Ulasan

Menyemai Adat di Muaro Jambi, Rahasia Ulur Antar Serah Menuang Lembago

Menyemai Adat di Muaro Jambi, Rahasia Ulur Antar Serah Menuang Lembago
Acara adat pernikahan di desa Muaro Jambi (Dok. Pribadi/Rion Nofrianda)

Di bawah naungan langit Muaro Jambi yang teduh, sebuah tradisi tua kembali memanggil ingatan kita tentang betapa luhurnya cara nenek moyang memuliakan ikatan keluarga. Di teras sebuah rumah panggung yang kokoh, suasana mendadak berubah menjadi panggung kebudayaan yang penuh makna saat ritual Ulur Antar Serah Menuang Lembago dimulai. Acara ini bukan sekadar seremoni kepulangan mempelai laki-laki atau yang sering disebut ngunduh mantu, melainkan sebuah simfoni peradaban Melayu yang menyatukan dua hati di bawah restu hukum adat yang kuat.

Ketika rombongan keluarga mempelai perempuan tiba di kediaman mempelai laki-laki, langkah kaki mereka membawa lebih dari sekadar rindu; mereka membawa "bekal kehidupan" yang sarat akan simbolisme. Di barisan terdepan, nampan-nampan berisi bahan masakan disusun sedemikian rupa, memanjakan mata dengan warna-warni yang kontras namun harmonis. Ada minyak goreng yang jernih, kelapa yang telah dikupas bersih, garam, hingga cabai merah yang warnanya menyala. Tak ketinggalan, ayam, beberapa ikat serai yang harum, dan buah pinang ikut menjadi bagian dari hantaran sakral ini.

Bagi masyarakat Desa Muaro Jambi, barang-barang dapur ini bukanlah sekadar komoditas pasar, melainkan pesan moral yang mendalam bagi kedua mempelai. Minyak goreng dan kelapa yang dibawa menjadi doa agar kehidupan rumah tangga mereka selalu diberkati dengan keluasan rezeki dan kemanfaatan yang tak putus-putus, layaknya pohon kelapa yang berguna dari akar hingga pucuknya. Sementara itu, kehadiran garam dan cabai merupakan pengakuan jujur atas dinamika hidup; bahwa pernikahan akan menemui rasa asin dan pedas, namun semua itu adalah bumbu yang akan mendewasakan mereka.

Suasana semakin khidmat saat prosesi Ulur Antar dimulai di hadapan para Datuk Adat yang duduk bersila dengan penuh wibawa. Para pemangku adat ini, dengan kopiah, bertindak sebagai jangkar yang memastikan setiap tata cara berjalan sesuai dengan garis keturunan dan hukum adat yang berlaku. Di sinilah terjadi dialog puitis antara Datuk dari kedua belah pihak. Bahasa yang digunakan penuh dengan perumpamaan, menunjukkan betapa tingginya peradaban lisan masyarakat Jambi. Pihak perempuan mengulurkan tanggung jawab atas anak gadis mereka, dan pihak laki-laki menerima atau menyongsong tanggung jawab tersebut dengan tangan terbuka.

Di hadapan para tetua, dipaparkanlah aturan-aturan hidup bermasyarakat, hak-hak sang istri, serta bagaimana keluarga besar suami harus melindungi dan menyayangi sang menantu layaknya anak kandung sendiri. Ini adalah proses "legalitas sosial" yang membuat sang pengantin perempuan merasa diakui, dihargai, dan memiliki tempat yang terhormat di bumi tempat suaminya berpijak.

Kehadiran pinang dan serai dalam hantaran tersebut juga menambah kedalaman makna acara ini. Pinang yang tegak lurus menjadi simbol martabat dan kejujuran, sementara serai yang tumbuh berumpun menjadi pengingat agar keluarga baru ini selalu menjaga kekompakan. Di Muaro Jambi, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan jika dihadapi dengan semangat "serumpun serai", sebuah filosofi gotong royong yang menjadi tulang punggung kehidupan desa.

Setelah urusan adat yang sakral selesai, suasana yang kaku perlahan mencair menjadi kehangatan yang luar biasa. Bahan-bahan yang dibawa tadi ayam, cabai, dan bumbu-bumbu lainnya segera dibawa ke dapur untuk diolah bersama-sama oleh kaum ibu. Di sinilah letak keunikan ngunduh mantu di Muaro Jambi; pesta ini adalah milik bersama. Aroma gulai ayam yang dimasak dengan santan segar dan harum serai mulai menyeruak, mengundang tawa dan obrolan ringan di antara para tamu. Gotong royong ini menjadi bukti nyata bahwa pernikahan adalah jembatan yang mempererat kohesi sosial antar warga desa.

Ulasan budaya tentang Ulur Antar Serah Menuang Lembago ini pada akhirnya menyisakan sebuah kekaguman tentang bagaimana masyarakat Muaro Jambi menjaga harmoni. Mereka tidak hanya merayakan penyatuan dua individu, tetapi juga merayakan ketahanan pangan, kedaulatan adat, dan solidaritas sosial. Melalui ritual sederhana namun bermakna ini, kita diingatkan bahwa cinta sejati membutuhkan kesiapan materi yang disimbolkan oleh bahan pangan, dan kesiapan spiritual yang dijaga oleh restu para Datuk Adat. Sebuah warisan yang begitu indah, menyentuh, dan patut terus digaungkan agar tak hilang ditelan zaman yang semakin modern.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda