alexametrics

Burnout, Musuh Utama Produktivitas dan 5 Cara Mengatasinya

Rizky Melinda Sari
Burnout, Musuh Utama Produktivitas dan 5 Cara Mengatasinya
Ilustrasi stres kerja (pexels/Karolina Grabowska).

Burnout atau istilah sederhananya lelah mental adalah sebuah kondisi yang menyebabkan seseorang tidak dapat menikmati lagi segala pekerjaan yang ia lakukan.

Burnout merupakan sebuah kondisi yang sangat tidak menguntungkan dan membuat resah. Burnout dipicu oleh beberapa faktor, misalnya tekanan pekerjaan yang terlalu besar sehingga membuat otak senantiasa berada dalam kondisi tegang, ditambah dengan keadaan atau lingkungan yang tidak mendukung.

Di masa pandemi yang mengharuskan orang-orang bekerja dan sekolah dari rumah, membuat risiko terserang burnout semakin tinggi. Menatap layar laptop atau komputer sepanjang hari, mata dan pikiran yang dipaksa fokus menatap satu titik sepanjang waktu, dapat memperparah kondisi burnout.

Sangat penting untuk bisa memanajemen kesehatan pikiran agar kita tetap produktif di tengah segala keterbatasan bekerja sepanjang hari di depan komputer. Beberapa hal berikut bisa dilakukan untuk menyegarkan kembali pikiran yang terlalu lelah dengan beban berat yang menyebabkan burnout melanda.

1. Perbanyak minum air putih

Di masa yang mengharuskan kita untuk duduk dalam durasi yang cukup lama menghadap layar komputer, meminum air putih sesuai anjuran pakar kesehatan memang sangat penting.

Air putih dapat mendinginkan pikiran sejenak dari penatnya otak yang dipaksa terus bekerja. Volume air putih yang ideal untuk dikonsumsi adalah 3-4 liter per hari. 

2. Beri jeda sejenak

Teknik pomodoro dapat diterapkan untuk menghindari burnout. Teknik pomodoro adalah sebuah teknik dari Jepang yang membagi waktu untuk fokus melakukan suatu pekerjaan dengan waktu untuk berisitrahat. Misalnya 25 menit fokus bekerja, berilah waktu 5 menit untuk beristirahat sejenak seperti menatap pepohonan, sekadar bersantai, menutup mata, mendengarkan satu lagu, atau pergi ke toilet.

Teknik ini dianggap efektif untuk menurunkan ketegangan otak. Setiap orang memiliki format waktu yang berbeda-beda, ada yang 20 menit bekerja dan 10 menit istirahat, atau 30 menit bekerja dan 15 menit istirahat. Coba saja teknik pomodoro, dan temukan pola paling sesuai yang membuat kita bisa rileks dan dapat melanjutkan pekerjaan kembali dengan senang.

3.  Lakukan hal-hal menyenangkan

Sebelum memulai suatu pekerjaan, yakinkan terlebih dahulu diri kita bahwa kita tidak menganggap pekerjaan tersebut sebagai beban. Mengutip dari buku Atomic Habits karya James Clear, ubah mindset kita ketika akan melakukan suatu pekerjaan dari ‘Aku harus mengerjakan ini’ menjadi ‘Aku telah diberi kesempatan untuk mengerjakan ini’.

Dengan demikian, otak kita akan merespon pekerjaan tersebut sebagai sebuah kesempatan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Setidaknya cara ini bisa sedikit membantu mengurangi rasa berat akibat beban yang ditimbulkan oleh pekerjaan.

4.  Istirahat jika sudah terlalu lelah

Setiap otak manusia memiliki batas waktu tertentu untuk dapat beroperasional secara maksimal. Otak kita bukan mesin komputer yang dapat melakukan pekerjaan sepanjang waktu tanpa perlu makan, minum, istirahat, dan lain sebagainya. Komputer saja bisa panas jika digunakan terlalu lama, begitu pula otak kita.

Sangat penting untuk memberi kesempatan pada otak dan tubuh untuk beristirahat. Lakukan hobi atau beberapa kegiatan favorit untuk mendistraksi otak dari kewajiban menyelesaikan sesuatu. Membaca buku, bermain, atau sekedar minum kopi bisa menjadi solusi.

5. Tidur yang cukup

Kondisi tubuh akan berada dalam keadaan prima jika malam sebelumnya kita tidur dengan durasi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Tidur merupakan salah satu hal yang cukup mewah bagi sebagian orang-orang yang dituntut untuk bekerja sepanjang hari bahkan sampai larut malam.

Manusia memerlukan tidur sekitar 7 sampai 8 jam per hari. Kurang tidur hanya akan menyebabkan kita tidak fokus dalam melakukan apapun, serta tubuh akan terasa lemas dan tidak bersemangat. Tidur sejenak di sela waktu luang bisa menjadi solusi. 

5 hal di atas mungkin tidak semuanya efektif untuk mengatasi atau menghindari efek burnout, tapi setidaknya sedikit mengurangi. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah kesehatan dan bahagia. Suatu pekerjaan tidak akan terasa sebagai beban jika kita berada dalam kondisi sehat dan bahagia. Jadi, jagalah kesehatan badan serta pikiran kita dengan selalu berbahagia.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak