News
Menemukan 'Healing' Tipis-Tipis di Balik Jendela MRT dan LRT
Sebagai seorang freelancer, jadwal kerja saya memang tidak menentu. Saya bukan tipikal orang yang setiap pagi harus berdesakan di kereta untuk menuju kantor. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi incaran saya: jika lokasi kerjaan atau tempat pertemuan dekat dengan stasiun MRT atau LRT, saya pasti akan memilih naik transportasi umum tersebut.
Mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, naik MRT atau LRT itu punya vibe yang sangat berbeda dan istimewa.
Suasana Baru yang Menenangkan
Sejak kecil, saya tinggal di dekat stasiun kereta api konvensional. Jadi, pemandangan rel kereta dan keriuhan stasiun sudah menjadi hal yang sangat biasa bagi saya.
Namun, begitu melangkahkan kaki masuk ke stasiun MRT atau LRT, rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Semuanya terasa modern, bersih, dan punya suasana yang unik.
Ada kesenangan sederhana saat duduk di dalam gerbongnya. Salah satu momen favorit saya adalah saat menempuh perjalanan dari Stasiun LRT Cikoko menuju Rasuna Said. Pemandangan saat kereta berbelok di ketinggian itu sungguh menyenangkan mata!
Bagi saya, itu adalah hiburan gratis di tengah padatnya jadwal kerja. Healing tipis-tipis, kalau kata anak zaman sekarang.
Sisi Lain yang Menarik: Dari Balik Kaca Masinis
Kalau sedang tidak ingin duduk, saya suka berdiri di bagian paling depan atau paling belakang, tepat di balik ruang masinis. Melihat trek perjalanan dari sudut pandang ini memberikan sensasi tersendiri. Ditambah lagi, karena jalurnya melayang di atas, kita bisa leluasa melihat lanskap kota Jakarta dari ketinggian.
Satu hal lagi yang bikin betah adalah kenyamanannya. Biarpun cuaca di luar Jakarta sedang panas-panasnya sampai bikin gerah, di dalam LRT rasanya tetap adem karena AC-nya yang sangat mumpuni. Rasanya benar-benar dimanjakan sebagai penumpang.
Lebih dari Sekadar Transportasi
Rasa suka saya pada transportasi umum ini semakin bertambah setelah saya berkesempatan ikut dalam acara diskusi bertajuk "Pilihan Bijak, Naik Transportasi Umum". Di sana, saya bisa mengobrol, berbagi informasi, serta bertukar tips dengan sesama pengguna setia angkutan massal.
Hal yang paling menarik, acara tersebut turut menghadirkan pembicara dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang membedah soal arah kebijakan transportasi di Jakarta. Dari situ, wawasan saya makin bertambah.
Saya jadi sadar bahwa memilih naik transportasi umum bukan cuma soal kenyamanan pribadi agar tidak capek menyetir di jalan. Lebih dari itu, ini adalah bentuk kontribusi nyata kita dalam mengurangi emisi kendaraan pribadi yang selama ini menjadi biang kerok polusi udara.
Harapan untuk Masa Depan
Dalam forum tersebut, kami juga bisa berdialog langsung dan memberikan masukan kepada pejabat publik tentang apa yang sebenarnya kami butuhkan sebagai pengguna harian. Rasanya sangat melegakan bisa didengarkan.
Saya berharap acara-acara sharing seperti ini terus berlanjut. Semakin banyak orang yang paham betapa seru dan nyamannya naik transportasi umum, semakin baik pula kualitas udara dan kemacetan di kota kita.
Jadi, kalau besok ada pilihan antara bawa motor atau mobil sendiri atau naik LRT, saya sih sudah tahu pasti jawabannya. Sampai ketemu di gerbong depan, ya!