, kaku, dan tidak boleh disentuh oleh perubahan zaman.
Bukankah Bahasa Indonesia yang kita gunakan hari ini lahir dari proses adopsi, adaptasi, dan peleburan berbagai bahasa daerah serta bahasa asing selama berabad-abad? Bedanya kini, generasi muda yang melahirkan perubahan itu.
Saat Gen Z menciptakan kosakata baru atau memadatkan frasa panjang menjadi singkatan yang efisien di ruang obrolan, sebenarnya konsep yang diterapkan hampir sama dengan apa yang dilakukan generasi terdahulu.
Perbedaannya terletak pada kecepatan. Di era digital, sebuah istilah tidak lagi membutuhkan waktu puluhan tahun untuk menyebar lewat buku cetak. Hanya hitungan jam, istilah baru sudah bisa bagian dari komunikasi jutaan orang lewat algoritma video pendek.
Menolak realitas ini sama saja dengan memaksa masyarakat modern menggunakan kereta kuda di era mobil listrik. Era berubah, penghuni zaman beradaptasi, dan bahasa juga bisa mengalami evolusi.
Slang Digital sebagai Katup Efisiensi dan Validasi Emosi
Realitas harian komunikasi digital menuntut kecepatan dan ketepatan rasa. Ruang karakter yang terbatas pada platform media sosial memaksa jempol Gen Z untuk kreatif. Istilah gaul atau slang digital lahir bukan karena kemalasan berpikir, tapi bentuk efisiensi kebahasaan.
Frasa seperti "Yang tahu-tahu aja" yang dipadatkan menjadi "ytta" bukan sekadar singkatan, melainkan kode budaya yang menciptakan rasa kepemilikan kelompok—sense of belonging—di dunia maya yang riuh.
Lebih dari itu, bahasa formal sering kali dirasa terlalu berjarak dan kaku untuk memvalidasi emosi-emosi harian yang kompleks. Contohnya, kata “menangis” tidak bisa mewakili kedalaman rasa sedih sekaligus ironi yang terkandung dalam kata “mengsedih”.
Pada akhirnya, bahasa gaul ala Gen Z memberikan ruang bagi anak muda untuk mengekspresikan diri secara autentik, jujur, dan tanpa sekat formalitas yang sering kali terasa palsu.
Menolak Penjara "Polisi Bahasa" Demi Kebebasan Berekspresi
Dampak paling berbahaya dari penghakiman massal terhadap gaya berbahasa anak muda adalah munculnya rasa takut berekspresi. Saat ruang digital dipenuhi komentar yang merundung kesalahan tata bahasa, Gen Z akan memilih untuk menarik diri.
Bahkan bisa lebih buruk dengan beralih sepenuhnya menggunakan bahasa asing yang dirasa lebih akomodatif pada budaya internet. Bahasa Indonesia seharusnya menjadi ruang aman tempat anak muda menumpahkan ide, opini, dan kreativitas dengan cara mereka sendiri.
Saat bahasa dipenjara dalam aturan baku tanpa kompromi di ruang non-formal, sama saja kita sedang menjauhkan bahasa dari penggunanya. Sisi autentik bahasa dinilai dari seberapa sering diucapkan dan digunakan, bukan seberapa rapi tersimpan di rak buku perpustakaan.
Merayakan Fleksibilitas Masa Depan Bahasa
Bahasa Indonesia tidak akan mati hanya karena anak muda mengetik “ygy”, “becusn’’t” atau “bagusn’t” di kolom komentar. Bahasa justru akan mati saat berhenti memproduksi kosakata baru dan kehilangan relevansi di mata generasi masa depan.
Sudah saatnya kita menghentikan glorifikasi bahasa yang kaku dan mulai merayakan kelenturannya. Gen Z, dengan segala kreativitas digitalnya, sedang menanam benih-benih baru yang membuat bahasa Indonesia tetap relevan, segar, dan berdaya saing di jagat maya.
Biarkan jempol Gen Z menari, biarkan bahasa ini berevolusi. Karena pada akhirnya, kebebasan berekspresi melalui bahasa yang adaptif adalah cara terbaik untuk memastikan bahasa Indonesia akan tetap hidup dan berumur panjang.