Ulasan

Film Do Deewane Seher Mein: Siddhant dan Mrunal Hadirkan Chemistry Hangat

Film Do Deewane Seher Mein: Siddhant dan Mrunal Hadirkan Chemistry Hangat
Poster film Do Deewane Seher Mein (IMDb)

Do Deewane Seher Mein adalah film drama romantis Bollywood yang menyentuh hati dengan tema self-acceptance dan cinta yang tak sempurna. Dirilis secara teatrikal pada 20 Februari 2026, film produksi Zee Studios dan Bhansali Productions ini disutradarai oleh Ravi Udyawar.

Dibintangi Siddhant Chaturvedi dan Mrunal Thakur sebagai pasangan utama, film berdurasi 137 menit ini mengusung cerita sederhana namun relatable tentang dua milenial canggung di Mumbai yang berjuang melawan insecurity mereka masing-masing. Dengan budget sekitar 30-50 crore, film ini sayangnya menjadi flop di box office, hanya meraup sekitar 9,63 crore secara global. Meski demikian, kekuatan akting para pemainnya membuat film ini layak ditonton bagi penggemar romansa ringan yang ingin melihat representasi cinta modern tanpa drama berlebih.

Pertemuan Tak Terduga Lewat Jodoh yang Dijodohkan

Salah satu adegan di film Do Deewane Seher Mein (Instagram/moctale.in)
Salah satu adegan di film Do Deewane Seher Mein (Instagram/moctale.in)

Sinopsis cerita berfokus pada Shashank Sharma (Siddhant Chaturvedi), seorang profesional muda dari keluarga kaya di Patna yang bekerja di bidang marketing di Mumbai. Ia memiliki gangguan bicara ringan: tidak bisa mengucapkan huruf sh dengan benar, sehingga namanya sendiri terdengar seperti Sasank. Insecurity ini membuatnya kesulitan menghadapi presentasi dan interaksi sosial.

Di sisi lain, Roshni Srivastava (Mrunal Thakur) adalah content creator di majalah fashion yang selalu merasa tidak percaya diri dengan penampilannya—kulit sawo matang, bentuk hidung, dan tubuhnya yang tak ideal menurut standar masyarakat. Roshni kerap menolaknya proposal perjodohan karena merasa tak layak. Kedua karakter ini akhirnya dipertemukan oleh orang tua mereka melalui perjodohan tradisional. Awalnya dingin, hubungan mereka berkembang perlahan saat mereka saling membuka diri tentang kelemahan masing-masing.

Perjalanan cinta mereka membawa dari kekacauan Kota Mumbai ke ketenangan pegunungan, di mana mereka belajar menerima diri sendiri dan pasangan. Tanpa mengungkap spoiler, film ini menekankan bagaimana cinta sejati datang dari penerimaan imperfection, bukan kesempurnaan fisik atau sosial.

Review Film Do Deewane Seher Mein

Salah satu adegan di film Do Deewane Seher Mein (Instagram/moctale.in)
Salah satu adegan di film Do Deewane Seher Mein (Instagram/moctale.in)

Akting Siddhant Chaturvedi menjadi sorotan utama. Ia berhasil menyampaikan kerapuhan Shashank dengan natural, terutama saat menggambarkan momen-momen awkward dalam bicara dan kepercayaan diri yang rapuh. Siddhant tidak berlebihan, membuat karakter ini terasa autentik sebagai anak muda milenial yang tertekan ekspektasi keluarga.

Mrunal Thakur pun tak kalah memukau sebagai Roshni. Ekspresi wajahnya yang penuh keraguan dan senyum malu-malu saat mulai jatuh cinta berhasil menyentuh penonton. Chemistry keduanya terasa hangat dan perlahan membara, meski bukan tipe romansa api membara seperti film Bhansali klasik. Supporting cast seperti Ila Arun (nenek bijak), Joy Sengupta (ayah Roshni), dan Ayesha Raza Mishra (ibu Roshni yang cerewet) menambah warna komedi ringan serta konflik keluarga yang relatable. Mereka tidak hanya pelengkap, tapi turut memperkuat tema penerimaan diri di tengah tekanan orang tua dan masyarakat.

Secara teknis, sinematografi film ini memukau dengan nuansa Kota Mumbai yang hidup dan transisi ke alam pegunungan yang tenang. Warna-warna lembut dan pencahayaan natural membuat adegan romantis terasa intimate. Namun, soundtrack-nya kurang memorable; lagu-lagu tidak sekuat produksi Bhansali sebelumnya, sehingga emosi kadang terasa datar.

Sutradara Ravi Udyawar memilih pendekatan sederhana, menghindari melodrama berlebih, tapi justru membuat konflik terasa agak flimsy dan plodding di paruh tengah. Beberapa kritik menyebut dialog dipotong oleh sensor CBFC, membuat adegan sensitif tentang body positivity kurang tajam. Meski begitu, film ini berhasil menyampaikan pesan inklusivitas di industri fashion dan pentingnya menghadapi ketakutan pribadi, seperti presentasi kerja atau melepas kacamata sebagai simbol penerimaan diri.

Tema utama Do Deewane Seher Mein adalah cinta dua jiwa canggung di kota besar. Film ini mengkritik standar kecantikan masyarakat India modern, tekanan perjodohan, dan bagaimana millennial berjuang menemukan self-love di era media sosial. Pesannya sederhana tapi kuat: imperfection adalah bagian dari cinta sejati.

Shashank dan Roshni saling menyembuhkan, bukan melalui kata-kata bombastis, melainkan melalui tindakan kecil dan dukungan harian. Ini membuat film terasa fresh di tengah romansa Bollywood yang sering penuh glamor berlebih. Akan tetapi, kekurangannya adalah kurangnya deewanapan atau gairah gila-gilaan; konflik mudah diselesaikan, dan pacing lambat membuatnya lebih cocok untuk ditonton di OTT daripada bioskop besar.

Di Indonesia, film ini tayang di bioskop mulai 20 Februari 2026, tepat bertepatan dengan rilis globalnya. Jadwalnya tersedia di jaringan besar seperti XXI, Cinepolis, CGV, Platinum Cineplex, dan Cinema 21 di berbagai kota termasuk Jakarta, Surabaya, Bandung, dan daerah lain seperti Solo atau Sidoarjo. Hingga Maret 2026, film masih diputar di beberapa lokasi meski tidak sepadat film blockbuster lain. Tiket dibanderol mulai Rp 75.000, dengan subtitle Indonesia yang membantu penonton lokal menikmati dialog Hindi. Kehadirannya di bioskop Tanah Air menunjukkan distribusi internasional yang cukup luas untuk film romansa India, meski box office domestiknya kurang menggembirakan.

Secara keseluruhan, Do Deewane Seher Mein adalah film feel-good yang manis dan jujur tentang cinta imperfect. Ia tidak revolusioner atau meninggalkan legacy mendalam, tapi berhasil menghibur dengan akting solid dan pesan positif. Bagi yang mencari romansa ringan tanpa kekerasan atau aksi, film ini layak ditonton—terutama pasangan yang ingin merenungkan penerimaan diri. Rating dariku 7/10: bagus untuk hiburan akhir pekan, tapi kurang berdampak. Kalau Anda penggemar Siddhant dan Mrunal, jangan lewatkan! Film ini mengingatkan kita bahwa di tengah kesibukan kota, dua jiwa deewane (gila) bisa menemukan kedamaian bersama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda