Ulasan
Review Film The Devil's Mouth: Teror Hiu Ganas di Gua Bawah Air Thailand!
The Devil’s Mouth merupakan film thriller survival Amerika Serikat tahun 2026 yang disutradarai oleh Jeff Wadlow. Film ini dibintangi Kathryn Newton sebagai Sara, Lana Condor sebagai Max, Gavin Casalegno sebagai Greg, Nico Hiraga sebagai James, Tommi Rose sebagai Adrienne, serta Tayme Thapthimthong sebagai pemandu lokal Wat. Naskahnya ditulis oleh Aja Gabel dan Myung Joh Wesner, yang sebelumnya sempat masuk dalam daftar Black List Hollywood tahun 2019 dengan judul Apex.
Sensasi Sinematik Teror Bawah Air yang Mencekam

Cerita berpusat pada lima sahabat yang baru saja menyelesaikan kuliah. Mereka memutuskan untuk melakukan petualangan terakhir di pesisir Thailand sebelum memasuki kehidupan dewasa yang sesungguhnya. Mereka mengikuti tur berenang terpandu ke dalam sistem gua air tawar terpencil yang dikenal sebagai The Devil’s Mouth.
Keindahan alam yang memukau segera berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka menyadari bahwa badai sebelumnya telah membanjiri gua dengan kehidupan laut. Sebagian besar makhluk mati di air tawar, namun seekor hiu bull yang agresif berhasil bertahan dan mulai berburu mereka di dalam labirin sempit yang gelap.
Film ini memadukan elemen ketegangan klustrofobia gua bawah air dengan ancaman predator yang tak terlihat. Wadlow berhasil menciptakan atmosfer mencekam melalui penggunaan ruang sempit, kegelapan, dan suara air yang menggelegar. Visual gua Thailand memberikan latar yang indah sekaligus menakutkan, sementara skor musik Bear McCreary memperkuat rasa cemas yang terus-menerus. Meskipun formula film hiu dalam gua sudah familiar (mengingatkanku pada 47 Meters Down: Uncaged), elemen hubungan interpersonal yang kompleks memberikan nilai tambah.
Review Film The Devil's Mouth

Hubungan antara Sara dan Max menjadi inti emosional film. Max digambarkan sebagai sosok yang dominan, penuh energi, dan terbiasa mengendalikan keputusan kelompok. Sara, sebaliknya, lebih berhati-hati dan sedang berusaha menemukan kemandiriannya setelah mengalami masa sulit. Ketegangan di antara keduanya berkembang seiring meningkatnya ancaman, sehingga aku tidak hanya menyaksikan perjuangan fisik melawan hiu, tetapi juga dinamika persahabatan yang toksik sekaligus penuh kasih sayang.
Pada akhirnya, The Devil’s Mouth menawarkan hiburan yang solid bagi penggemar genre thriller survival. Beberapa dialog terasa datar dan karakter pendukung kurang dikembangkan secara mendalam. Akan tetapi, penampilan Newton dan Condor cukup kuat, terutama dalam menggambarkan transformasi karakter di bawah tekanan ekstrem. Adegan aksi bawah air terlaksana dengan cukup jelas, meski efek visual hiu kadang kurang meyakinkan. Film ini berdurasi sekitar 105 menit dan mendapat rating PG-13 karena mengandung kekerasan, gambar berdarah, serta bahasa kasar terbatas.
The Devil’s Mouth dirilis secara global di Amazon Prime Video pada 29 Juli 2026. Karena merupakan premiere global, film ini sudah tersedia untuk ditonton di Prime Video Indonesia sejak tanggal tersebut. Kamu yang memiliki langganan aktif dapat langsung mengaksesnya tanpa menunggu penayangan tambahan.
Salah satu momen paling menegangkan terjadi ketika kelompok tersebut terperangkap di atas batu di tengah air gua, sementara hiu bull berputar-putar di sekeliling mereka. Cahaya senter yang terbatas dan suara hiu yang menghantam batu menciptakan ketegangan tinggi. Ketika hiu menyerang dengan cara membenturkan tubuhnya ke korban dan melemparkannya ke dinding gua, rasa takut akan ruang sempit dan ketidakpastian posisi predator terasa sangat nyata. Adegan-adegan serangan yang brutal, terutama yang melibatkan benturan keras di dalam lorong sempit, berhasil membuatku sampai menahan napas.
Adegan paling menyentuh muncul dari interaksi antara Sara dan Max di tengah krisis. Di salah satu momen, keduanya berjuang memanjat formasi batu sambil berteriak mengenai masa depan dan sifat hubungan mereka. Dialog yang berlangsung di bawah tekanan hidup-mati mengungkapkan rasa bersalah, pengakuan kesalahan, dan kesadaran bahwa persahabatan mereka telah berubah.
Saat Max akhirnya mengakui bahwa ia tidak pernah sepenuhnya melihat Sara sebagai individu yang mandiri, serta saat Sara menunjukkan keteguhan hati yang selama ini tersembunyi, momen tersebut memberikan bobot emosional yang mendalam. Akhir film, yang menekankan tema kemandirian dan penerimaan diri, meninggalkan kesan yang cukup kuat mengenai perjalanan menuju kedewasaan.
The Devil’s Mouth bukan karya sempurna dalam genre hiu, tetapi kombinasi antara ketegangan klustrofobia, dinamika persahabatan, dan latar Thailand yang menarik menjadikannya tontonan yang layak dipertimbangkan. Film ini berhasil memberikan hiburan menegangkan sekaligus menyentuh sisi emosional tentang hubungan antarmanusia di bawah tekanan ekstrem. Rating pribadi: 7.8/10.