Ulasan
Ulasan Film Gohan: Sajikan Kisah Hidup Anjing Liar yang Menggetarkan Jiwa
Gohan (judul Thai: .. atau Gohan.. A Heart That Goes Home) merupakan film drama Thailand yang dirilis pada tahun 2026.
Diproduksi oleh GDH 559, rumah produksi di balik kesuksesan How to Make Millions Before Grandma Dies, film ini disutradarai oleh tiga sutradara berbeda: Chayanop Boonprakob, Nattawut Poonpiriya (selaku produser dan sutradara Bad Genius), serta Atta Hemwadee. Durasi film sekitar 141 menit dengan rating PG.
Cerita mengikuti perjalanan seekor anjing liar putih berhidung pink bernama Gohan selama lebih dari satu dekade, melintasi tiga fase kehidupannya dan tiga pemilik sementara.
Perjalanan Panjang Menuju Rumah Sejati

Film ini terbagi menjadi tiga babak utama yang masing-masing memiliki gaya visual dan narasi khas. Babak pertama, disutradarai Chayanop Boonprakob, memperkenalkan Gohan sebagai anak anjing yang diadopsi oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur otomotif Jepang yang mendekati masa pensiun di Thailand.
Babak ini penuh kehangatan, humor ringan, dan persahabatan yang menyentuh, menggambarkan bagaimana seekor anjing memberikan tujuan hidup bagi seorang lansia yang kesepian. Lalu pada babak kedua, arahan Nattawut Poonpiriya, bergeser ke nada yang lebih gelap dan realistis sosial.
Gohan, yang kini remaja, terlibat dalam situasi shelter ilegal dan diselamatkan oleh Namcha (Poe Mamhe Thar), pekerja migran undocumented dari Myanmar. Dan babak ketiga, oleh Atta Hemwadee, fokus pada Gohan yang sudah tua, berinteraksi dengan pasangan muda Pele (Jinjett Wattanasin) dan Jaidee (Tontawan Tantivejakul).
Tema utama film ini adalah pencarian rumah (home) bukan sekadar tempat fisik, melainkan ikatan emosional, penerimaan, dan kasih sayang.
Melalui perspektif Gohan yang diam, aku sebagai penonton diajak merenungkan kesepian manusia—dari lansia yang menghadapi kodokushi (kematian sendirian), pekerja migran yang rentan, hingga generasi muda yang kehilangan arah.
Film ini juga menyentuh isu kesejahteraan hewan liar, eksploitasi shelter, dan pentingnya adopsi bertanggung jawab. Dengan aktor anjing sungguhan yang pernah menjadi stray (seperti Hima untuk fase tua), keaslian emosi terasa sangat kuat.
Ulasan Film Gohan

Sinematografi dan produksi mendukung narasi dengan baik. Setiap babak memiliki estetika berbeda: hangat dan mirip film Jepang di bagian awal, tegang dengan elemen thriller di tengah, serta ringan namun bittersweet di akhir.
Soundtrack melengkapi suasana dengan lembut, tanpa memaksa emosi. Akting para pemeran manusianya juga solid, tetapi para anjingnyalah yang mencuri perhatian—ekspresi, gerakan, dan interaksi mereka terasa alami dan mengharukan.
Film Gohan tayang perdana di Thailand pada 2 April 2026 dan mencapai kesuksesan komersial. Di Indonesia, film ini mulai diputar di bioskop seperti XXI, CGV, Cinepolis, dan jaringan lainnya pada hari ini, Mei 15 Mei 2026. Untuk kamu yang pengin nonton film ini, kusarankan memeriksa jadwal terkini melalui aplikasi atau situs resmi bioskop ya! Karena dapat bervariasi antar kota.
Salah satu kekuatan terbesar Gohan adalah kemampuannya menyampaikan emosi secara halus tanpa berlebihan. Film ini tidak bergantung pada kematian dramatis untuk menciptakan air mata, melainkan pada momen-momen kehilangan, perpisahan, dan penerimaan yang realistis. Aku pun sampai menangis karena rasa syukur dan refleksi atas hubungan dengan hewan peliharaan atau orang-orang terdekat.
Adegan paling emosional yang kurasakan setelah nonton adalah di babak ketiga, ketika Jaidee menemukan Gohan yang sudah tua dan sakit parah (penyakit ginjal stadium akhir) setelah ditabrak sepeda motor di sekitar stasiun Hua Takhe.
Adegan ini bukan hanya menunjukkan kerapuhan fisik Gohan—bulu yang memutih, penglihatan dan pendengaran yang melemah, serta langkah yang goyah—akan tetapi juga bagaimana kehadirannya menyatukan kembali Pele dan Jaidee yang sedang retak hubungannya.
Momen ketika Jaidee memeluk Gohan sambil menangis, menyadari waktu yang tersisa hanya beberapa bulan, diselingi kilasan masa lalu mereka berdua merawat anjing itu selama masa kuliah, sungguh menghancurkan.
Adegan selanjutnya, di mana Pele berjuang mencari uang untuk pengobatan dan keduanya belajar arti cinta sejati melalui perawatan Gohan, memberikan klimaks emosional yang mendalam.
Bukan tangisan histeris, melainkan kesedihan yang tenang, penuh rasa syukur karena Gohan akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya. Adegan penutup yang menunjukkan ikatan abadi ini meninggalkanku dengan campuran haru dan optimisme.
Secara keseluruhan, Gohan adalah film yang hangat, bijaksana, dan sangat direkomendasikan buat kamu pencinta hewan maupun mereka yang menghargai cerita tentang hubungan manusia. Meski ada sedikit ketidakseragaman antar babak karena gaya sutradara yang berbeda, hal itu justru memperkaya perspektifnya.
Film ini mengingatkan kita bahwa kasih sayang kecil dapat mengubah hidup, baik bagi manusia maupun hewan. Rating pribadiku: 8.5/10. Siapkan tisu, tapi yang lebih penting, siapkan hati untuk merenung setelah credits bergulir!