Ulasan

Menelusuri Lorong Gelap Larung: Dari Hasrat hingga Sejarah yang Berdarah

Menelusuri Lorong Gelap Larung: Dari Hasrat hingga Sejarah yang Berdarah
Novel Larung karya Ayu Utami (Gramedia Digital)

Novel Larung karya Ayu Utami adalah kelanjutan yang terasa seperti gema panjang dari novel Saman, tetapi dengan suara yang lebih berani, lebih liar, dan kadang lebih gelap.

Karya ini tidak sekadar meneruskan cerita, melainkan memperluas semesta, baik secara batiniah, politis, maupun spiritual, sehingga pembaca seperti diajak menyusuri lorong-lorong yang lebih dalam dan tak selalu nyaman.

Kisah dibuka dengan sosok Larung Lanang, tokoh baru yang langsung mencuri perhatian. Ia hadir dengan latar yang ganjil sekaligus memikat. Ia digambarkan menjadi seorang lelaki rasional yang dihadapkan pada dilema mengakhiri hidup neneknya sendiri, perempuan renta yang seolah menolak mati.

Namun yang membuat bagian ini begitu kuat adalah pergeseran logika yang terjadi. Rasionalitas Larung perlahan bergeser ke wilayah mistis, di mana eutanasia bukan lagi sekadar tindakan medis, melainkan ritual yang sarat makna spiritual.

Di sinilah Ayu Utami menenun cerita dengan nuansa magis, mengingatkan pada kisah-kisah seperti Calon Arang dan dunia wayang, yang memberi kedalaman simbolik pada narasi.

Setelah pembukaan yang intens, cerita bergerak menuju tokoh-tokoh lama, yaitu Shakuntala, Cok, Yasmin, dan Laila. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan poros utama dalam menyuarakan gagasan feminisme yang menjadi denyut nadi novel ini.

Perempuan-perempuan dalam Larung tidak digambarkan sebagai sosok lemah, melainkan sebagai individu yang sadar akan tubuh, hasrat, dan pilihan hidupnya. Bahkan dalam relasi paling intim sekalipun, seperti hubungan Yasmin dan Saman, terlihat jelas bagaimana kuasa tidak lagi dimonopoli laki-laki. Perempuan di sini memimpin, menentukan, dan merumuskan makna cintanya sendiri.

Namun Larung tidak berhenti pada persoalan tubuh dan identitas. Ia juga menjejak kuat pada realitas sejarah Indonesia, khususnya menjelang runtuhnya Orde Baru.

Kisah pelarian para aktivis (Koba, Wayan Togog, dan Bilung) menjadi cermin getir dari masa ketika suara dibungkam dan perlawanan dibalas dengan kekerasan. Peristiwa-peristiwa seperti Kerusuhan Medan 1994 dan tragedi 27 Juli 1996 disisipkan bukan sekadar sebagai latar, tetapi sebagai luka kolektif yang masih menganga.

Ayu Utami dengan tajam juga menyoroti paranoia rezim terhadap segala sesuatu yang dianggap kiri. Aktivisme buruh, solidaritas, bahkan pemikiran kritis, dengan mudah dicap berbahaya. Tokoh seperti Rusdyan Wardana menjadi simbol ironi kekuasaan. Aparat yang seharusnya melindungi, justru menjelma menjadi predator.

Dalam dunia seperti ini, tidak ada pahlawan mutlak, hanya pemenang dan pecundang, seperti kutipan yang menghantam kesadaran pembaca tentang relativitas kebaikan dan kejahatan.

Dari segi gaya, Larung memang menantang. Perpindahan sudut pandang yang cair tanpa penanda sering membuat pembaca harus ekstra fokus. Namun di situlah letak keunikan Ayu Utami. Ia menulis seolah berdialog, bukan sekadar bercerita.

Bahasanya lugas, berani, bahkan kadang terasa “telanjang”, terutama dalam upayanya menolak eufemisme. Ia seperti ingin mengembalikan bahasa pada kejujurannya yang paling dasar.

Secara pribadi, Larung terasa lebih membekas dibanding Saman. Sosok Larung sendiri menjadi karakter yang sulit dilupakan. Ia begitu tenang, misterius, dan memiliki keyakinan yang nyaris menakutkan. Ia berbeda dari Saman yang penuh keraguan; Larung justru seperti seseorang yang telah berdamai dengan pilihan-pilihannya, betapapun ekstremnya.

Meski demikian, novel ini bukan tanpa cela. Alurnya sempat terasa kendur di tengah, dan keberadaan Larung sebagai tokoh utama kadang justru terasa menjauh. Namun semua itu terbayar oleh kedalaman tema dan keberanian gagasan yang diusung.

Singkat kata, Larung adalah karya yang menolak untuk dibaca secara dangkal. Ia menuntut kesabaran, keberanian berpikir, dan keterbukaan terhadap hal-hal yang mungkin terasa asing.

Sebuah novel yang tidak hanya menceritakan, tetapi juga menggugat, dan karena itu, layak mendapat tempat istimewa dalam khazanah sastra Indonesia.

Identitas Buku

  • Judul: Larung
  • Penulis: Ayu Utami
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Cetakan: IX, Maret 2023
  • Tebal: 308 Halaman
  • ISBN: 978-602-424-286-2
  • Genre: Fiksi Indonesia / Roman

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda