Ulasan

Ulasan Film Sajen Satu Suro: Teror Gaib Sesajen Pembawa Bencana dan Petaka!

Ulasan Film Sajen Satu Suro: Teror Gaib Sesajen Pembawa Bencana dan Petaka!
Poster film Sajen Satu Suro (instagram/sajensatusuro)

Film Sajen Satu Suro merupakan karya horor Indonesia yang disutradarai Yohanes Gatot Subroto dan diproduksi oleh PIM Pictures. Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai 30 Juli 2026, termasuk di jaringan Cinépolis dan Cinema XXI. Durasi sekitar 106 menit, film ini mengangkat tradisi Jawa seputar Malam 1 Suro, ritual sajen, serta misteri keris pusaka yang terkait dengan dendam masa lalu.

Ritual Kelam Pemanggil Petaka dan Mitos Kuno

Tangkapan layar adegan di film Sajen Satu Suro (instagram/sajensatusuro)
Tangkapan layar adegan di film Sajen Satu Suro (instagram/sajensatusuro)

Cerita berpusat pada sekelompok anak muda yang melakukan perjalanan ke desa di wilayah Bantul atau Maduabang, Yogyakarta, untuk mengembalikan sebuah keris pusaka yang diwariskan. Tania menjadi tokoh sentral yang berusaha mengungkap penyebab gangguan yang menimpa ibunya. Ia didampingi Jeff (Cinta Brian), sosok protektif, serta tokoh-tokoh lain seperti Laura. Pengembalian keris bertepatan dengan Malam 1 Suro, malam yang dalam kepercayaan Jawa dipandang sebagai saat batas antara dunia manusia dan alam gaib menjadi sangat tipis.

Sejak tiba di desa, serangkaian kejadian aneh mulai muncul. Gangguan gaib menghantui kelompok tersebut, sementara penyelidikan Tania mengungkap peristiwa kelam sekitar 30 tahun sebelumnya. Akar konflik terletak pada dendam Suparti (Yurike Prastika), seorang perempuan yang merasa dikhianati dan menyimpan kemarahan mendalam terhadap warga desa.

Dendam itu berujung pada kutukan yang menjangkau keturunan. Film ini juga melibatkan tokoh-tokoh lintas generasi, termasuk Clift Sangra, Munggaran, Assila Corina, dan Kukuh Prasetya. Latar syuting di Villa Pakem, Kulon Progo, Pantai Parangkusumo Bantul, dan kawasan Kaliurang memperkuat nuansa lokal yang kental.

Malam 1 Suro digambarkan bukan sekadar ritual syukur atau penghormatan kepada leluhur, melainkan momen di mana pelanggaran terhadap pantangan adat dapat membangkitkan kekuatan gelap. Keris pusaka menjadi simbol warisan yang membawa konsekuensi, sementara sajen yang seharusnya menenangkan justru menjadi pemicu teror.

Ulasan Film Sajen Satu Suro

Tangkapan layar adegan di film Sajen Satu Suro (instagram/sajensatusuro)
Tangkapan layar adegan di film Sajen Satu Suro (instagram/sajensatusuro)

Sutradara Gatot Subroto, yang sebelumnya terlibat dalam proyek terkait Suzzanna, menghadirkan pendekatan yang menekankan atmosfer Jawa daripada sekadar jumpscare berulang. Produksi ini merupakan film horor ketiga PIM Pictures setelah Kutukan Sembilan Setan dan Perjamuan Iblis. Alur filmnya dimulai dengan menampilkan ritual sajen, suasana desa terpencil di malam gelap, kemunculan sosok gaib, serta ketegangan yang dibangun melalui pantangan adat dan perjanjian lama. Visual dan sound design diperkirakan mengandalkan elemen lokal—suara gamelan yang terdistorsi, bayangan di sekitar keris, serta suasana mistis desa—untuk menciptakan rasa takut yang lebih mendalam dan kontekstual.

Pemeran muda seperti Frislly Herlind, Aisyah Aqilah, dan Cinta Brian diharapkan mampu menyampaikan ketegangan emosional, terutama dalam adegan di mana karakter harus menghadapi ancaman sambil mempertahankan hubungan interpersonal. Cinta Brian sendiri menyatakan bahwa tantangan terbesar terletak pada pengelolaan emosi dalam scene-scene bertegangan tinggi, bukan semata-mata aksi fisik.

Adegan Paling Mencekam dan yang Meninggalkan Kesan Merinding

Adegan paling mencekam terjadi saat pengembalian keris bertepatan dengan ritual Malam 1 Suro. Dalam suasana malam yang gelap di desa, kelompok tersebut menyaksikan atau terlibat dalam prosesi sajen yang semestinya sakral, namun berubah menjadi momen di mana kekuatan gaib mulai menampakkan diri.

Batas antara dunia nyata dan alam lain terasa tipis; bayangan, suara, atau penampakan yang terkait dengan kutukan Suparti muncul secara bertahap, membangun ketegangan yang menahan napas buatku dan penonton yang lain. Gangguan terhadap anggota kelompok, terutama yang berkaitan dengan kesehatan atau keselamatan, memperkuat rasa ketidakberdayaan.

Adegan yang berpotensi meninggalkan kesan merinding setelah menonton adalah pengungkapan rahasia 30 tahun silam. Ketika Tania menelusuri jejak Suparti dan menemukan akar dendam—pengkhianatan, utang budi, serta tindakan yang merusak hidup sang perempuan—aku pun dihadapkan pada konsekuensi yang menjangkau generasi.

Momen di mana kutukan tersebut menuntut bayaran, mungkin melalui penampakan atau gangguan yang menyentuh tokoh-tokoh utama, menimbulkan rasa tidak nyaman yang bertahan agak lama buatku. Atmosfer desa yang seolah menolak kehadiran orang luar, dipadukan dengan elemen keris yang hidup dan ritual yang terdistorsi, menciptakan kesan bahwa teror tidak benar-benar berakhir seiring berakhirnya film. Aku pun meninggalkan bioskop dengan pertanyaan tentang pantangan adat dan warisan masa lalu yang masih relevan hingga kini.

Sajen Satu Suro menawarkan horor yang berakar pada budaya Jawa, menggabungkan misteri keris, dendam lintas generasi, dan sakralitas Malam 1 Suro. Kekuatan film ini terletak pada upaya menghadirkan teror yang kontekstual dan atmosferik, bukan sekadar kejutan visual. Bagi penikmat genre horor lokal yang menghargai nuansa adat dan cerita tentang konsekuensi pelanggaran tradisi, film ini layak disaksikan di bioskop. Tayang mulai 30 Juli 2026 Sajen Satu Suro diharapkan mampu memberikan pengalaman yang menegangkan sekaligus mengingatkan pada kekayaan mistis yang hidup di tengah masyarakat Indonesia. Rating pribadi: 7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda