Kolom
Keanekaragaman Hayati Diajarkan di Kelas, Dihancurkan di Dunia Nyata
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, anak-anak Indonesia diajarkan tentang keanekaragaman hayati. Mereka menghafal nama flora dan fauna, mengenal ekosistem, mempelajari rantai makanan, serta memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam. Mereka diberi tahu bahwa hutan merupakan rumah bagi berbagai satwa, sungai adalah bagian penting dari kehidupan, dan setiap makhluk memiliki peran dalam ekosistem. Namun, untuk apa semua pengetahuan itu diajarkan sejak dini jika kenyataan yang mereka saksikan justru memperlihatkan manusia menghancurkan kehidupan yang seharusnya dilindungi?
Di dalam kelas, anak-anak belajar bahwa harimau membutuhkan hutan untuk bertahan hidup. Di luar kelas, habitat satwa terus menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan, pembalakan, perburuan, dan aktivitas manusia lainnya. Mereka belajar bahwa sungai merupakan sumber kehidupan, tetapi pencemaran tetap menjadi persoalan di berbagai wilayah. Mereka diajarkan bahwa setiap spesies memiliki nilai ekologis, sementara kepentingan ekonomi jangka pendek kerap mengalahkan upaya perlindungan alam.
Kontradiksi ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan pendidikan, etika, dan tanggung jawab manusia. Ketika pelajaran berhenti di halaman buku, pendidikan keanekaragaman hayati seharusnya tidak berhenti pada kemampuan murid menjawab soal ujian. Anak-anak perlu memahami mengapa keberadaan spesies penting, bagaimana ekosistem saling terhubung, dan apa akibatnya ketika satu bagian dari sistem tersebut rusak.
Hilangnya suatu spesies bukan hanya berarti berkurangnya satu nama dalam buku pelajaran. Dampaknya dapat menjalar melalui rantai makanan, mengganggu proses penyerbukan, mengubah kondisi habitat, hingga memengaruhi kehidupan manusia sendiri. Hutan yang rusak, misalnya, dapat mengurangi kemampuan lanskap menyimpan air dan meningkatkan kerentanan terhadap erosi serta bencana tertentu.
Laporan global Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) pada 2019 memperkirakan sekitar satu juta spesies tumbuhan dan hewan menghadapi ancaman kepunahan, banyak di antaranya dalam beberapa dekade, jika tekanan terhadap alam terus berlanjut. Laporan itu mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dan laut, eksploitasi langsung organisme, perubahan iklim, pencemaran, serta spesies asing invasif sebagai pendorong utama kehilangan keanekaragaman hayati. Artinya, kerusakan alam bukan sekadar cerita tentang manusia yang tidak tahu bahwa alam harus dijaga. Sebagian kerusakan terjadi karena keputusan, kepentingan, dan sistem yang menempatkan keuntungan tertentu di atas keberlanjutan kehidupan.
Kita tidak kekurangan pelajaran tentang pentingnya alam. Yang sering kurang adalah konsistensi antara pengetahuan, kebijakan, dan tindakan. Ada ironi ketika anak-anak diminta menjadi generasi yang peduli lingkungan, sementara persoalan struktural yang merusak lingkungan tidak ditangani secara serius. Mereka diminta mengurangi sampah plastik, menghemat air, dan menanam pohon. Semua tindakan itu berguna, tetapi tidak cukup jika pada saat bersamaan perusakan habitat, pencemaran, dan eksploitasi sumber daya berlangsung tanpa pengawasan yang memadai.
Tanggung jawab menjaga keanekaragaman hayati tidak bisa dibebankan terutama kepada individu, apalagi anak-anak. Pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat memiliki tanggung jawab sesuai peran serta kewenangannya. Kebijakan tata ruang harus memperhitungkan daya dukung lingkungan. Aktivitas ekonomi harus mematuhi aturan perlindungan alam. Pelanggaran perlu ditindak, sedangkan upaya konservasi harus melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut.
Kita juga perlu berhenti menggambarkan manusia sebagai satu-satunya penyebab yang seragam. Tidak semua orang memperoleh keuntungan dari eksploitasi alam, dan tidak semua masyarakat memiliki kuasa yang sama atas keputusan penggunaan lahan. Ada komunitas yang justru kehilangan ruang hidup akibat kerusakan lingkungan. Kritik harus diarahkan kepada tindakan, kebijakan, dan pihak yang bertanggung jawab berdasarkan bukti, bukan sekadar menyalahkan manusia secara umum.
Pendidikan harus membuktikan bahwa perubahan mungkin terjadi. Meskipun kenyataan sering mengecewakan, mengajarkan keanekaragaman hayati tetap penting. Tanpa pengetahuan, anak-anak akan kesulitan mengenali kerusakan, memahami dampaknya, atau menuntut pertanggungjawaban. Namun, pendidikan harus memberi mereka lebih dari sekadar definisi dan hafalan.
Sekolah dapat menghubungkan pelajaran dengan kondisi sungai, hutan, pesisir, dan ruang hijau di sekitar mereka. Murid dapat belajar membaca data lingkungan, mengamati perubahan habitat, memahami kebijakan konservasi, dan mengevaluasi tindakan yang benar-benar memberikan dampak. Dengan demikian, kepedulian ekologis tumbuh bersama kemampuan berpikir kritis. Masalahnya bukan bahwa kita mengajarkan keanekaragaman hayati terlalu dini. Masalahnya adalah ketika orang dewasa gagal memberi contoh atas nilai-nilai yang mereka ajarkan.
Kita tidak bisa meminta anak-anak menghormati kehidupan sambil membiarkan kehancuran alam dianggap sebagai harga yang wajar untuk sebuah keuntungan. Jika keanekaragaman hayati hanya hidup di buku pelajaran, pendidikan kita kehilangan sebagian maknanya. Alam bukan sekadar materi ujian yang harus dihafal murid, melainkan jaringan kehidupan yang menopang masa depan mereka.
Dan generasi yang kita didik hari ini berhak menerima lebih dari sekadar pengetahuan tentang apa yang sedang kita rusak. Mereka berhak melihat bahwa manusia juga mampu melindungi, memulihkan, dan bertanggung jawab atas kehidupan yang menjadi bagian darinya.