News
Anak-anak di Ukraina dan Bagaimana Perang Merenggut Masa Kecil Mereka
Masa kecil saya lekat dengan boneka Barbie. Setiap ulang tahun, ayah dan ibu hampir selalu menghadiahinya. Saat itu, dunia terasa sederhana: ada bayangan tentang menjadi perempuan cantik dengan heels merah muda yang pergi bekerja di sebuah kantor di tengah kota.
Ada pula sore-sore bersama teman, bermain Batu Tujuh, berlari dan tertawa sampai azan magrib terdengar. Sepulang sekolah, badan masih bau keringat, lalu bermain sampai sore sebelum pulang untuk mandi dan dibedaki ibu sampai wajah putih seperti donat halus yang dijual di gerobak pinggir jalan.
Kenangan itu tiba-tiba muncul ketika menghadiri pembukaan pameran fotografi “Living the War: Children”, yang digelar Kedutaan Besar Ukraina dan diinisiasi oleh Bring Kids Back UA.
Pameran tersebut memperlihatkan kehidupan anak-anak Ukraina yang masa kecilnya direnggut oleh perang. Di sana, masa kecil yang selama ini terasa biasa mendadak terlihat begitu berharga.
Sebab, sementara dulu yang dipikirkan hanya ingin bermain sampai magrib dan kelak menjadi apa, anak-anak dalam foto-foto itu harus memikirkan cara bertahan hidup.
Masa Kecil yang Dibentuk Oleh Perang

Sebuah foto berukuran besar membuat langkah saya terhenti. Seorang anak perempuan, sekitar empat tahun, duduk di atas komidi putar berwarna biru. Ia bermain di antara bangunan perumahan yang hancur di North Saltivka, Kharkiv.
Sekilas, tidak ada yang ganjil. Seorang anak sedang bermain. Namun, semakin lama diperhatikan, semakin terasa janggal suasananya. Di belakang komidi putar itu tidak ada rumah yang utuh, taman bermain yang ramai, atau anak-anak lain yang berlarian. Yang ada hanya bangunan-bangunan yang luluh lantak akibat perang.
Pemandangan itu membawa saya kembali ke permainan Batu Tujuh. Dulu, bersama teman-teman, kami berlarian mencari tempat persembunyian.
Satu anak berjaga di dekat susunan pecahan keramik, sementara yang lain berusaha bersembunyi sebelum ditemukan. Tak pernah terpikir apakah tempat bermain kami aman atau apakah rumah masih berdiri ketika permainan selesai. Yang penting hanya satu: jangan sampai ketahuan sebelum azan magrib.
Anak perempuan dalam foto itu mungkin juga hanya ingin bermain. Tetapi masa kecilnya berlangsung di tempat yang berbeda.
Ia tumbuh di tengah perang yang dimulai sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Bagi sebagian anak Ukraina, perang bahkan datang lebih dulu daripada ingatan tentang kehidupan damai.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Ukraina untuk Indonesia, Yevhenia Shynkarenko, mengatakan perang telah membentuk masa kecil anak-anak Ukraina. Anak-anak yang kini berusia empat tahun, misalnya, tidak pernah mengenal kehidupan tanpa perang.
“Seorang anak yang kini berusia empat tahun belum pernah mengenal kehidupan yang damai,” kata Yevhenia dalam pembukaan pameran.
Kalimat itu membuat saya kembali menatap foto tadi. Usia anak perempuan itu hampir sama dengan anak yang disebut Yevhenia.
Di usia ketika seorang anak semestinya sibuk bermain, belajar, dan mengenal dunia dengan rasa ingin tahu, perang justru menjadi bagian dari dunia yang pertama kali mereka kenal.
Dan perang bagi anak-anak Ukraina bukan sekadar suara ledakan atau bangunan yang runtuh. Ada keluarga yang terpisah, rumah yang ditinggalkan, hingga anak-anak yang dipindahkan secara paksa dari tempat asal mereka.
Kedutaan Besar Ukraina mencatat lebih dari 20.000 laporan deportasi ilegal dan pemindahan paksa anak-anak Ukraina ke wilayah yang dikuasai Rusia. Hingga kini, 2.470 anak telah berhasil dipulangkan kepada keluarga mereka.
Angka-angka itu membuat foto di hadapan saya terasa berbeda. Komidi putar biru itu bukan lagi sekadar tempat seorang anak bermain.
Ia menjadi saksi tentang masa kecil yang terputus. Tentang rumah yang hancur, keluarga yang terpisah, dan anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk tumbuh dalam kehidupan yang semestinya mereka kenal.
Penulis: Inesia Dian