News

Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng

Menembus Batas, Menyapa Cengkeh: Petualangan KKN Paling Berkesan di Tanah Dengeng-Dengeng
Kunjungan awal ke kantor desa yang disambut langsung oleh Pak Sekertaris Desa Dengeng-Dengeng. (Dok.Pribadi/Taufiq)

Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian masyarakat kerap dipandang sekadar sebagai syarat administratif formalitas demi merengkuh gelar sarjana di perguruan tinggi. Namun, ketika roda kendaraan kami mulai bergerak melintasi batas wilayah paling timur di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, prasangka pragmatis tersebut perlahan menguap. Pengalaman mengabdi di Desa Dengeng-Dengeng, Kecamatan Pitu Riase, hadir menyodorkan petualangan hidup dan pelajaran kemanusiaan yang tak akan pernah bisa diecer dalam ruang-ruang kelas perkuliahan.

Bagi masyarakat luas, Kabupaten Sidrap hampir selalu diidentikkan dengan predikatnya yang megah sebagai "Lumbung Padi" utama penopang ketahanan pangan nasional. Namun, Desa Dengeng-Dengeng menyajikan fakta sosiologis dan ekonomis yang sama sekali berbeda. Terletak di kawasan pegunungan Pitu Riase, sumber penghidupan utama warga setempat bukan berasal dari hamparan sawah hijau, melainkan dari komoditas perkebunan yang jarang sekali kami jumpai di kawasan perkotaan seperti Rappang.

Di desa ini, kehidupan masyarakat bergerak selaras dengan ritme alam perkebunan. Tanaman cengkeh dan minyak nilam menjadi urat nadi perekonomian warga, berdampingan dengan tegakan pohon buah musiman seperti rambutan, langsat, hingga durian yang melimpah ruah.

Saban hari, pola hidup komunal terasa begitu teratur dan bersahaja: sejak terbit fajar warga telah berbondong-bondong menuju kebun, kembali ke rumah untuk santap siang dan beristirahat sejenak, lalu melangkah kembali merawat kebun hingga petang memanggil. Kala magrib bertandang, mereka kembali ke kediaman masing-masing untuk melepas penat dalam kehangatan keluarga.

Bentang Alam yang Permai dan Tamparan Realitas Aksesibilitas

Membedah kehidupan warga perkebunan, potensi air terjun, tantangan akses jalan, hingga kehangatan rumah kedua.
Membedah kehidupan warga perkebunan, potensi air terjun, tantangan akses jalan, hingga kehangatan rumah kedua.

Di balik ketekunan warganya merawat perkebunan, Desa Dengeng-Dengeng dikaruniai keindahan bentang alam yang teramat permai. Terisolasi dari keriuhan kota, desa ini menyimpan pesona alam yang megah, seperti gemericik kejernihan Air Terjun Salbir hingga keasrian Air Terjun Teratai Dale yang tersembunyi di balik rerimbunan vegetasi. Pemandangan deretan pegunungan hijau yang berdiri kokoh menjadi panorama harian, sebuah kemewahan visual yang teramat langka bagi kami yang terbiasa bermukim di wilayah dataran Rappang.

Namun, untuk menikmati keindahan tersebut, ada harga fisik yang harus dibayar. Perjalanan dari pusat Kabupaten Sidrap menuju Desa Dengeng-Dengeng memakan waktu tempuh tak kurang dari tiga jam melintasi jalan poros. Begitu kendaraan berbelok memasuki gerbang desa, hamparan aspal mulus seketika berganti menjadi jalur berbatu, berpasir, dan diwarnai tanjakan terjal yang membutuhkan waktu tempuh ekstra sekitar satu jam perjalanan mendaki.

Jujur saja, tatkala guncangan kendaraan kian hebat meniti medan yang sulit, keraguan sempat menyergap benak kami. Pikiran untuk memutar balik kendaraan dan kembali ke zona nyaman di Rappang sempat terlintas. Akses infrastruktur jalan menuju wilayah ini memang sangat membutuhkan perhatian dan uluran tangan dari pemerintah daerah. Namun, segala keraguan dan kelelahan fisik itu sirna seketika tatkala kaki kami resmi memijak tanah Dengeng-Dengeng.

Sambutan Hangat dan Penemuan Rumah Kedua

Rasa asing dan kendala bahasa lokal yang sempat menjadi sekat di awal kedatangan perlahan melebur oleh kehangatan penerimaan warga setempat.
Rasa asing dan kendala bahasa lokal yang sempat menjadi sekat di awal kedatangan perlahan melebur oleh kehangatan penerimaan warga setempat.

Rasa asing dan kendala bahasa lokal yang sempat menjadi sekat di awal kedatangan perlahan melebur oleh kehangatan penerimaan warga setempat. Kami disambut dengan tangan terbuka dan ketulusan yang murni oleh jajaran pemerintah desa beserta masyarakatnya.

Ada satu larik kalimat yang terpatri sangat kuat dalam ingatan saya tatkala kami melangkah masuk ke kantor desa untuk bersilaturahmi. Di hadapan kami, Sekretaris Desa Dengeng-Dengeng beserta stafnya melontarkan pesan yang begitu menyejukkan: “Setiap orang baru, apalagi adik-adik mahasiswa KKN yang datang ke desa kami, tidak pernah kami anggap sebagai tamu belaka, melainkan sebagai anak dan keluarga kami sendiri.

Ungkapan sederhana itu bukan sekadar pemanis di bibir. Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi sosial bergulir dengan begitu alami. Kami yang awalnya terasing dengan bahasa dan kondisi medan perbukitan, perlahan menyadari bahwa kami tidak sedang berada di tempat pengasingan, melainkan sedang pulang ke sebuah "rumah kedua".

Pada akhirnya, memori yang tertinggal dari Desa Dengeng-Dengeng sama sekali bukan tentang betapa rusaknya akses jalan atau betapa jauhnya jarak tempuh dari pusat kota. Pengabdian ini meninggalkan jejak mendalam tentang keharmonisan, kehangatan menyapa sesama, dan kenyamanan hidup dalam kesederhanaan bersama warga desa. Di ujung timur Sidrap, di antara harum kebun cengkeh dan gemericik air terjun, kami tidak hanya belajar mengabdi, tetapi juga belajar memanusiakan manusia.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda