News

Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor

Tak Sekadar Riding, Begundal War Wer Tunjukkan Sisi Positif Komunitas Motor
Kegiatan Begundal War Wer, mulai dari morning ride, lomba (kontes), hingga kegiatan sosial ke panti asuhan ""Begundal for People" (Instagram/Begundalwarwer)

Industri otomotif roda dua di Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang besar dalam beberapa tahun terakhir. Tidak hanya soal penjualan kendaraan, budaya modifikasi dan komunitas motor juga semakin tumbuh di berbagai daerah, termasuk Yogyakarta yang dikenal memiliki kultur otomotif cukup kuat di kalangan anak muda.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya produk aftermarket yang kini mudah ditemukan, mulai dari aksesoris, apparel, hingga part modifikasi yang dijual di berbagai platform e-commerce. Hal itu membuat para pecinta otomotif semakin leluasa mengekspresikan karakter motornya masing-masing.

Di sisi lain, berbagai kontes dan festival otomotif berskala besar juga mulai ramai digelar di banyak kota. Ajang seperti The Elite Showcase menjadi salah satu contoh bagaimana kultur modifikasi kini berkembang menjadi bagian dari gaya hidup anak muda dan ruang berkumpul para enthusiast.

Di tengah berkembangnya kultur tersebut, komunitas motor pun hadir bukan hanya sebagai tempat riding bersama, tetapi juga menjadi wadah berbagi ide, relasi, hingga solidaritas antarsesama penghobi otomotif.

Ifan Choi, salah satu founder Begundal War Wer, membagikan cerita mengenai perjalanan komunitas motor tersebut saat ditemui Yoursay.id di Yogyakarta pada Minggu (17/5/2026).

Salah satu komunitas yang lahir dari kultur tersebut adalah Begundal War Wer, komunitas motor asal Yogyakarta yang bermula dari tongkrongan sederhana di sebuah bengkel hingga akhirnya berkembang menjadi wadah para pecinta motor matic, khususnya Yamaha XMAX.

“Aku nggak bisa menghindari pemikiran ini, karena kami juga memodifikasi motor kami dengan knalpot racing yang tentu aja mengganggu orang lain,” ujar Ifan Choi.

Meski begitu, ia menilai etika berkendara tetap menjadi hal penting yang harus dijaga oleh para pecinta motor modifikasi.

“Menurutku dengan tertib dan tidak arogan di jalan itu sudah lebih bijak ketika kita pakai motor yang tidak standar,” lanjutnya.

Ifan mengatakan komunitas tersebut awalnya terbentuk dari kebiasaan nongkrong bersama teman-teman bengkel yang memiliki hobi serupa di dunia otomotif.

“Begundal itu tercipta saat saya dan teman-teman bengkel yang sering ketemu memutuskan buat nongkrong bareng, dan akhirnya jadi sering riding serta sharing hobi yang sama,” katanya.

Nama “Begundal” sendiri awalnya berasal dari komunitas bernama Begundal Anugrah. Menurut Ifan, nama tersebut muncul karena mereka dikenal memiliki konsep modifikasi yang paling nyeleneh dibanding pelanggan bengkel lainnya.

“Nama ini diciptain sama Mas Teddy, tapi karena kesibukan akhirnya beliau enggak lanjut main motor,” ucap Ifan.

Ia kemudian melanjutkan komunitas tersebut dengan nama baru, yakni Begundal War Wer. Nama itu memiliki arti “kesana kemari”, menggambarkan aktivitas riding mereka yang cukup aktif berpindah tempat.

Seiring waktu, komunitas tersebut berkembang menjadi ruang berkumpul para pecinta otomotif dengan karakter modifikasi yang beragam. Ifan menyebut sebagian besar anggota komunitas merupakan modifikator yang memiliki ide dan ciri khas masing-masing.

“Sebagian besar dari kami itu modifikator ya, yang memang memiliki ciri dan idenya masing masing,” jelasnya.

Tak hanya aktif riding dan touring, Begundal War Wer juga beberapa kali mengikuti kontes motor bersama-sama. Mereka bahkan pernah berkolaborasi dengan brand apparel otomotif asal Bandung untuk merchandise komunitas.

Selain aktivitas otomotif, komunitas ini juga beberapa kali menggelar kegiatan sosial, seperti membagikan makanan dan minuman di jalan saat bulan Ramadan.

“Kami berkegiatan positif dengan aktivitas charity dan juga membagikan makanan serta minuman di jalan,” kata Ifan.

Bagi Ifan, solidaritas menjadi salah satu nilai penting dalam komunitas. Namun, ia menilai setiap anggota tetap perlu memiliki batasan agar hubungan di dalam komunitas tetap sehat.

“Solid dan persaudaraan menurutku sangatlah penting dalam sebuah komunitas, tapi kami tetap memberikan boundaries untuk masing-masingnya,” ujarnya.

Di akhir, Ifan berharap Begundal War Wer tetap menjadi ruang nyaman bagi para anggotanya tanpa adanya konflik internal di kemudian hari.

“Harapan aku ke depan wadah ini tetap menjadi playground buat temen-temen, tidak ada perpecahan group di dalam group dan juga tidak membicarakan teman yang lain di belakang,” tuturnya.

Ia juga berharap komunitas yang dibangunnya bisa menjadi contoh positif bagi pecinta otomotif lain, khususnya dalam menjaga etika berkendara di jalan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda