Ulasan
Ulasan Film Smile 2: Sekuel Paling Mencekam dengan Nuansa Horor yang Pekat!
Smile 2 (2024), disutradarai dan ditulis oleh Parker Finn, adalah sekuel yang sukses dari film horor Smile (2022). Film ini mengangkat konsep kutukan senyuman mengerikan ke level yang lebih ambisius, dengan latar belakang dunia hiburan selebriti. Berlangsung selama 127 menit, film ini dibintangi Naomi Scott sebagai Skye Riley, seorang bintang pop yang sedang mempersiapkan tur dunia comeback-nya. Dengan budget sekitar 28 juta dolar AS, film ini meraup lebih dari 138 juta dolar AS di box office global, membuktikan daya tariknya bagi penggemar horor.
Perjuangan Melawan Teror Halusinasi yang Mematikan

Cerita dimulai tak lama setelah peristiwa di film pertama. Skye Riley, seorang penyanyi pop sukses yang mirip campuran Taylor Swift dan Britney Spears, sedang berjuang pulih dari kecanduan obat-obatan dan kecelakaan mobil tragis yang menewaskan pacarnya, Paul Hudson (Ray Nicholson). Di bawah tekanan ibunya yang sekaligus manajer, Elizabeth (Rosemarie DeWitt), Skye berusaha tampil sempurna di depan publik. Namun, segalanya berubah saat ia mengunjungi teman lama, Lewis (Lukas Gage), untuk membeli obat pereda nyeri. Di sana, Lewis yang sudah terkutuk melakukan aksi bunuh diri mengerikan di depan Skye—ia menghantam wajahnya sendiri dengan piring barbel sambil tersenyum lebar. Kutukan pun berpindah ke Skye.
Dari situ, Skye dihantui halusinasi yang semakin intens. Ia melihat sosok-sosok tersenyum aneh, termasuk Paul yang sudah meninggal, dan mengalami gangguan mental yang membuatnya ragu akan realitas. Film ini pintar menggabungkan horor supranatural dengan kritik sosial terhadap tekanan ketenaran, eksploitasi industri musik, trauma masa lalu, dan kesehatan mental.
Skye bukan hanya korban kutukan, tapi juga korban sistem yang menuntutnya selalu tersenyum meski hancur di dalam. Naomi Scott memberikan penampilan luar biasa—ia bertransformasi dari sosok glamor ke sosok yang rapuh, paranoid, dan akhirnya putus asa. Performa ini sering dipuji sebagai salah satu yang terbaik di genre horor tahun itu.
Review Film Smile 2

Secara visual, Parker Finn meningkatkan skalanya. Adegan-adegan koreografi dansa yang berubah jadi mimpi buruk, efek praktikal gore yang brutal, dan sinematografi yang claustrophobic membuatku merasa ikut terjebak dalam kepala Skye. Skor musik oleh Cristobal Tapia de Veer semakin memperkuat atmosfer anxiety, sementara lagu-lagu asli Skye Riley (dinyanyikan oleh Naomi Scott) menambah lapisan meta yang cerdas. Film ini tidak hanya bergantung pada jump scare, tapi membangun ketegangan perlahan melalui psikologis.
Kapan Bisa Streaming di Netflix Wilayah Indonesia?
Hingga Juli 2026, Smile 2 sudah tersedia untuk streaming di Netflix di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Film ini masuk katalog Netflix setelah periode PVOD dan rilis digitalnya (awalnya PVOD November 2024). Kamu bisa mengecek langsung di akun Netflix-mu, karena Netflix Indonesia sering menambahkan judul horor populer seperti ini. Jika belum muncul, coba refresh atau gunakan VPN (meski resmi lebih baik tunggu update lokal). Ini jadi pilihan sempurna untuk nonton di rumah dengan lampu dimatikan.
Salah satu adegan paling dramatis adalah konfrontasi Skye dengan masa lalunya di mobil. Flashback mengungkap bahwa Skye sengaja menyebabkan kecelakaan yang membunuh Paul karena argumen di bawah pengaruh obat. Adegan ini penuh emosi, menunjukkan rasa bersalah yang mendalam, dengan editing cepat dan close-up wajah Naomi Scott yang penuh air mata dan keputusasaan. Ini bukan hanya twist plot, tapi juga puncak karakter yang membuatku ikut merasakan beban Skye. Dramatisnya semakin kuat karena menggabungkan trauma pribadi dengan horor supranatural.
Adegan paling menegangkan adalah klimaks di panggung Herald Square Garden. Setelah serangkaian ilusi yang membuat Skye bingung antara realitas dan halusinasi, ia naik panggung untuk penampilan pembuka tur. Penonton di arena menyaksikan Skye berjuang melawan entitas. Entitas muncul dalam bentuk mengerikan: makhluk raksasa tanpa kulit dengan mulut-mulut tersenyum di seluruh tubuhnya, merobek perutnya sendiri.
Skye akhirnya dikuasai, tersenyum lebar, dan menusuk matanya dengan mikrofon di depan ribuan penonton yang shock. Adegan one-shot panjang, gore yang detail, suara gemuruh, dan meta-komentar tentang aku yang menuntut hiburan membuatnya tak terlupakan. Jantung berdegup kencang, napas tertahan—sampai-sampai aku pun merasa gelisah berhari-hari setelah menonton filmnya.
Adegan lain yang ikonik adalah kematian Lewis di awal, yang brutal dan mendadak, serta saat entitas mengambil wujud ibu Skye yang menusuk dirinya sendiri dengan pecahan cermin. Semua adegan ini menggunakan practical effects yang realistis, membuatnya jauh lebih mengganggu daripada CGI murahan.
Smile 2 berhasil menjadi sekuel yang lebih baik dari pendahulunya. Ia tidak hanya menyajikan horor yang efektif dengan jump scare dan gore, tapi juga komentar tajam tentang celebrity culture dan mental health. Meski ada sedikit repetisi dari formula film pertama, eksekusinya lebih polished, aktor pendukung solid, dan ending-nya memuaskan sekaligus membuka pintu untuk sekuel ketiga. Bagi yang suka horor psikologis seperti Hereditary atau Black Swan, ini wajib ditonton. Rating pribadi: 8.5/10. Tonton di Netflix Indonesia sekarang, tapi siapkan mental—senyumannya akan menghantui!