Ulasan

Masjid Auliya Setono Gedong, Jejak Islam dan Daha di Tengah Kediri Kota

Masjid Auliya Setono Gedong, Jejak Islam dan Daha di Tengah Kediri Kota
Areal dalam Masjid Auliya Setono Gedong, Kota Kediri yang sudah mengalami beberapa kali pemugaran. (Dok Pribadi/W.S Nurbaiti)

Di tengah ramainya kawasan Jalan Daha, Kediri Kota, ada sebuah tempat yang mungkin cukup mudah dilewati begitu saja. Padahal, di balik gerbangnya tersimpan cerita panjang tentang perjalanan Islam dan jejak peradaban masa lalu.

Masjid Auliya Setono Gedong berada di Jalan Dhoho atau Jalan Setono Gedong, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Lokasinya cukup dekat dengan pusat perbelanjaan dan berada di seberang Stasiun Kediri Kota.

Namun, masjid tersebut bukan sekadar tempat ibadah yang kebetulan berada di pusat kota. Bangunannya berdiri dalam kompleks makam Syekh Wasil Syamsuddin, seorang ulama yang dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam pada masa Kerajaan Kediri.

Jika masuk lebih jauh, kawasan masjid akan membawa pengunjung pada pertemuan berbagai lapisan sejarah, mulai dari masa Hindu-Buddha hingga perkembangan Islam di Kediri.

Masjid yang Berdiri di Tengah Jejak Daha Kuno

Kompleks Masjid Auliya Setono Gedong berada di area sekitar tiga hektar. Kawasannya terbagi menjadi beberapa bagian dengan fungsi dan karakter masing-masing.

Bagian depan menjadi lokasi masjid induk. Kemudian di bagian tengah terdapat pendopo yang berdiri di atas struktur candi lama. Sementara area belakang digunakan sebagai kompleks makam.

Pembagian tersebut membuat kawasan Setono Gedong terasa berbeda dibanding masjid pada umumnya. Pengunjung tidak hanya datang untuk shalat, tetapi juga berziarah dan melihat jejak sejarah yang masih tersisa.

Apalagi lokasi masjid berada tidak jauh dari kawasan pusat aktivitas masyarakat Kota Kediri. Di satu sisi ada Jalan Dhoho yang ramai dengan aktivitas perdagangan, sementara di sisi lain berdiri Stasiun Kediri.

Di tengah kesibukan kota itulah Masjid Auliya Setono Gedong seperti menjadi ruang yang menyimpan cerita dari masa yang jauh lebih tua.

Dari Hindu-Budha hingga Islam

Masjid Auliya Setono Gedong berdiri di atas kawasan yang memiliki kaitan dengan situs peninggalan masa Hindu-Budha dan perkembangan Islam. Hal tersebut membuat kawasan tersebut memiliki nilai sejarah yang cukup menarik. Setono Gedong menjadi salah satu bagian dari jejak Daha kuno yang kemudian bersinggungan dengan perkembangan Islam di Kediri.

Perjalanan sejarahnya juga terlihat dari arsitektur yang tidak hanya membawa satu pengaruh budaya. Bangunan masjid memiliki gaya arsitektur yang bisa disebut multikultural. Salah satu bagian yang menarik adalah atap bersusun yang memiliki pengaruh Tionghoa.

Ornamen pada dinding juga menjadi bagian yang membuat bangunan masjid mempunyai karakter tersendiri. Perpaduan berbagai pengaruh tersebut membuat Setono Gedong tidak terasa seperti bangunan yang lahir dari satu zaman saja.

Renovasi Mengubah Wajah, Gerbang Tetap Bertahan

Gerbang depan Masjid Auliya Setono Gedong hingga sekarang masih dipertahankan seperti bentuk awal bangunan berdiri. (Foto. W.S Nurbaiti)
Gerbang depan Masjid Auliya Setono Gedong hingga sekarang masih dipertahankan seperti bentuk awal bangunan berdiri. (Foto. W.S Nurbaiti)

Seiring berjalannya waktu, Masjid Auliya Setono Gedong tentu tidak bisa sepenuhnya mempertahankan bentuk lamanya. Catat penulis pada 1951, masjid mulai mengalami renovasi. Setelah itu, beberapa kali pemugaran kembali dilakukan untuk menyesuaikan bangunan dengan kebutuhan jamaah.

Renovasi besar kemudian dilakukan pada 2007. Perubahan tersebut membuat sejumlah bagian bangunan asli tidak lagi bertahan seperti bentuk awalnya. Namun, masih ada bagian yang menjadi pengingat tentang wajah lama masjid.

Gerbang depan Masjid Auliya Setono Gedong hingga sekarang masih dipertahankan seperti bentuk awal bangunan berdiri. Bagi sebuah bangunan yang telah melewati perjalanan panjang, keberadaan gerbang lama tentu bukan sekadar bagian dari pintu masuk. Ia menjadi semacam penghubung antara Setono Gedong masa lalu dengan wajahnya yang kita lihat hari ini.

Ramai Peziarah, Tanda Tak Lupa Sejarah

Masjid Auliya Setono Gedong menjadi salah satu tujuan wisata religi yang cukup ramai di Kota Kediri. Kompleks makam Syekh Wasil Syamsuddin menjadi salah satu daya tarik utama. Pengunjung datang untuk berziarah sekaligus menikmati suasana kawasan yang menyimpan banyak cerita sejarah.

Keramaian biasanya semakin terasa ketika memasuki bulan Ramadan maupun hari-hari besar Islam. Namun, daya tarik Setono Gedong sebenarnya tidak hanya terletak pada aktivitas ziarah.

Ada sejarah, arsitektur, dan jejak peradaban yang saling bertemu dalam satu kawasan. Pengunjung bisa datang untuk beribadah, berziarah, atau sekadar melihat bagaimana sebuah tempat mampu bertahan di tengah perubahan kota.

Jika hanya melihat lokasinya, Masjid Auliya Setono Gedong mungkin tampak seperti salah satu masjid yang berada di tengah padatnya Kota Kediri. Namun, cerita di baliknya membuat tempat tersebut menjadi jauh lebih menarik.

Ada makam Syekh Wasil Syamsuddin, ada jejak Daha kuno, ada struktur yang berkaitan dengan masa Hindu-Buddha, ada pengaruh arsitektur Tionghoa, hingga gerbang lama yang masih bertahan setelah berkali-kali renovasi. Semua cerita tersebut bertemu dalam satu kawasan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda