Dongeng untuk Raka karya Armaraher menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan emosi dan makna psikologis yang dalam.
Novel ini mengangkat hubungan kakak dan adik, tentang tanggung jawab, rasa bersalah, penyangkalan, dan cara seseorang bertahan dari kenyataan yang menyakitkan.
Cerita berpusat pada Damar dan adiknya, Raka. Sejak kepergian orang tua mereka, Damar memikul tanggung jawab besar untuk merawat Raka.
Ia mencurahkan kasih sayang dan perhatian sepenuh hati. Namun seiring waktu, Raka tumbuh menjadi anak yang sering membuat masalah. Kenakalannya kian menjadi, bahkan membuat orang-orang di sekitar mereka merasa resah.
“Bunda malu sama kelakuan lo.”
Kalimat itu menjadi titik emosi ketika Damar meluapkan kekecewaannya. Ia merasa gagal sebagai kakak sekaligus pengganti orang tua.
Anehnya, Raka selalu menyangkal tudingan terhadapnya. Ia membela diri, seolah-olah tidak pernah berbuat salah. Penolakan itu membuat Damar frustrasi dan kelelahan secara batin.
Dalam kebingungannya, Damar meminta saran kepada sahabatnya. Ia disarankan untuk mencoba pendekatan berbeda: menceritakan sebuah dongeng kepada Raka.
Dongeng itu dimaksudkan sebagai cara halus untuk menyentuh hati sang adik. Namun tanpa disadari, cerita yang ia bangun justru menjerat dirinya sendiri dalam dunia khayalan.
Perlahan, batas antara dongeng dan kenyataan menjadi kabur. Damar terlena dalam narasi yang ia ciptakan, sebuah pelarian dari kenyataan yang sebenarnya sedang ia hindari.
Pertanyaannya, apakah Damar mampu tersadar dan menerima kebenaran yang ia lupakan?
Salah satu keunikan Dongeng Untuk Raka terletak pada penggunaan dongeng sebagai metafora psikologis.
Dongeng di sini bukan sekadar cerita pengantar tidur, melainkan simbol mekanisme pertahanan diri.
Armaraher dengan cerdas memanfaatkan elemen naratif ini untuk menunjukkan bagaimana manusia kerap menciptakan cerita demi melindungi diri dari luka batin.
Selain itu, novel ini tidak berjalan dengan alur yang sepenuhnya linear.
Pembaca diajak masuk ke dalam pikiran Damar, merasakan kebingungan, rasa bersalah, dan penyangkalan yang perlahan terkuak.
Ada nuansa misteri psikologis yang membuat pembaca bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi? Mana yang nyata dan mana yang hanya bagian dari imajinasi?
Hubungan kakak-adik yang diangkat juga terasa kuat dan emosional. Konflik yang dihadirkan bukan konflik besar penuh aksi, melainkan konflik batin yang sunyi, tetapi menghantam keras.
Armaraher menggunakan gaya bahasa yang sederhana namun emosional.
Dialog-dialognya terasa natural, tidak berlebihan, tetapi cukup kuat untuk menggambarkan tekanan batin para tokohnya.
Narasinya cenderung reflektif, dengan sentuhan puitis di beberapa bagian.
Penggunaan sudut pandang yang dekat dengan tokoh utama membuat pembaca ikut larut dalam perasaan Damar.
Ada suasana sendu dan melankolis yang konsisten sepanjang cerita. Penulis tidak terburu-buru membongkar inti konflik, melainkan membangun atmosfer perlahan hingga klimaks terasa lebih mengguncang.
Novel ini menyampaikan pesan mendalam tentang tanggung jawab dan penerimaan.
Kadang, niat baik dan kasih sayang saja tidak cukup jika kita menolak melihat kenyataan. Damar mencintai Raka, tetapi ia juga terjebak dalam ekspektasi dan bayang-bayang masa lalu.
Pesan lain yang terasa kuat adalah tentang pentingnya berdamai dengan luka batin. Menghindar dari kenyataan hanya akan memperpanjang rasa sakit.
Dongeng yang diciptakan Damar menjadi simbol pelarian, dan pada akhirnya, setiap orang harus memilih: terus hidup dalam cerita yang menenangkan, atau menghadapi kenyataan yang menyakitkan demi penyembuhan.
Novel ini juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan luka. Kenakalan bisa jadi adalah bentuk teriakan yang tak terdengar.