Ulasan
Review Film Nobody: Petualangan Monster Kecil yang Lucu dan Menginspirasi
Nobody atau The Little Monster of Langlang Mountain adalah salah satu kejutan terbesar dunia animasi tahun 2025. Film fantasi komedi 2D ini disutradarai dan ditulis oleh Yu Shui, diproduksi oleh legendaris Shanghai Animation Film Studio.
Berbasis pada episode pendek dari serial antologi Yao-Chinese Folktales yang populer di Bilibili, Nobody mengadaptasi semangat Journey to the West (Perjalanan menuju ke Barat) dari sudut pandang yang segar dan tak terduga: para yaoguai (siluman hewan) kecil yang nobody—lemah, konyol, dan penuh mimpi.
Dengan durasi 118 menit, film ini tayang perdana di China pada 2 Agustus 2025 dan langsung meledak, meraup lebih dari US$215 juta (sekitar Rp3,4 triliun) serta menjadi film animasi 2D China paling sukses sepanjang masa, mengalahkan rekor Big Fish & Begonia dan Suzume.
Di Indonesia, Nobody resmi tayang di bioskop mulai pertengahan Desember 2025. Trailer resmi berbahasa Mandarin dengan subtitle Bahasa Indonesia sudah beredar luas di YouTube, dan film ini diputar di jaringan seperti CGV, XXI, Cinemaxx, hingga Cinépolis.
Bagi pencinta animasi Asia di Surabaya atau kota-kota besar lainnya, ini adalah kesempatan langka menikmati karya 2D tradisional berkualitas bioskop dengan dubbing atau subtitle lokal yang rapi.
Perjalanan Monster Kecil Menuju Keberanian Sejati

Di Gunung Langlang, seekor siluman babi liar yang penuh semangat bermimpi bergabung dengan kelompok kuat di King’s Cave.
Setelah gagal total, ia diusir bersama sahabatnya, siluman kodok. Mereka berdua lalu merekrut siluman musang yang cerewet dan siluman gorila yang pemalu untuk membentuk tim suci palsu.
Mereka menyamar sebagai Tripitaka (Tang Sanzang) dan murid-muridnya—Sun Wukong, Zhu Bajie, serta Sha Wujing—demi mencuri Kitab Suci sebelum rombongan asli tiba.
Perjalanan ke Barat yang penuh petualangan absurd ini memaksa keempat nobody ini menghadapi bahaya, godaan, dan akhirnya menemukan kitab suci sejati di dalam diri mereka sendiri.
Yang membuat Nobody istimewa adalah gaya animasinya yang memukau. Shanghai Animation Film Studio menghabiskan empat tahun dengan 600 animator untuk menciptakan 1.800 shot dan lebih dari 2.000 latar.
Teknik tinta wash (ink wash painting) klasik China dipadukan dengan latar belakang watercolor yang lembut, mirip lukisan tradisional Shanxi.
Karakter-karakternya bergaya 90-an ala Klasky Csupo—grotesk, berbulu, penuh ekspresi, dan sangat hidup. Gerakan kadang terasa kasar dan dated, tapi justru itu yang memberi charm khas.
Adegan klimaks pertarungan adalah ledakan visual One Punch Man-style yang epik, penuh efek partikel dan transformasi gila. Musik latar yang energik, dialog penuh lelucon Stephen Chow, serta visual gags yang padat membuat setiap frame terasa seperti lukisan bergerak.
Review Film Nobody

Cerita Nobody bukan sekadar parodi Journey to the West. Ia adalah metafor tajam tentang underdog di masyarakat modern China—mereka yang tak punya nama, tak punya kuasa, tapi punya mimpi besar.
Keempat siluman utama (suara: Chen Ziping sebagai Pig Yao, Lu Yang sebagai Toad Yao, Dong Wenliang sebagai Weasel Yao, dan Liu Cong sebagai Gorilla Yao) punya chemistry luar biasa. Pig yang ambisius tapi bodoh, Toad yang pemimpi, Weasel yang cerewet, dan Gorilla yang pemalu—semuanya berkembang secara alami tanpa terasa klise.
Tema identitas, penebusan, dan menjadi seseorang disampaikan dengan humor hitam yang grody sekaligus puitis. Bahkan siluman kecil pun bisa menemukan cahaya.
Kritikus di Douban memberi rating 8,6 (setara atau lebih tinggi dari Ne Zha 2). John Lui dari The Straits Times memuji komedi multi-lapisnya.
Animasinya menurutku masterpiece lucu dan visualnya memukau. Di Indonesia, respons penonton juga positif—banyak yang bilang ini animasi China terbaik setelah Ne Zha series. Box office domestik China mencapai 47 juta penonton, plus merchandise yang laku 3,2 juta unit. Film ini bahkan memenangkan Golden Angel Award di Chinese American Film Festival 2025.
Kelemahan? Kurasa endingnya agak rushed dan klimaks agak terlalu kuat sehingga mengganggu premis grounded-nya. Durasi 118 menit terasa pas, tapi bagi yang tak suka humor slapstick ala China, mungkin butuh penyesuaian. Akan tetapi, ini minor dibanding kelebihan besarnya sebagai hiburan keluarga yang cerdas.
Jadi kesimpulannya, Nobody adalah bukti bahwa animasi 2D masih relevan di era CGI bombastis. Yu Shui berhasil menciptakan karya yang lucu, mengharukan, dan kaya metafor tanpa kehilangan akar budaya China.
Bagi penonton Indonesia yang bosan dengan formula Hollywood, film ini menawarkan sesuatu yang berbeda: petualangan absurd, visual indah, dan pesan humanis yang universal. Rating pribadiku: 9/10.
Kalau kamu kamu suka Spider-Man: Across the Spider-Verse karena inovasi visualnya, atau Kubo and the Two Strings karena estetika tradisional, Nobody akan langsung masuk daftar favorit.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS