Ulasan

Ulasan Na Willa: Ketika Dunia Sederhana Anak-Anak Mengajarkan Arti Bertumbuh

Ulasan Na Willa: Ketika Dunia Sederhana Anak-Anak Mengajarkan Arti Bertumbuh
Na Willa (IMDb)

Na Willa merupakan film drama keluarga bernuansa musikal yang menjadi debut Ryan Adriandhy dalam mengarahkan film live action. Ceritanya diangkat dari buku Na Willa: Serial Catatan Kemarin karya Reda Gaudiamo, yang telah lebih dahulu dikenal pembaca sejak diterbitkan pada 2012. Film ini menghadirkan Luisa Adreena sebagai Willa, dengan Irma Rihi memerankan Mak Marie, Junior Liem sebagai Pak Paul, serta Freya Mikhayla, Azamy Syauqi, dan Arsenio Rafisqy sebagai Farida, Dul, dan Bud. Kini, film tersebut dapat disaksikan melalui Netflix.

Kisah Masa Kecil di Gang Surabaya

Na Willa (IMDb)
Na Willa (IMDb)

Cerita berpusat pada Willa, anak perempuan berusia enam tahun yang menjalani masa kanak-kanaknya di sebuah gang di Surabaya pada dekade 1960-an. Bagi Willa, lingkungan tempat tinggalnya merupakan sebuah dunia kecil yang penuh petualangan. Ia menghabiskan waktu dengan bermain bersama Dul, Bud, dan Farida, menjadikan hal-hal sederhana terasa begitu menyenangkan.

Kehidupan Willa juga tidak lepas dari kehadiran kedua orang tuanya. Ia tinggal bersama Mak Marie dan Pak Paul, seorang pelaut yang membuatnya terbiasa dengan kepergian sang ayah dalam waktu tertentu. Namun, setiap kali kembali dari pelayaran, Pak Paul membawa sesuatu yang istimewa bagi Willa, yakni buku-buku cerita yang semakin memperluas imajinasinya.

Keceriaan masa kecil Willa perlahan terusik ketika salah satu sahabatnya mengalami kecelakaan. Pada saat yang hampir bersamaan, teman-teman lainnya mulai memasuki dunia sekolah. Lingkungan yang sebelumnya selalu ramai mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Tidak ingin terus berada dalam kesendirian, Willa mengambil keputusan dengan caranya sendiri. Ia ingin bersekolah di taman kanak-kanak agar dapat kembali merasakan kebersamaan bersama teman-temannya. Namun, sekolah ternyata bukan sekadar tempat untuk bermain. Ada aturan, batasan, dan orang dewasa dengan cara pandang yang berbeda dari dunia polos milik Willa.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan Willa memahami kehidupan. Ia mulai menyadari bahwa menjadi lebih besar berarti berhadapan dengan perubahan, kehilangan sesuatu yang sebelumnya terasa akrab, serta belajar menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

Pengalaman Menonton yang Membawa Kembali Masa Kecil

Na Willa (IMDb)
Na Willa (IMDb)

Saya sendiri tidak sempat menyaksikan Na Willa ketika film ini masih diputar di bioskop. Rasa penasaran justru membawa saya untuk segera menontonnya setelah tersedia di Netflix. Dari awal hingga akhir, saya merasa film ini benar-benar mengajak penonton masuk ke dalam dunia anak-anak.

Saat menontonnya, saya bahkan tidak merasa perlu memikirkan banyak hal. Dunia Willa terasa begitu sederhana, tetapi justru di situlah letak daya tariknya. Melihat bagaimana anak-anak menemukan kesenangan dari hal-hal kecil membuat saya teringat bahwa saya pun pernah memiliki dunia seperti itu sebelum akhirnya tumbuh dewasa dan melihat kehidupan dengan cara yang jauh lebih kompleks.

Saya juga menyukai pilihan tone warna yang digunakan sepanjang film. Rumah Willa pun memiliki karakter visual yang menarik dan terasa berbeda. Salah satu momen favorit saya adalah ketika Willa akhirnya berhasil membaca dan menulis. Rasa ingin tahunya yang besar juga menjadi salah satu hal yang membuat karakter ini terasa hidup dan menggemaskan.

Namun, ada satu adegan yang benar-benar emosional bagi saya, yaitu ketika Willa terlibat pertengkaran dengan gurunya, Bu Tini. Saya sampai menangis melihat bagaimana seorang anak kecil bisa mendapatkan penghakiman dari orang dewasa. Menurut saya, anak seusia Willa seharusnya mendapatkan ruang untuk memahami kesalahan, bukan langsung ditempatkan dalam posisi yang membuatnya merasa bersalah tanpa melihat kepolosan dan proses belajarnya.

Saya menikmati penampilan seluruh pemeran dalam film ini. Karakter-karakternya terasa menghibur, lucu, dan beberapa situasi bahkan berhasil membuat saya tertawa. Namun, di balik kesederhanaan dan kelucuannya, Na Willa menyimpan pesan yang cukup dalam mengenai masa kanak-kanak.

Film ini mengingatkan bahwa rasa ingin tahu merupakan bagian penting dalam perkembangan seorang anak. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari kepala mereka seharusnya tidak dianggap mengganggu. Orang tua dan orang dewasa justru perlu memberikan jawaban dengan terbuka, jujur, serta sesuai dengan kemampuan anak dalam memahaminya.

Selain itu, Willa juga memperlihatkan bahwa anak-anak pada dasarnya melihat dunia tanpa banyak sekat. Mereka belum membawa berbagai prasangka yang sering muncul dalam kehidupan orang dewasa. Karena itu, lingkungan di sekitar mereka memiliki peran besar dalam membentuk cara mereka memandang perbedaan.

Pada akhirnya, Na Willa bukan hanya cerita tentang seorang anak yang ingin bersekolah. Film ini merupakan kisah mengenai keberanian menghadapi perubahan dan menerima bahwa masa kecil tidak selamanya bisa dipertahankan. Tumbuh dewasa berarti meninggalkan sebagian hal yang pernah kita cintai, kemudian belajar menemukan kebahagiaan dalam fase kehidupan berikutnya.

Bagi saya, Na Willa berhasil menjadi tontonan yang hangat, sederhana, sekaligus menyentuh. Film ini membuat saya tertawa, bernostalgia, bahkan menangis pada beberapa bagian. Dengan seluruh pesan dan pengalaman yang ditawarkannya, saya memberikan 8/10 untuk Na Willa.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda