Ulasan
Permainan Licik di Balik Mega Proyek dalam Buku Ha Ha Ha karya Putu Wijaya
Putu Wijaya berkarya untuk melawan. Lewat cerpen-cerpen yang terhimpun dalam buku Ha Ha Ha ini, Putu Wijaya tak pernah lelah mengekspos kemelut-kemelut hangat di negeri ini. Ia juga kerap menyentil keganjilan yang terjadi pada tahun 1965 itu.
Cerpen-cerpen di dalam buku terbitan Basabasi ini, sebagian besar belum pernah dipublikasikan di media massa, dan termasuk cerpen yang baru ia tulis di usia tuanya. Tak jarang ia juga memasukkan kalimat-kalimat obrolan kaum muda masa kini, juga menyebut istilah-istilah yang tengah membumi saat ini.
"Saya suka histori, karena dalam sejarah citra tersingkap. Apa salahnya kita membangun citra. Ini mega proyek yang nanti memberikan lapangan kerja bagi masyarakat. Jadi office boy, kurir, sopir, ojek, satpam, tukang parkir Gojek, Grab, dan lain sebagainya." (Halaman 7).
Dalam percakapan Nyonya Baron dan Pak Amat yang menyebutkan istilah Gojek dan Grab ini, pertanda Putu Wijaya terus mengikuti arus perkembangan zaman, termasuk perkembangan sebuah perusahaan teknologi yang melayani angkutan melalui jasa ojek.
Tirani yang hendak ditaklukkan oleh Putu Wijaya pada judul pertama dalam buku ini adalah ingin menguak tipu daya terselubung pemilik mega proyek. Mega proyek itu bernama Mega Proyek Baron, milik Nyonya Baron.
Pada suatu malam Nyonya Baron mengundang Pak Amat. Suami Bu Amat ini dipercaya oleh warga untuk menjembatani suara mereka untuk menolak pembangunan mega proyek milik Nyonya Baron.
Sesampainya di rumah Nyonya Baron, ia diperdengarkan suara provokator yang menentang pembangunan Mega Proyek Baron.
"Saudara-saudara sekalian, pembangunan tidak semuanya berarti membangun kehidupan yang lebih baik buat kita semua. Ada pembangunan yang pada dasarnya mau merusak, karena tujuannya hanya untuk melipatgandakan kekayaan orang-orang tertentu."
"Mega Proyek Baron adalah proyek yang akan menghancurkan hunian kita yang asri ini. Dengan dalih memperbaiki kualitas hidup warga, membuka lapangan kerja baru, Baron memecah kita. Tujuan akhirnya ingin merebut hunian kita ini dan mendepak kita semua pergi." (Halaman 6).
Warga tidak setuju dengan maksud pembangunan Mega Proyek Baron di wilayah mereka. Meski diiming-imingi lapangan kerja baru bagi warga sekitar. Mereka tetap bertahan untuk menolak.
Kepada Pak Amat, Nyonya Baron menyampaikan rencana beberapa pembangunan di atas tanah yang telah ia beli itu. Ia akan membangun apartemen, hotel, pusat perbelanjaan, lapangan golf, pertokoan, kolam renang, bioskop, tempat fitness, pantai buatan dan rumah salju buatan.
Namun, saat Nyonya Baron pulang ke rumah ibunya di kampung halaman selama satu malam, rumah baru Nyonya Baron yang berada di area mega proyek itu dibakar oleh warga. Anehnya, Nyonya Baron santai menanggapi. Ia katakan kepada Pak Amat bahwa semuanya berjalan sesuai skenario. Rumah Nyonya Baron dan segala isinya diasuransikan total. Pihak asuransi akan memberikannya kompensasi seratus miliar.
Ketika Nyonya Baron pindah ke lokasi mega proyek yang baru, tampak ia terlihat sibuk melatih provokator untuk menghasut warga.
Inilah ulasan mengenai buku Ha Ha Ha. Sebagaimana buku-buku Putu Wijaya yang lain, seperti Plot, Yel-Yel, dan lain-lain, tidak saya temukan cerita pendek dengan judul Ha Ha Ha dalam buku ini.
Sembilan cerpen dalam buku setebal 344 halaman ini berjudul Trik, Zera, Jreng, Tut, Jprut, G30S, Sniper, PRT, dan Eng Ing Eng. Selamat membaca!
Identitas Buku
Judul: Ha Ha Ha
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Basabasi
Cetakan: I, Desember 2018
Tebal: 344 Halaman
ISBN: 978-602-5783-62-3