Ulasan
Menelusuri Absurditas dalam Jakarta Sebelum Pagi
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, yang lebih akrab disebut Ziggy, merupakan salah satu penulis kontemporer Indonesia yang dikenal dengan gaya bercerita eksperimental dan penuh kelincahan imajinasi. Karya-karyanya sering menghadirkan tokoh-tokoh gelisah, alur yang menolak linearitas, dan atmosfer yang menggabungkan realitas dan fantasi tanpa batas tegas. Dengan ciri khas tersebut, Ziggy menempatkan dirinya sebagai suara yang unik dalam lanskap sastra Indonesia, terutama bagi pembaca yang menyukai narasi penuh teka-teki dan lapisan makna.
Salah satu novelnya yang paling populer adalah Jakarta Sebelum Pagi, sebuah karya yang sempat discontinue dan sulit ditemukan sehingga menciptakan semacam aura kultus di kalangan pembacanya. Novel ini memikat banyak orang karena keanehannya dan kemampuannya menangkap spirit kota Jakarta dari sudut pandang yang tidak biasa. Absurd.
Dalam novel ini, Ziggy mengisahkan Emina, seorang pekerja kantoran di Jakarta yang hidupnya berubah ketika ia menerima surat dan bunga hyacinth dari seorang stalker misterius. Bukannya takut, Emina justru didorong rasa penasarannya untuk mencari sosok pengirim tersebut. Perjalanannya mempertemukannya dengan Suki, bocah kecil yang kedewasaannya melampaui usianya, dan Abel, “si babirusa” yang eksentriknya tidak tanggung-tanggung. Meskipun ketiganya berbeda jauh, mereka justru mampu menjalin hubungan hangat. Mereka minum teh bersama dan berbagi cerita sambil menyingkap misteri yang berputar di sekitar mereka.
Pencarian Emina membawa pembaca menelusuri bangunan-bangunan tua Jakarta, menemukan setumpuk surat cinta yang menyimpan kisah-kisah terlewat, dan memasuki kamar apartemen sebelah yang selalu sunyi. Di sinilah absurditas menjadi nadi utama narasi. Ziggy membangun alur dengan peristiwa realistis dan tidak realistis dibiarkan berdampingan tanpa harus tunduk pada logika kaku. Absurd bukan diposisikan sebagai pengacau; ia diperlakukan sebagai cerminan ritme kehidupan yang tetap harus dijalani.
Karakter-karakter dalam novel pun bergerak dengan kejanggalan yang khas: Suki yang terlalu dewasa untuk anak kecil, Abel dengan keasingannya yang lembut, dan Emina yang impulsif serta cerewet. Hal tersebut membentuk dinamika menarik yang sulit ditebak. Kontras di antara mereka menegaskan bahwa absurditas tidak selalu berarti chaos; ia juga bisa menjadi ruang pertemuan, tempat karakter-karakter yang berbeda menemukan harmoni yang tak terduga. Hubungan Emina dan Abel menjadi contoh paling jelas bagaimana dua kepribadian yang sangat kontras dapat bertemu di titik tengah melalui proses saling memahami.
Sejak prolog, novel ini sudah mampu menggoyahkan ekspektasi pembaca. Adegan penguburan datuk seakan memunculkan kesan thriller. Namun, bab pertama langsung melemparkan pembaca ke pembahasan Yan Pi, babi asap, dan berbagai cerita yang membuat alur terasa kacau sejak awal. Keanehan ini sejalan dengan gaya Ziggy dengan diperkuat oleh pribadi Emina yang “terlalu berisik” dan penuh impuls. Hal itu menjadikan alur yang seharusnya sederhana berubah menjadi pengalaman penuh kelokan. Tidak semua absurditas mungkin cocok bagi setiap pembaca dan beberapa bagian terasa terlalu liar atau tidak koheren. Meski demikian, ada elemen lain yang memberikan keseimbangan emosional, seperti kisah Pak Meneer dan surat cintanya yang manis dan menyedihkan.
Pada akhirnya, Jakarta Sebelum Pagi menawarkan pengalaman membaca yang tidak lazim dan justru memikat. Ziggy menghadirkan absurditas sebagai gaya dan cara membaca realitas yang sering kali memang tidak masuk akal. Keanehan dalam alur, karakter yang kontradiktif, dan narasi yang bergerak bebas membawa perjalanan dini hari di Jakarta penuh kejutan kecil. Meskipun beberapa pilihan naratif mungkin menimbulkan tanya, novel ini tetap meninggalkan kesan kuat bahwa absurditas dapat menjadi medium untuk memahami manusia dan diri sendiri. Jakarta Sebelum Pagi adalah undangan untuk melihat Jakarta (dan hidup) dari sudut yang lain.