Ulasan
Review Drive My Car: Film yang Menghancurkan Hati sekaligus Menghibur
Drive My Car adalah mahakarya sinema Jepang yang dirilis pada 2021, disutradarai oleh Ryusuke Hamaguchi dan diadaptasi dari cerita pendek berjudul sama karya Haruki Murakami.
Film berdurasi 174 menit ini bukan sekadar drama biasa; ia adalah meditasi panjang tentang duka, pengkhianatan, penerimaan, dan kekuatan seni dalam menyembuhkan luka.
Hamaguchi, yang juga menulis skenario bersama Takamasa Oe, berhasil mengubah cerita pendek Murakami yang ringkas menjadi pengalaman sinematik yang mendalam dan memikat, tanpa terasa bertele-tele meski panjangnya hampir tiga jam.
Film ini tayang perdana di Festival Film Cannes 2021, meraih penghargaan Best Screenplay, dan kemudian menjadi wakil Jepang yang sukses di Academy Awards 2022 dengan memenangkan Best International Feature Film serta nominasi di kategori Best Picture, Best Director, dan Best Adapted Screenplay.
Menuju Penerimaan Lewat Seni dan Koneksi Manusia

Cerita berpusat pada Yusuke Kafuku (Hidetoshi Nishijima), seorang aktor dan sutradara teater terkenal. Setelah kehilangan istrinya, Oto (Reika Kirishima), secara mendadak, Yusuke hidup dalam rutinitas yang dibangun dari kenangan. Ia sering mendengarkan rekaman suara istrinya yang membacakan dialog Uncle Vanya karya Anton Chekhov sambil mengemudikan mobil Saab 900 merah kesayangannya.
Dua tahun kemudian, Yusuke menerima tawaran mengarahkan produksi teater Uncle Vanya yang multilingual di festival teater Hiroshima. Di sana, ia bertemu dengan sopir pribadi bernama Misaki Watari (Tko Miura), seorang wanita muda pendiam yang dipaksa menggantikan Yusuke mengemudikan mobilnya sesuai aturan festival.
Perlahan, perjalanan mereka di jalanan Hiroshima membuka lapisan-lapisan misteri yang ditinggalkan Oto, serta rahasia-rahasia yang selama ini disembunyikan Yusuke sendiri.
Tanpa mengungkap terlalu banyak, film ini mengeksplorasi bagaimana manusia menghadapi kehilangan. Hamaguchi menggunakan mobil sebagai metafor utama—ruang tertutup di mana percakapan panjang terjadi, di mana kenangan mengalir seperti jalan raya yang tak berujung.
Adegan-adegan mengemudi yang tenang, ditemani suara rekaman Oto, menjadi salah satu kekuatan visual terbesar film.
Sinematografi oleh Hidetoshi Shinomiya begitu elegan; kamera jarang bergerak liar, tapi selalu tepat menangkap ekspresi wajah dan keheningan yang penuh makna.
Durasi panjang justru menjadi kelebihan karena memberi ruang bagiku untuk meresapi setiap emosi, bukan terburu-buru menuju klimaks.
Review Film Drive My Car

Akting para pemain luar biasa. Hidetoshi Nishijima menghidupkan Yusuke dengan ketenangan yang menyembunyikan badai batin—seorang pria yang mengontrol segala melalui seni, tapi rapuh di dalam.
Tko Miura sebagai Misaki menjadi penemuan besar; karakternya yang tertutup perlahan terbuka seperti buku yang halamannya dibalik satu per satu.
Pendukung lain, termasuk Masaki Okada sebagai Kji Takatsuki (kekasih Oto) dan Park Yu-rim sebagai Lee Yoo-na, juga memukau, terutama dalam adegan latihan teater multilingual.
Uniknya, para aktor berbicara dalam bahasa asli masing-masing (Jepang, Korea, Tagalog, hingga bahasa isyarat), menciptakan lapisan simbolis tentang komunikasi lintas batas dan kesulitan memahami satu sama lain—mirip dengan bagaimana kita sering gagal memahami orang terdekat.
Tema film ini kaya dan universal. Drive My Car bukan hanya tentang grief, tapi juga tentang bagaimana seni teater—khususnya Uncle Vanya yang penuh penyesalan dan ketidaksempurnaan manusia—menjadi cermin kehidupan.
Hamaguchi menunjukkan bahwa duka bukan sesuatu yang harus disembunyikan atau dilawan, melainkan dihadapi melalui koneksi manusiawi, meski kadang melalui keheningan.
Film ini juga menyentuh isu pengkhianatan dalam pernikahan, rasa bersalah, dan akhirnya, penerimaan bahwa “mereka yang hidup terus memikirkan yang mati,” seperti kata Yusuke.
Musik latar minimalis karya Eiko Ishibashi semakin memperkuat suasana kontemplatif, sementara desain suara rekaman kaset menjadi elemen ikonik yang tak terlupakan.
Intinya, Drive My Car adalah film yang menuntut perhatian penuh. Bagi yang menyukai sinema lambat seperti karya Ingmar Bergman atau Abbas Kiarostami, Terasa seperti puisi visual.
Film ini menghancurkan sekaligus menghibur hati, serta merupakan adaptasi yang lembut seperti bisikan namun penuh kebijaksanaan. Di Indonesia, film ini memang pernah tayang terbatas di beberapa festival film dan platform digital beberapa tahun lalu.
Namun, pengalaman menonton di bioskop jauh lebih berkesan. Layar lebar membuat perjalanan mobil yang panjang dan tenang terasa jauh lebih imersif, mendalam, serta benar-benar membenamkan penonton ke dalam suasana kontemplatif yang ditawarkan film.
Drive My Car resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 5 April 2026. Film ini diputar di jaringan besar seperti CGV Cinemas (termasuk Grand Indonesia, Pacific Place, Central Park, FX Sudirman), XXI, Cinema 21, Cinepolis, Platinum Cineplex, NSC, dan lainnya di berbagai kota.
Durasi 174 menit, bergenre Drama, rating 17+, dengan bahasa Jepang dan subtitle Bahasa Indonesia. Jadwal harian tersedia di bioskop CGV mulai pukul 10:30 WIB dengan harga tiket terjangkau (mulai Rp40.000 di beberapa kota dan lokasi). Jadwal bisa berubah, jadi disarankan cek langsung di aplikasi atau situs bioskop masing-masing.
Kesimpulannya, Drive My Car bukan film hiburan ringan yang bisa ditonton sambil ngemil popcorn. Ia adalah pengalaman yang mengubah cara kita melihat kehilangan dan kehidupan. Hamaguchi berhasil menciptakan karya yang tenang tapi mengguncang jiwa, membuktikan bahwa sinema terbaik adalah yang memberi ruang bagiku untuk merenung.
Kalau kamu mencari film yang mendalam, penuh empati, dan artistik, jangan lewatkan kesempatan menonton di bioskop sekarang. Drive My Car adalah salah satu film terbaik dekade ini—sebuah perjalanan yang layak dijalani hingga akhir.