Ulasan
Kitab Tanbihul Ghafilin: Mengetuk Hati yang Lalai di Tengah Gemerlap Dunia
Secara sederhana, Tanbihul Ghafilin berarti peringatan bagi orang-orang yang lalai. Judulnya saja sudah seperti sebuah teguran. Kitab ini tidak menawarkan bacaan yang membuat pembaca merasa nyaman dengan dirinya sendiri, tetapi justru mengajak bercermin, sudah sejauh mana kehidupan kita berjalan menuju Allah, dan sudah berapa banyak waktu yang habis tanpa kesadaran kepada-Nya?
Kitab ini merupakan karya Abu Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim as-Samarqandi, seorang ulama yang dikenal dengan gelar al-Imam, al-Faqih, az-Zahid, al-Alim, al-Amil, al-Ustaz, al-Muhaddits, dan al-Kamil. Ia merupakan ahli fikih, hadis, tafsir, sekaligus tokoh yang dekat dengan tradisi tasawuf dan pembinaan akhlak. Ia bermazhab Hanafi dan hidup pada abad keempat Hijriah. Sumber-sumber yang ada berbeda mengenai tahun wafatnya; sebagian menyebut 373 H, sementara riwayat lain menyebut 375 H.
Dalam khazanah pesantren, nama Abu Laits as-Samarqandi bukanlah nama asing. Tanbihul Ghafilin bahkan telah lama menjadi salah satu kitab yang dibaca dan dikaji dalam majelis-majelis ilmu. Popularitasnya tidak semata-mata karena usianya yang tua, melainkan karena gaya penyajiannya yang langsung menyentuh hati manusia.
Kitab yang Dibangun untuk Membangunkan Kelalaian
Metode Tanbihul Ghafilin cukup menarik. Pembahasannya disusun secara tematik, dari persoalan keikhlasan hingga berbagai pembahasan tentang akhlak, ibadah, kehidupan akhirat, ancaman dosa, serta doa dan tasbih. Setiap tema diperkuat dengan ayat Al-Qur'an, hadis, nasihat, dan kisah-kisah yang dimaksudkan untuk menggugah kesadaran pembaca. Kitab ini menjadi salah satu karya utama Abu Laits dan bab-babnya disusun secara tematik dengan hadis sebagai salah satu fondasi pembahasan.
Abu Laits tidak hanya berbicara mengenai hukum atau teori keagamaan saja, namun ia berusaha membawa pembaca memasuki ruang batin. Pembaca diajak memikirkan kematian, kehidupan alam barzakh, siksa kubur, hari kiamat, pertanggungjawaban amal, surga, neraka, dosa, tobat, hingga harapan memperoleh pertolongan Allah.
Salah satu bahasan yang menggambarkan karakter kitab ini adalah pembicaraan tentang dahsyatnya siksa kubur. Dalam kajian Tanbihul Ghafilin, tema tersebut tidak disampaikan semata sebagai konsep teologis, tetapi melalui perpaduan nasihat, riwayat, dan kisah sehingga pembaca diajak membayangkan konsekuensi dari kelalaian manusia.
Dengan cara demikian, kitab ini seolah berkata bahwa persoalan terbesar manusia bukan selalu kurangnya pengetahuan, melainkan hati yang mengetahui kebenaran tetapi terus menunda untuk mengamalkannya.
Dari Ikhlas hingga Kematian
Membaca kitab Tanbihul Ghafilin terasa seperti berjalan melewati lorong panjang kehidupan manusia. Terdapat pembahasan mengenai ikhlas, sabar, tawakal, zikir, syukur, membaca Al-Qur'an, menyantuni anak yatim dan kaum lemah, menjaga hubungan sosial, memperbaiki akhlak, hingga menjauhi penyakit hati.
Peringatan terhadap dosa juga mendapat ruang yang kuat. Dusta, ghibah, namimah, hasad, kesombongan, kemarahan, kerakusan, dan berbagai bentuk perilaku buruk digambarkan sebagai penyakit yang perlahan menggerogoti kebersihan hati. Pembacaan semacam ini membuat Tanbihul Ghafilin tidak berhenti sebagai kitab tentang ritual, tetapi juga menjadi kitab tentang bagaimana seorang manusia seharusnya memperlakukan manusia lain.
Hal tersebut penting karena keberagamaan dalam kitab ini tidak dipahami secara sempit. Kesalihan bukan hanya persoalan panjangnya zikir atau banyaknya ibadah personal, tetapi juga bagaimana seseorang bersikap kepada tetangga, keluarga, fakir miskin, anak yatim, dan masyarakat.
Dengan kata lain, Abu Laits mengingatkan bahwa hati yang dekat dengan Allah semestinya melahirkan perilaku yang baik kepada sesama.
Kisah sebagai Bahasa untuk Menyentuh Hati
Di antara ciri khas kitab Tanbihul Ghafilin adalah banyaknya kisah. Bagi pembaca masa kini, cara ini menarik karena pesan moral menjadi lebih mudah dicerna melalui cerita daripada uraian abstrak.
Salah satu kisah yang terkenal dalam bagian akhir kitab adalah cerita seorang Yahudi yang menemukan ciri-ciri Nabi Muhammad dalam kitab Taurat. Setelah perjalanan panjang menuju Madinah, ia justru mendapati Rasulullah telah wafat.
Kisah tersebut kemudian berujung pada keislamannya dan kematiannya setelah menyatakan keimanan. Terlepas dari persoalan validitas riwayat yang perlu diteliti, secara retoris kisah ini memperlihatkan tujuan utama Tanbihul Ghafilin, yakni menggugah kecintaan kepada Rasulullah dan menggerakkan hati menuju keimanan.
Kisah lain yang sering dikutip dari kitab ini adalah gambaran manusia pada hari kiamat yang mencari pertolongan kepada Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa sebelum akhirnya datang kepada Nabi Muhammad untuk memohon syafaat. Kisah tersebut memperlihatkan betapa manusia pada hari akhir berada dalam kecemasan yang luar biasa dan betapa besar harapan mereka terhadap pertolongan Rasulullah.
Bagi pembaca di lingkungan pesantren, model seperti ini tentu sudah sangat familiar. Namun bagi generasi digital, pendekatan naratif tersebut sebenarnya masih sangat potensial. Di tengah budaya konten pendek, manusia tetap membutuhkan cerita yang membuat mereka berhenti sejenak dan bertanya tentang arah hidupnya.
Mengapa Masih Relevan untuk Generasi Sekarang?
Istilah “ghafilin” atau orang-orang yang lalai justru terasa semakin relevan pada zaman sekarang. Kita hidup dalam era ketika manusia dapat mengetahui begitu banyak hal dalam hitungan detik, tetapi belum tentu memiliki waktu untuk merenungkan satu hal secara mendalam. Media sosial membuat seseorang dapat melihat kehidupan ribuan orang sekaligus, tetapi sering kali kehilangan kesempatan untuk melihat dirinya sendiri.
Kita sibuk mengejar popularitas, angka followers, pekerjaan, uang, pencapaian, dan pengakuan. Bahkan agama pun kadang berpotensi menjadi bagian dari budaya pencitraan, seperti amal ingin terlihat, kebaikan ingin disaksikan, nasihat ingin mendapatkan apresiasi, dan lain sebagainya. Di sinilah kitab Tanbihul Ghafilin terasa seperti alarm yang berbunyi di tengah kebisingan.
Pesan tentang ikhlas relevan ketika kehidupan digital membuat manusia mudah mencari pengakuan. Nasihat tentang menjaga lisan relevan ketika satu unggahan dapat berubah menjadi fitnah dalam hitungan menit. Larangan ghibah dan namimah semakin penting ketika gosip, komentar kasar, dan penyebaran informasi yang belum terverifikasi menjadi bagian dari keseharian. Peringatan tentang kesombongan juga terasa dekat ketika media sosial memungkinkan seseorang membangun citra diri tanpa batas.
Bahkan konsep kelalaian dalam kitab ini dapat dibaca secara kontekstual sebagai kritik terhadap manusia yang terlalu sibuk mengurus dunia sampai lupa bertanya untuk apa semua yang sedang dikejar?
Pengalaman saya selaku pembaca kitab ini, betapa kuatnya daya gugah kitab Tanbihul Ghafilin. Isi kitab ini mampu menampar kesadaran tentang kelalaian terhadap ibadah, tobat, akhlak, kematian, dan kehidupan akhirat.
Kelebihan: Hangat, Menggugah, dan Dekat dengan Problem Batin
Kelebihan terbesar kitab Tanbihul Ghafilin adalah daya sentuhnya. Ia tidak hanya berbicara kepada intelektualitas, tetapi juga kepada emosi dan kesadaran spiritual.
Bahasanya melalui kisah dan nasihat membuat tema berat seperti kematian dan akhirat terasa lebih dekat. Pembaca tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi diajak mengalami semacam dialog batin.
Kelebihan lainnya adalah cakupan temanya yang luas. Kitab ini tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan sosialnya.
Tidak mengherankan jika kitab ini bertahan dalam tradisi pengajian pesantren. Bahkan meskipun Abu Laits bermazhab Hanafi, kitabnya tetap dipelajari di banyak pesantren Indonesia yang secara fikih mayoritas bermazhab Syafi'i. Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai pembinaan akhlak dan spiritualitas dalam kitab ini melampaui batas perbedaan mazhab fikih.
Kitab Tanbihul Ghafilin lebih tepat dipandang sebagai karya nasihat, raqa'iq, dan pembinaan hati, bukan kitab utama untuk menetapkan hukum atau memastikan kesahihan sebuah hadis. Oleh karena itu, pembaca perlu membedakan antara pesan moral yang baik dan status hadis yang digunakan untuk mendukungnya.
Bukan untuk Ditelan Mentah-Mentah, tetapi untuk Dibaca dengan Bimbingan
Di sinilah posisi Tanbihul Ghafilin menjadi menarik. Kitab ini bukan karya yang sempurna tanpa catatan, tetapi juga bukan karya yang kehilangan nilai. Ia adalah karya klasik yang memiliki daya spiritual besar sekaligus membutuhkan kehati-hatian ilmiah.
Pembaca awam sebaiknya tidak menjadikan setiap riwayat di dalamnya sebagai hadis sahih tanpa pemeriksaan. Sebaliknya, bagi pelajar pesantren, mahasiswa studi Islam, guru, atau pembaca yang memiliki dasar ilmu hadis, kitab ini justru dapat menjadi bahan yang kaya untuk melihat bagaimana tradisi nasihat Islam bekerja; bagaimana ayat, hadis, hikayat, ancaman, harapan, dan kisah digunakan untuk membentuk kesadaran moral.
Indentitas Kitab
- Judul: Tanbihul Ghafilin (Nasihat bagi Orang-Orang yang Lalai)
- Penulis: Abu Laits Nashr bin Muhammad bin Ibrahim As-Samarqandi
- Penerbit: Al-Haramain, Indonesia
- Cetakan: I, 2001
- Tebal: 266 Halaman
- No. Pendaftaran: C00200702787
- No. Sertifikat Merek: IDM000190564
- Genre: Agama/Panduan Praktis Penunjang Kepustakaan