Ulasan

Ulasan Novel Rumah Jadah, Akibat Perjodohan Semenjak dalam Rahim

Ulasan Novel Rumah Jadah, Akibat Perjodohan Semenjak dalam Rahim
Buku Rumah Jadah (DocPribadi/Fathorrozi)

Sebagaimana telah kita ketahui Royyan Julian adalah penulis di berbagai media massa. Pada tahun 2016 ia diundang sebagai penulis emerging di Ubud Writers & Readers Festival, dan tahun 2019 menerima penghargaan sastra dari Gubernur Jawa Timur. Ia penulis beberapa buku, di antaranya Tanjung Kemarau, Biografi Tubuh Nabi, Tandak, Sepotong Rindu dari Langit Pleiades, Metofora Ricoeurian dalam Sastra, Pendosa yang Saleh, Rumah Jadah, serta buku terbarunya Madura Niskala.

Novel Rumah Jadah ini diterbitkan oleh Penerbit Basabasi Bantul, Yogyakarta, pada September 2019 lalu dengan tebal 132 halaman. Di dalamnya mengisahkan perselisihan abadi antara Marsia dan Fandrik. Novel ini dibuka dengan kisah kematian Marsia di makam Syekh Jakfar Sadik. Jenazahnya telanjang dan dari mulutnya keluar busa. Matanya terbelalak dan rambutnya acak-acakan. Jenazah Marsia ditemukan oleh seorang perempuan pencari kayu bakar di Lereng Bukit Maronggi yang dulunya adalah tempat pemukiman orang-orang Syiah. 

Warga yang mulai mengetahui kematian Marsia pun kasak-kusuk. Yang mereka ketahui Marsia adalah calon kepala desa Tanjung Mayang. Tetapi, mereka tidak tahu persoalan hidup dan peran apa yang sedang dimainkan oleh perempuan itu. Hanya ada satu kemungkinan penyebab kematian Marsia, yaitu dibunuh. Maeda, anaknya, ketika mendengar kabar bahwa ibunya tewas di Bukit Maronggi, menahan sesuatu yang ingin tumpah dari dadanya, menyumbat air mata yang hendak tercurah dari kelenjarnya. Sementara, Linggo, suami Marsia, juga menahan sesak di dadanya. Rasanya tidak elok mengerang di dusun orang lain.

Simpang siur kematian Marsia jadi bahan perbincangan warga setiap hari. Linggo merasa bersalah sebab tidak bisa mencegah kematian itu. Ia menyesal membiarkan istrinya masuk ke dalam perangkap politik desa. Ia yakin Marsia mati sebab dibunuh oleh kubu Fandrik, lawan perempuan itu di arena pemilihan kepala desa. Namun, Linggo tidak ingin istrinya diautopsi, sebab masalah itu harus diakhiri.

Dulu ibu Fandrik mengikat janji dengan ibu Marsia yang tengah mengandung. Janin yang bersemayam di rahim perempuan itu dijodohkan dengan Fandrik yang masih kanak-kanak. Dalam bayangan kedua ibu, kelak, anak-anak mereka bersatu dalam mahligai rumah tangga.

Perjanjian itu dijaga dalam ikatan kolektif dua keluarga. Mereka tidak pernah membahasnya lagi hingga Marsia dewasa, hingga Fandrik datang ingin melamarnya dan menagih perjanjian itu. Namun, Marsia menolaknya. Kemudian Marsia memilih menikah dengan Linggo, lelaki pilihannya sendiri. Maka, dari sinilah kemudian lahir konflik-konflik yang lain, seperti fitnah ilmu hitam, kemandulan, intrik politik, makhluk jadi-jadian, skandal hubungan terlarang, hingga peristiwa kematian Marsia.

Pesan yang ingin disampaikan dalam novel ini menurut saya adalah ingin mengubur kebiasaan perjodohan sejak di dalam rahim yang kerap merugikan perempuan dan tak jarang menjadikan mereka sebagai korban.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda