Ulasan

Kritik Sosial pada Standar Menantu Ideal di Buku Cinta Laki-Laki Biasa

Kritik Sosial pada Standar Menantu Ideal di Buku Cinta Laki-Laki Biasa
Cinta Laki-Laki Biasa (Dok.Pribadi/Oktavia)

Di tengah banjir kisah cinta glamor yang dipenuhi tokoh sempurna, buku Cinta Laki-Laki Biasa justru membawa sesuatu yang sederhana, ketulusan. Buku terbitan Asma Nadia Publishing House ini bukan sekadar kumpulan cerita romantis, melainkan refleksi tentang bagaimana cinta sejati sering hadir lewat sosok yang dianggap “biasa” oleh masyarakat.

Saya awalnya mengira buku ini adalah novel seperti halnya buku Asma Nadia lainnya. Ternyata, Cinta Laki-Laki Biasa merupakan kumpulan 19 cerpen karya Asma Nadia bersama beberapa penulis lain. Masing-masing cerita menghadirkan laki-laki sederhana dengan bentuk cinta yang tidak mewah, tetapi tulus dan penuh pengorbanan.

Isi Buku

Cerita utama yang menjadi judul buku paling mencuri perhatian. Tokohnya adalah Nania, perempuan cantik, cerdas, berasal dari keluarga berada, yang memilih menikah dengan Rafli, seorang mandor proyek bangunan dengan kehidupan sederhana. Pilihan Nania dianggap aneh oleh keluarganya. Sang ibu ingin ia menikah dengan Tyo, dokter muda mapan yang dianggap lebih setara secara status sosial.

Di titik inilah buku ini menjadi menarik. Ia mempertanyakan standar umum masyarakat tentang pasangan ideal. Apakah cinta harus selalu berjalan seiring gelar, kekayaan, atau status keluarga? Ataukah kualitas manusia justru terlihat dari cara ia memperlakukan orang lain?

Rafli digambarkan bukan sebagai lelaki sempurna ala drama romantis modern. Ia tidak kaya, tidak flamboyan, bahkan cenderung pendiam. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih langka. Empati, tanggung jawab, dan kesetiaan. Ia memperhatikan kesejahteraan buruh bangunan, menyayangi ibunya dengan tulus, serta mencintai Nania tanpa pamrih.

Salah satu bagian paling menyentuh adalah ketika Rafli membangun rumah sederhana dan sengaja membiarkan kamar utamanya belum dicat. Alasannya sederhana: ia ingin warna kamar itu dipilih oleh perempuan yang kelak menjadi istrinya. Detail kecil seperti ini membuat karakter Rafli terasa hidup dan manusiawi.

Konflik utama cerita bukan sekadar soal cinta, melainkan benturan kelas sosial dan ekspektasi keluarga. Setelah menikah, Rafli dan Nania terus menghadapi campur tangan keluarga besar Nania. Mulai dari urusan rumah tangga, cara membesarkan anak, hingga pilihan rumah sakit, semuanya seolah menjadi ajang pembuktian bahwa Rafli dianggap kurang layak.

Namun novel ini tidak jatuh menjadi melodrama murahan. Justru kekuatan ceritanya terletak pada keseharian yang terasa dekat dengan realitas banyak pasangan muda Indonesia. Ada tekanan sosial, gengsi keluarga, dan ketakutan orang tua bahwa anaknya akan hidup susah bila menikah dengan lelaki biasa.

Kelebihan dan Kekurangan

Puncak emosinya terjadi ketika Nania mengalami kecelakaan hingga lumpuh dan kehilangan ingatan. Ia bahkan tidak mengenali Rafli maupun anak-anak mereka. Dalam kondisi itulah cinta Rafli diuji habis-habisan. Ketika perempuan yang dicintainya lupa pada semua kenangan mereka, Rafli tetap memilih bertahan.

Cinta bukan hanya soal rasa berbunga-bunga di awal hubungan, melainkan kemampuan bertahan ketika keadaan berubah total.

Selain cerita utama, cerpen lain seperti Badrun Ingin Jadi Batu, Telur Dadar, Bundaku, dan 30 Menit juga menghadirkan potret laki-laki sederhana yang mencintai lewat tindakan kecil sehari-hari. Ada ayah yang rela bekerja tanpa pulang demi keluarga, suami yang diam-diam berkorban, hingga lelaki yang cintanya hadir dalam bentuk tanggung jawab.

Secara gaya penulisan, kekuatan Asma Nadia memang terletak pada diksi yang lembut dan emosional tanpa terasa berlebihan. Bahasa yang digunakan sederhana, tetapi mampu membangun kedekatan emosional dengan pembaca. Itulah sebabnya buku ini mudah dinikmati bahkan oleh pembaca yang tidak terbiasa membaca karya sastra populer.

Cinta Laki-Laki Biasa mengingatkan bahwa manusia sering terlalu sibuk mencari pasangan sempurna di mata dunia, sampai lupa menghargai ketulusan yang ada di depan mata. Sebab dalam kehidupan nyata, cinta paling kuat sering datang bukan dari lelaki luar biasa, melainkan dari lelaki biasa yang memilih tetap tinggal saat semua orang pergi.

Identitas Buku

  • Judul: Cinta Laki-Laki Biasa
  • Penulis: Asma Nadia, dkk
  • Penerbit: Asma Nadia Publishing House
  • Tahun Terbit: 2016 
  • ISBN: 978-602-9055-45-0
  • Tebal: 264 halaman
  • Genre: Novel, Romansa, Religi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda