Lifestyle

Padepopan: Festival Baru yang Menghidupkan Kembali Ruang Budaya Depok

Padepopan: Festival Baru yang Menghidupkan Kembali Ruang Budaya Depok
Padepopan: Festival Baru yang Menghidupkan Kembali Ruang Budaya Depok. (Dok. Istimewa)

Di tengah minimnya ruang publik kreatif di Depok, banyak anak muda merasa kesulitan menemukan tempat aman untuk berekspresi, menikmati musik, atau sekadar berkumpul tanpa harus pergi jauh ke Jakarta.

Kota yang dipenuhi keberagaman budaya ini sebenarnya punya potensi besar, namun ruang perayaan yang inklusif, terjangkau, dan melibatkan komunitas lokal masih jarang muncul.

Kekosongan inilah yang akhirnya dijawab oleh Padepopan, festival musik baru persembahan Junior Digital Indonesia dan Memorise Fun Club, kolektif di balik PBB dan Djatlingko, yang memilih Depok sebagai pusat perayaannya.

Dengan tema “Seragam Beragam”, festival ini hadir bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang temu bagi warga dan komunitas.

Padepopan: Festival Baru yang Menghidupkan Kembali Ruang Budaya Depok. (Dok. Istimewa)
Padepopan: Festival Baru yang Menghidupkan Kembali Ruang Budaya Depok. (Dok. Istimewa)

Digelar pada 7 Desember 2025 di lokasi tak biasa, Jatijajar Transit Hub, Padepopan berlangsung berdampingan dengan aktivitas terminal yang tetap beroperasi, menciptakan suasana urban yang hidup. Sesuai namanya yang terinspirasi dari kata “padepokan,” festival ini menjadi titik kumpul pelaku musik, local heroes, dan warga muda Depok maupun luar kota.

Panggung utama Bricks Stage menghadirkan line-up lintas genre seperti The Cottons, Banda Neira, Olsam, Nosstress (yang pertama kali tampil di Depok), Hindia, .Feast, hingga White Chorus. Setiap penampil memberi warna berbeda, dari syahdu saat hujan hingga momen penuh energi yang disambut lantunan massal penonton.

Selain panggung utama, Padepopan punya Alter Stage, dikurasi oleh kolektif Pemuda Dalam Gang. Di sini tampil local heroes seperti Coral Riff, Arc Yellow, Jarah (dengan aksi unik Gerakan Aceh Mencukur), serta sesi talkshow dadakan, komedi, hingga penutup meriah dari The Gedor, dangdut keliling Depok.

Festival ini juga membuka zona komunitas Tengkulak Kalcer yang memamerkan berbagai aktivitas kreatif: pameran perjalanan cukur lintas pulau, rework pakaian, sketsa langsung, rilisan musik lokal, hingga workshop gelang, rajut, dan tali temali.

Padepopan menonjolkan inklusivitas dengan area prioritas bagi disabilitas, orang tua, ibu hamil, dan anak kecil, serta menyediakan dua area merokok. Lebih dari 22 UMKM mengisi area kuliner, memberi dorongan nyata pada ekonomi kreatif lokal.

Festival ini juga menggandeng Bank Sampah Induk Rumah Harum untuk pengelolaan sampah melalui drop box daur ulang.

Dengan menghadirkan musik, komunitas, UMKM, dan ruang ekspresi warga dalam satu perayaan, Padepopan membuka babak baru ruang budaya Depok.

Festival ini menjadi awal terbentuknya ruang kumpul yang kolaboratif, hidup, dan berkelanjutan, sebuah padang tumbuh bagi ekosistem kreatif kota di tahun-tahun mendatang.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda