Ulasan

Review Film Senin Harga Naik: Emosi Mengalir Alami Tanpa Drama Berlebih

Review Film Senin Harga Naik: Emosi Mengalir Alami Tanpa Drama Berlebih
Poster film Senin Harga Naik (IMDb)

Film Senin Harga Naik karya sutradara Dinna Jasanti resmi tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026. Diproduksi Starvision dan Legacy Pictures, film drama-komedi keluarga berdurasi 116 menit ini hadir tepat waktu menyambut Lebaran 2026.

Dengan tagline “Sebuah Film Karya Dinna Jasanti”, film ini langsung menjadi salah satu tontonan wajib Lebaran karena mengusung tema yang sangat dekat dengan realitas keluarga Indonesia: konflik ibu-anak, ambisi karier, ego, dan kekuatan maaf-memaafkan.

Di Balik Aroma Roti Hangat, Ada Luka yang Belum Sembuh

Tangkapan layar adegan yang ada di film Senin Harga Naik (instagram/filmseninharganaik)
Tangkapan layar adegan yang ada di film Senin Harga Naik (instagram/filmseninharganaik)

Mutia (Nadya Arina), gadis muda ambisius yang bekerja di perusahaan properti, pernah bertengkar hebat dengan ibunya, Bu Retno (Meriam Bellina). Pertengkaran itu membuat Mutia meninggalkan rumah untuk membuktikan bahwa ia bisa sukses sendiri.

Tiga tahun berlalu. Karier Mutia sedang menanjak, tapi promosi yang ia incar justru mengharuskan ia mengurus proyek penggusuran sebuah toko roti legendaris bernama Mercusuar—milik ibunya sendiri.

Tidak ada pilihan lain, Mutia pulang ke rumah. Bersama kakaknya Amal (Andri Mashadi) dan adiknya Tasya (Nayla Purnama), ia berusaha melunakkan hati Bu Retno agar mau menjual toko tersebut.

Namun, semakin mereka berusaha, semakin terbuka luka lama, kenangan pengorbanan, dan pertanyaan besar: apa arti rumah dan keluarga sebenarnya?

Review Film Senin Harga Naik

Tangkapan layar adegan yang ada di film Senin Harga Naik (instagram/filmseninharganaik)
Tangkapan layar adegan yang ada di film Senin Harga Naik (instagram/filmseninharganaik)

Meriam Bellina adalah jiwa di film ini. Ia menghilangkan total image ibu tiri jahat yang melekat padanya selama puluhan tahun. Bu Retno yang ia perankan adalah single mother tegas, protektif, tapi penuh cinta yang tak pernah diucapkan dengan kata-kata manis. Ekspresi matanya saat marah, saat diam-diam menangis di dapur, atau saat akhirnya melunak—semua terasa nyata.

Nadya Arina sebagai Mutia juga luar biasa. Ia berhasil menyampaikan perjuangan batin antara rasa bersalah dan ambisi tanpa terasa berlebihan. Chemistry keduanya di layar begitu kuat hingga aku merasa ikut terlibat dalam pertengkaran keluarga itu.

Andri Mashadi dan Nayla Purnama memberi keseimbangan yang pas sebagai kakak-beradik. Mereka membawa komedi ringan yang menghibur tanpa mengganggu emosi utama. Pendukung seperti Aci Resti, Arif Alfiansyah, Brandon Salim, Hamish Daud, dan Rianti Cartwright (sebagai Retno muda) semakin memperkaya dunia film ini. Rianti Cartwright mirip sekali dengan Meriam Bellina—pemilihan casting yang brilian.

Judul Senin Harga Naik bukan sekadar soal fluktuasi harga tanah atau apartemen. Senin di sini adalah metafor hari penentu: setelah akhir pekan penuh kontemplasi, Senin adalah hari kita memutuskan mau jadi apa.

Sutradara Dinna Jasanti dan penulis Rino Sarjono pintar sekali membangun simbolisme toko roti Mercusuar beserta mercusuar kecil di sampingnya. Toko itu bukan hanya tempat usaha, tapi rumah, kenangan, dan penunjuk jalan bagi keluarga ini.

Film ini berbicara tentang dua bahasa cinta yang berbeda: ibu menunjukkan cinta lewat masakan di meja dan pengorbanan diam-diam, sementara anak zaman sekarang merasa cukup dengan transfer uang atau chat “Kamu sudah makan belum?”. Konflik kecil itu sering meledak menjadi luka besar. Tapi film tak pernah menggurui kok. Ia hanya menunjukkan, lalu membiarkan penonton merenung sendiri.

Kelebihan terbesar adalah emosi yang mengalir alami. Adegan sedih tidak dibuat menye-menye dengan musik dramatis berlebihan atau air mata berderai-derai. Penonton yang ada di bioskop termasuk aku menangis karena situasinya yang sangat membumi—bukan karena akting yang dipaksakan.

Humornya segar, meski beberapa lelucon awal agak cringe dan terasa dipaksakan. Ritme cerita di tengah memang agak lambat, tapi itu justru memberi ruang buatku untuk benar-benar masuk ke dalam kehidupan keluarga Bu Retno.

Visual rumah dan toko roti dirancang sangat detail. Foto-foto keluarga di dinding, perabotan lama, bahkan bau roti yang seolah tercium dari layar—semua membuat dunia film ini hidup.

Senin Harga Naik adalah film terbaik tahun ini. Dengan rating pribadi dariku: 8.7/10, film ini layak disebut kuda hitam yang bisa menembus box office. Bukan hanya hiburan, tapi juga peluk hangat yang mengingatkan kita untuk menelepon orang tua, memeluk mereka, dan memaafkan sebelum terlambat.

Tontonlah bersama keluarga di bioskop. Siapkan tisu banyak-banyak, karena air mata akan datang tanpa diundang. Film ini tayang mulai 18 Maret 2026 di seluruh jaringan bioskop Indonesia (CGV, XXI, Cinepolis, dll).

Jangan lewatkan. Karena di tengah hiruk-pikuk Lebaran yang penuh mudik dan belanja, kadang yang paling berharga adalah pulang ke rumah—baik secara fisik maupun hati.

Nikmati film ini, dan semoga Seninmu juga harganya bisa naik—naik dalam arti kasih sayang dan kedewasaanya nih. Anyway. Selamat menonton ya Sobat Yoursay!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda