Buku Berburu Rente: Kajian Kritis Subsidi Pupuk di Indonesia karya Eka Sastra merupakan tulisan serius yang membedah persoalan klasik namun tak pernah benar-benar selesai. Subsidi pupuk dan ketidakadilan struktural yang menjerat petani kecil di Indonesia.
Buku ini bukan sekadar opini, melainkan hasil riset ilmiah berbasis disertasi doktoral, lengkap dengan data kuantitatif, analisis ekonomi-politik, serta kajian kelembagaan yang sistematis.
Isi Buku
Sejak lama, subsidi pupuk diklaim sebagai bentuk kehadiran negara untuk menyejahterakan petani. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Subsidi justru menjadi ladang perburuan rente alias praktik perebutan keuntungan ekonomi melalui celah regulasi, yang dilakukan oleh aktor-aktor kuat dalam rantai distribusi.
Petani kecil, yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama, justru menjadi kelompok paling dirugikan. Mereka terjepit antara harga pupuk yang melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi), distribusi yang tidak merata, serta akses yang timpang terhadap pupuk bersubsidi.
Secara konseptual, istilah rent-seeking pertama kali diperkenalkan oleh Gordon Tullock (1967) dan dikembangkan oleh Anne O. Krueger. Dalam buku ini, Eka Sastra menggunakan definisi dari ekonom Indonesia Ahmad Erani Yustika (2013): “Perburuan rente adalah upaya individual atau kelompok untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan regulasi pemerintah.”
Definisi ini menjadi fondasi teoritik dalam membaca praktik subsidi pupuk sebagai arena ekonomi-politik, bukan sekadar persoalan teknis distribusi.
Buku ini mengurai praktik rente dari hulu hingga hilir. Mulai dari perencanaan kebijakan, produksi, distribusi, hingga penjualan di tingkat kios. Struktur kelembagaan yang kompleks menciptakan dua harga: subsidi dan non-subsidi.
Yang paling diuntungkan adalah korporasi besar, distributor, kios, dan petani bermodal kuat. Sebaliknya, petani kecil dan negara justru menanggung kerugian sistemik. Salah satu aktor penting dalam struktur ini adalah PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) beserta jejaring distribusinya.
Berdasarkan analisis biaya transaksi, buku ini menunjukkan bahwa kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar. Pada periode 2017–2020, potensi biaya transaksi di level perusahaan diperkirakan mencapai Rp20,4 triliun, sementara pada 2021 sekitar Rp3,4 triliun.
Biaya ini secara langsung berdampak pada harga pupuk yang harus dibayar petani, yang sering kali melebihi HET. Ini menegaskan bahwa subsidi tidak sepenuhnya “sampai ke tangan petani”, melainkan bocor di sepanjang rantai distribusi akibat struktur kelembagaan yang tidak efisien.
Dari sisi makroekonomi, buku ini juga menggunakan analisis ICOR (Incremental Capital Output Ratio) untuk membaca efisiensi investasi sektor tanaman pangan. Data menunjukkan bahwa periode 2016–2020 memiliki nilai ICOR lebih tinggi dibandingkan 2011–2015, yang berarti investasi sektor pertanian menjadi kurang efisien.
Ironisnya, sektor tanaman pangan sebenarnya memiliki multiplier effect besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi justru terhambat oleh kebijakan yang sarat rente dan inefisiensi.
Kelebihan dan Kekurangan
Keunggulan buku ini terletak pada kedalaman risetnya. Penelitian dilakukan di banyak wilayah, menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, serta memadukan analisis ekonomi, politik, dan kelembagaan. Ini menjadikannya salah satu studi paling komprehensif tentang pupuk bersubsidi di Indonesia.
Tak berhenti pada kritik, Eka Sastra juga menawarkan rekomendasi kebijakan. Di antaranya: evaluasi total mekanisme subsidi pupuk, penyederhanaan hierarki kelembagaan, pengurangan monopoli melalui sistem persaingan yang terkontrol, serta penetapan harga gas bahan baku pupuk berdasarkan harga dunia untuk menekan beban subsidi negara.
Tujuannya jelas: mengembalikan subsidi sebagai instrumen kesejahteraan, bukan sebagai ladang rente.
Latar belakang penulis memperkuat kredibilitas buku ini. Eka Sastra merupakan lulusan Universitas Hasanuddin, Universitas Indonesia, dan Institut Pertanian Bogor. Ia juga pernah menjabat sebagai staf khusus Bidang Ekonomi Menteri Investasi/BKPM dan Komisaris Independen di PT Pupuk Kaltim Tbk, yang membuat perspektifnya berada di persimpangan antara akademik, kebijakan, dan praktik industri.
Pada akhirnya, Berburu Rente bukan hanya buku ekonomi, tetapi buku keberpihakan. Ia mengajukan satu pertanyaan besar: jika petani adalah pahlawan pangan negeri ini, sudahkah negara benar-benar hadir untuk memuliakan mereka?
Buku ini menjawabnya dengan jujur, keras, dan berbasis data. Bahwa selama rente masih berkuasa, keadilan bagi petani masih sebatas jargon kebijakan.
Identitas Buku
- Judul: Berburu Rente (Kajian Kritis Subsidi Pupuk di Indonesia)
- Penulis: Eka Sastra
- Penerbit: Expose Publika
- Tahun Terbit: 2023
- ISBN: 978-602-7829-70-1
- Tebal: 452 Halaman
- Kategori: Bisnis & Ekonomi