Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan

M. Reza Sulaiman | chou jiyya
Review Novel Di Tanah Lada Ziggy Z: Luka di Balik Kepolosan
Novel Di Tanah Lada (dok pribadi/choujiyya)

Pernahkah kalian membayangkan seorang anak kecil kabur dari rumah? Mungkin untuk bermain, mungkin karena kesal pada orang tua. Itu terdengar biasa. Namun, bagaimana jika seorang anak berusia enam dan sepuluh tahun pergi ke stasiun dan merencanakan perjalanan menyeberangi pulau tanpa pendamping orang dewasa? Kisah ini bukan sekadar imajinasi. Itulah gambaran yang dihadirkan dalam novel Di Tanah Lada karya Ziggy Z.

Tokoh utamanya adalah Salva yang akrab dipanggil Ava, anak perempuan berusia enam tahun yang terpaksa pindah ke Rusun Nero bersama kedua orang tuanya. Perpindahan itu bukan tanpa alasan. Ayahnya kecanduan judi dan kerap menghabiskan waktu di mesin kasino hingga melupakan keluarganya sendiri. Amarah sang ayah kerap berubah menjadi kekerasan fisik, bukan hanya kepada istrinya, melainkan juga kepada Ava. Bahkan, pernah suatu kali Ava harus tidur di kamar mandi demi menghindari amukan ayahnya. Jika dulu di rumahnya ia masih memiliki kamar pribadi untuk berlindung, di Rusun Nero yang lembap dan jauh dari kata layak, ruang aman itu tidak ada lagi.

Perlu kamu tahu bahwa Ava adalah anak yang cerdas dan gemar membaca, terutama membaca kamus bahasa Indonesia, hadiah terakhir dari kakeknya, Kakek Kia, yang telah pergi meninggalkan Ava dan dunianya. Kegemaran Ava dalam membaca bukan sekadar hobi, melainkan cara memahami dunia yang terasa membingungkan dan kerap kali menyakitkan. Ia mengerti arti setiap kata kasar yang dilontarkan ayahnya, meskipun sesekali tetap bertanya pada ibunya untuk memastikan maknanya. Di sisi lain, sang ibu berusaha bertahan dan memperjuangkan keselamatan dirinya serta anaknya dari kekerasan yang terus terjadi.

Di Rusun Nero pula Ava bertemu dengan P. Ya, kamu tidak salah membacanya, nama teman main Ava itu ialah P., anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang sudah terlalu akrab dengan kerasnya hidup. P. tinggal bersama seseorang yang tidak benar-benar ia kenal dekat, tetapi tetap ia anggap sebagai keluarga. Terbiasa melakukan banyak hal sendiri, P. memahami cara bertahan dan melindungi diri. Ia juga menyimpan luka yang tidak seharusnya dialami anak seusianya.

"Kok, Papa kamu suka pukul, sih? Pakai setrikaan, lagi," tanyaku. "Papa aku juga jahat. Tapi nggak pakai setrikaan pukulnya."

"Soalnya, Papa nggak sayang aku."

"Tapi, Papa juga nggak sayang aku. Pukulnya tetap pakai tangan, kok."

Pertemuan Ava dan P. menjadi titik balik dalam cerita. Percakapan sederhana mereka tentang kekerasan yang dilakukan orang tua masing-masing terasa begitu mengiris. Kalimat-kalimat polos yang keluar dari mulut anak enam dan sepuluh tahun justru memperlihatkan realitas yang brutal. Tidak ada dramatisasi berlebihan, hanya kepolosan yang bertabrakan dengan kenyataan pahit.

Melalui sudut pandang anak-anak, Ziggy Z. berhasil menghadirkan kisah yang getir tanpa kehilangan sentuhan lirisnya. Perjalanan Ava dan P. saat berusaha mencari rumah nenek Ava menjadi simbol harapan, sebuah upaya melarikan diri dari lingkaran kekerasan dan mencari tempat yang lebih aman. Narasi yang dibangun terasa intim, seolah-olah pembaca diajak masuk ke dalam pikiran dan perasaan mereka yang rapuh namun tetap menyimpan keberanian.

Di Tanah Lada bukan sekadar cerita tentang anak-anak yang kabur dari rumah. Novel ini adalah potret tentang trauma, ketahanan, dan persahabatan yang lahir dari luka. Buku ini menyadarkan bahwa di balik kepolosan masa kecil, bisa saja tersembunyi perjuangan yang berat dan sunyi. Membacanya menghadirkan perasaan campur aduk, marah, sedih, iba, sekaligus kagum pada kekuatan kecil yang dimiliki Ava dan P.

Pada akhirnya, Di Tanah Lada meninggalkan kesan mendalam tentang pentingnya ruang aman bagi anak-anak dan bahaya kekerasan yang sering kali tersembunyi di balik dinding rumah. Novel ini mengajak pembaca untuk tidak memandang remeh suara anak-anak karena dari kepolosan merekalah kebenaran sering kali terdengar paling jujur. Sebuah karya yang tidak hanya layak dibaca, tetapi juga direnungkan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak