Lifestyle

Berat Hanya 22 Kg, Influencer Ini Tewas Karena Diet Buah

Berat Hanya 22 Kg, Influencer Ini Tewas Karena Diet Buah
Ilustrasi Fruitarianism, diet hanya makan buah. [pxhere]

Belum lama ini, publik dikagetkan dengan kisah seorang perempuan yang memilih pola makan ekstrem raw vegan fruitarian, Karolina Krzyzak. Karolina hanya memakan buah mentah dengan keyakinan bahwa tindakannya dapat "memurnikan" tubuh dan jiwa.

Ia pun berkunjung ke Bali untuk menemui teman-teman komunitasnya. Namun, perjalanan "spiritual" ini malah berujung tragis.

Terinspirasi oleh komunitas digital nomad dan influencer wellness di media sosial, ia mengambil langkah ekstrem ini. Namun, kenyataannya, diet yang hanya terdiri dari buah saja menyimpan risiko yang sangat serius.

Dari Influencer 'Glowing' Jadi Pasien Malnutrisi

Awalnya, gaya hidup baru Karolina tampak ideal. Ia kerap membagikan foto-fotonya yang terlihat glowing sebagai seorang raw vegan fruitarian. Ia sangat meyakini bahwa kesucian makanan dapat membersihkan tubuh dan pikirannya.

Namun, perlahan ia semakin menolak makanan lain di luar buah-buahan mentah. Karolina berhenti mengonsumsi sumber protein, lemak sehat, hingga sayuran yang harus dimasak. Ia percaya bahwa semakin sedikit "kontaminasi" dari makanan modern, semakin dekat ia pada kesempurnaan spiritual.

Berdasarkan laporan Gulf Today, Karolina akhirnya ditemukan dalam kondisi tubuh yang sangat kurus, dengan berat hanya sekitar 22 kilogram. Hasil medis menunjukkan bahwa ia menderita osteoporosis parah dan defisiensi albumin akut, yaitu tanda kekurangan protein yang kronis.

Dalam kasus Karolina, malnutrisi yang parah membuat organ-organ tubuhnya gagal berfungsi hingga akhirnya menewaskannya.

Apa Itu Diet 'Fruitarian' dan Kenapa Bisa Berbahaya?

Fruitarianism adalah bentuk yang lebih ekstrem dari diet vegan, yang membatasi asupan hanya pada buah-buahan mentah. Para penganutnya percaya bahwa buah adalah makanan paling “murni” yang diciptakan oleh alam.

Tetapi, seperti yang dijelaskan oleh para ahli gizi di Scientific American, pendekatan ini sangat tidak realistis untuk jangka panjang. Tubuh manusia membutuhkan berbagai nutrisi esensial seperti protein, kalsium, vitamin B12, dan lemak sehat, yang tidak dapat dipenuhi hanya dari buah saja.

Manfaat vs. Risiko: Pedang Bermata Dua

Memang, di satu sisi, diet berbasis buah menawarkan beberapa manfaat nyata. Buah kaya akan serat, vitamin, dan antioksidan. Tetapi, di sisi lain, terdapat risiko yang jauh lebih besar jika dijalankan secara ekstrem:

  • Kekurangan Vitamin B12: Dapat menyebabkan kerusakan pada saraf dan anemia.
  • Minimnya Protein: Dapat menghambat perbaikan sel dan menyebabkan hilangnya massa otot.
  • Kelebihan Fruktosa (Gula Buah): Dapat berpotensi menimbulkan resistensi insulin atau masalah hati.

Diet yang seimbang tetap menjadi kunci utama kesehatan. Buah memang sangat baik untuk dikonsumsi, tetapi juga harus disertai dengan sayuran, sumber protein, dan lemak sehat agar tubuh dapat berfungsi secara optimal.

Pelajaran Pahit dari Tragedi Karolina

Kematian Karolina Krzyzak menjadi pelajaran pahit bagi banyak orang di era digital, di mana tren kesehatan seringkali disebarkan tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Media sosial dapat membuat gaya hidup ekstrem terlihat menarik, padahal ada risiko tinggi di baliknya. Sebelum mengikuti tren diet apa pun, sangat penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi.

Penulis: Flovian Aiko

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda