Ulasan

Lebih dari Novel Anak, Na Willa Syarat akan Isu Sosial yang Berat

Lebih dari Novel Anak, Na Willa Syarat akan Isu Sosial yang Berat
Sampul Depan Novel Na Willa Seri Pertama (POST Press)

Siapa bilang novel hanya diperuntukkan untuk remaja dan orang dewasa saja? Nyatanya penulis dari berbagai negara telah menghasilkan banyak novel yang khusus diperuntukkan untuk usia anak, sebut saja Roald Dahl dengan karyanya Charlie and The Chocolate Factory, Dr. Seuss dengan The Lorax, Tetsuko Kuroyanagi dengan Totto-Chan, Antoine De Saint-Exupéry dengan The Little Prince, ataupun Reda Gaudiamo dengan Na Willa

Karyanya yang berjudul Na Willa ini turut meramaikan genre karya sastra berupa novel anak di Indonesia. Walau terbit pertama kali di tahun 2012, novel anak tersebut masih populer di kalangan pembaca Indonesia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Bahkan belakangan ini, Na Willa tengah menjadi perbincangan hangat karena akan dilakukan ekranisasi menjadi sebuah film yang akan tayang dalam waktu dekat.

Na Willa (2012) menceritakan keseharian dari seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Na Willa atau sering disapa Willa bersama dengan Mak (ibu Willa) dan kawan-kawannya. Secara keseluruhan, novel ini dibagi menjadi beberapa bab untuk mengisahkan keseharian Willa yang beragam, mulai dari bermain, sekolah, makan, ataupun saat ia sibuk menjalankan rasa penasarannya hingga menimbulkan kekacauan kecil. 

Sesuai dengan peruntukkan usia bagi anak-anak, Na Willa ditulis dan dikemas oleh Reda dengan bahasa, alur, dan plot yang ringan sehingga anak-anak pun tidak akan merasa mudah jenuh ketika membacanya. Keseharian Willa yang turut menjadi kisah utama dalam novel ini juga membangkitkan realita yang memang berkorelasi dengan kehidupan anak-anak pada umumnya.

Salah satu realita tersebut digambarkan saat Willa dan sahabatnya, Ida bermain masak-masakan dengan bunga sepatu, bata merah, pasir, dan tanah sebagai bahan masakan. Atau ketika Willa yang memilih menangis saat Mak melarangnya untuk bermain di rel kereta karena berbahaya. Plot-plot tersebut yang menghubungkan fiksi dengan realita yang ada pada masa kanak-kanak. Bahkan, bagi orang dewasa, membaca Na Willa itu layaknya membuka kenangan lama serta media untuk mewakili berbagai isu yang terjadi di kehidupan sosial. 

Isu Sosial yang Sebenarnya Berat

Walau dikategorikan sebagai novel anak, bukan berarti orang dewasa tidak diperkenankan untuk membaca Na Willa. Tentunya akan ada perbedaan pengambilan intisari cerita saat dibaca oleh orang dewasa. Hal ini pula yang terjadi saat saya membaca Na Willa dan merasakan bahwa novel karya Reda Gaudiamo ini syarat akan permasalahan sosial di dalamnya. 

Hal ini cukup tergambarkan pada ras yang dimiliki oleh Willa sendiri, Pak (ayah) dari Willa digambarkan sebagai orang dewasa yang berasal dari ras Tionghoa, sedangkan Mak (ibu) bukan berasal dari ras yang sama. Adanya perbedaan ras ini juga yang membuat Willa bertanya-tanya mengenai penampilan fisiknya yang tidak seperti sang ayah. Namun di satu sisi, Willa juga kerap kali mendapatkan ejekan dari teman sebayanya mengenai ras Tionghoa atau Cina-nya sekali pun penampilan sang ayah tidak menurun di dalam dirinya.

Di dalam novel, mungkin ejekan tersebut digambarkan dengan halus. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih dalam ejekan tersebut secara langsung menunjukkan bahwa Willa telah mengalami kekerasan rasial secara verbal dan fisik. Malangnya, status Willa yang masih anak-anak hanya membuat dirinya bertanya kepada Mak mengapa ini dan itu bisa terjadi. Hanya sekali digambarkan Willa berhasil menuruti emosinya saat ia mendapatkan ejekan yang sama oleh temannya yang lain. 

Selain isu rasial, Na Willa juga turut mengangkat permasalahan gender, terutama ketika seorang perempuan dibatasi kuasa dan haknya. Permasalahan tersebut terjadi ketika Willa dan temannya menyaksikan langsung kakak dari temannya tersebut menangis tersedu-sedu karena esok statusnya akan menjadi seorang istri dan tidak bisa bermain sepeda sepuasnya seperti dahulu. Bahkan, dalam lampiran visual (ilustrasi), pembaca dewasa bisa langsung mengetahui isu berat apa yang ingin disampaikan pengarang di dalam novel anaknya tersebut.

Mungkin bagi anak-anak, Na Willa merupakan bahan bacaan yang dapat menghibur, meningkatkan imajinasi, serta membantu kemampuan membaca mereka. Namun, bagi mereka yang dewasa, Na Willa lebih dari sekadar novel anak. Sekali lagi, Na Willa telah menjadi media untuk mengungkapkan realitanya. Saya rasa Reda Gaudiamo jenius untuk melakukan hal tersebut, terlebih melalui novel anak. Aneh rasanya jika tidak diberi bintang lima. 

Sobat Yoursay, adakah yang sudah membaca novel anak ini? Kalau belum, jangan lupa meluangkan waktu untuk membaca Na Willa dan siap-siap merasakan realita di dalamnya. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda