Ulasan

Ulasan Novel 86, Membedah Akar Budaya Korupsi dalam Birokrasi

Ulasan Novel 86, Membedah Akar Budaya Korupsi dalam Birokrasi
Novel 86 (goodreads.com)

Judul novel ini, "86" diambil dari sandi kepolisian yang populer di Indonesia untuk menyatakan bahwa sebuah urusan telah "beres," "aman," atau "dimengerti." Namun, dalam konteks sosial, angka ini sering kali menjadi eufemisme bagi praktik suap-menyuap dan penyelesaian perkara di bawah meja.

Okky Madasari, dengan gaya penulisannya yang lugas dan tanpa pretensi, membongkar bagaimana sistem birokrasi kita tidak hanya membiarkan korupsi tumbuh, tetapi justru memaksa orang-orang di dalamnya untuk ikut menjadi bagian dari mesin tersebut.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Arimbi, seorang perempuan sederhana yang bekerja sebagai juru ketik di sebuah pengadilan negeri. Arimbi bukanlah sosok penjahat besar atau otak kriminal, ia adalah representasi dari rakyat jelata yang memiliki impian sederhana, hidup mapan, memiliki barang-barang bagus, dan membahagiakan orang tuanya di desa.

Awalnya, Arimbi adalah pegawai yang lurus. Namun, lingkungan kerjanya adalah ekosistem yang sudah terkontaminasi. Di pengadilan, keadilan adalah barang dagangan. Arimbi melihat bagaimana para hakim, jaksa, pengacara, hingga pegawai rendah seperti dirinya terlibat dalam rantai "uang administrasi" dan "uang pelicin".

Godaan mulai datang dalam bentuk yang halus. Arimbi mulai menerima pemberian-pemberian kecil sebagai ucapan terima kasih karena telah mempercepat proses pengetikan berkas perkara. Perlahan tapi pasti, standar moralnya bergeser. Ia mulai menikmati kemewahan kecil yang didapat dari uang haram tersebut.

Puncaknya adalah ketika ia terjebak dalam kasus yang jauh lebih besar dari yang bisa ia kendalikan. Arimbi, yang hanya "ikan kecil" di kolam yang penuh hiu, akhirnya harus menanggung konsekuensi pahit ketika sistem yang selama ini melindunginya justru berbalik memakannya untuk menyelamatkan aktor-aktor yang lebih besar.

Okky Madasari tidak hanya menyoroti korupsi sebagai pilihan individu, tetapi sebagai sistem yang memaksa. Dalam novel ini, korupsi digambarkan seperti lingkaran setan. Jika Anda tidak ikut "bermain," Anda akan dikucilkan atau dianggap aneh. Arimbi terjebak dalam dilema antara mempertahankan integritas namun hidup melarat, atau mengikuti arus dan menikmati fasilitas. Novel ini menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia telah mencapai level "normalitas".

Motivasi Arimbi untuk terlibat dalam praktik suap sangat dipengaruhi oleh tekanan sosial dan gaya hidup. Keinginan untuk memiliki ponsel terbaru, baju bagus, dan status sosial di kampung halamannya mendorongnya untuk menghalalkan segala cara. Okky dengan tajam menggambarkan bagaimana kemiskinan dan rasa rendah diri bisa menjadi bahan bakar utama bagi tumbuhnya tindakan kriminal di tingkat birokrasi rendah.

Ironi terbesar dalam novel ini adalah latar tempatnya, Pengadilan. Tempat yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi pencari keadilan justru menjadi pasar tempat hukum diperjualbelikan. Melalui mata Arimbi, pembaca melihat bagaimana vonis bisa diatur dan bagaimana berkas bisa "disesuaikan" tergantung pada besarnya nilai transaksi. Ini adalah kritik pedas terhadap sistem hukum Indonesia.

Okky Madasari dikenal dengan gaya bahasa yang straightforward atau langsung pada sasaran. Ia tidak menggunakan banyak bunga rampai bahasa atau metafora yang rumit. Kekuatan utamanya terletak pada kejujuran narasi dan detail-detail sosiologis yang sangat akurat. Pembaca akan merasa sangat akrab dengan situasi yang digambarkan, mulai dari suasana kantor pengadilan yang gerah, birokrasi yang berbelit-belit, hingga percakapan-percakapan culas di balik pintu tertutup.

Kehebatan Okky dalam novel ini adalah kemampuannya membuat pembaca merasa empati sekaligus geram pada Arimbi. Kita membencinya karena ia korup, tetapi kita juga memahami mengapa ia melakukannya. Arimbi bukanlah sosok "hitam" atau "putih", melainkan "abu-abu", seperti kebanyakan manusia di dunia nyata.

Meskipun novel ini terbit lebih dari satu dekade lalu, relevansinya masih sangat terasa. Kita masih sering mendengar berita tentang Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang melibatkan pegawai pengadilan atau pejabat publik. "86" mengingatkan kita bahwa penangkapan satu atau dua orang tidak akan menyelesaikan masalah selama sistemnya tetap korup dan budaya "asal bapak senang" atau "tahu sama tahu" masih dipelihara.

Novel ini juga merupakan peringatan bagi kita semua bahwa korupsi tidak selalu dimulai dari angka miliaran. Ia dimulai dari uang rokok, uang administrasi tidak resmi, dan gratifikasi kecil yang kita anggap lumrah. Okky mengajak kita untuk melihat cermin dan bertanya: seberapa sering kita melakukan "86" dalam kehidupan sehari-hari?

"86" adalah sebuah karya sastra yang berfungsi sebagai dokumen sosial. Ia menangkap potret wajah Indonesia dengan segala keropengnya. Melalui perjalanan hidup Arimbi yang tragis, Okky Madasari berhasil menyampaikan pesan kuat bahwa dalam sistem yang rusak, setiap orang adalah korban sekaligus pelaku, sampai akhirnya sistem itu sendiri yang akan menghancurkan mereka.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami dinamika sosial di Indonesia dari perspektif yang paling bawah. Ia adalah pengingat yang pahit bahwa perjuangan melawan korupsi bukan hanya soal menangkap pencuri, tetapi soal memperbaiki moralitas bangsa yang sudah kadung keropos.

Identitas Buku

Judul: 86

Penulis: Okky Madasari

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tanggal Terbit: 1 Maret 2011

Tebal: 256 Halaman

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda