Ulasan

Review Film Mantis: Saat Ambisi Berubah Jadi Pertarungan Hidup dan Mati

Review Film Mantis: Saat Ambisi Berubah Jadi Pertarungan Hidup dan Mati
Film Mantis (IMDb)

Saat mendengar judul Mantis, saya sempat berpikir, ini adalah versi film dari serial Queen Mantis, tapi ternyata beda. Di luar dugaan saya, film ini ternyata merupakan spin-off dari film Kill Boksoon.

Film Mantis memperlihatkan situasi di dunia para pembunuh bayaran setelah kehancuran MK Ent. yang sebelumnya menaungi mereka.

Jadi selain menyajikan aksi yang intens, film ini juga menunjukkan bagaimana para pembunuh bayaran yang menganggur itu membangun hidup mereka dari nol dan konflik perebutan posisi puncak pembunuh bayaran.

Sinopsis Film Mantis

Kisah di film Mantis fokus pada pembunuh bayaran bernama Lee Han-ul (Im Si-wan) yang memiliki julukan Mantis. Saat kembali ke Korea setelah libur panjangnya, ia mendapati organisasi yang menaungi dirinya telah hancur usai terbunuhnya Cha Min-kyu dan Cha Min-hee di tangan Gil Bok-soon. 

Sejak hancurnya perusahaan MK Ent., situasi di dunia pembunuh bayaran menjadi kacau. Banyak di antara mereka yang berakhir jadi pengangguran.

Di tengah situasi kacau itu, Mantis bertemu lagi dengan Shin Jae-yi (Park Gyu-young), rival masa lalunya, dan juga Dok-go (Jo Woo-jin) yang merupakan mentornya di MK dulu. Pertemuan itu membawa ketiganya pada konflik perebutan kekuasaan yang memaksa mereka saling bertarung.

Ulasan Film Mantis

Sejujurnya, kalau bicara tentang eksekusi ide cerita dari awal sampai akhir, saya merasa film ini kurang memuaskan. Bukan karena premisnya nggak menarik, tapi terlalu banyak dialog yang membuat alur terasa agak bertele-tele dan membosankan. Saya bahkan sempat tertidur di beberapa menit awal. Apalagi ending ceritanya juga terkesan biasa saja.

Namun, kalau soal aksi, koreografi adegan laga di film ini sangat patut diapresiasi. Baik Im Si-wan maupun Park Gyu-young menampilkan performa menarik sebagai dua pembunuh bayaran yang berhubungan baik, tapi juga saling bersaing secara sengit. Beberapa kali mereka melakukan adegan aksi dengan koreografi yang memukau penonton.

Selanjutnya, kita bahas karakter Lee Han-ul atau Mantis yang diperankan oleh Im Si-wan. Jujur saja, sejak awal saya kurang suka dengan karakternya di film ini.

Menjadi yang terkuat di antara pembunuh bayaran lain membuat Mantis sering kali meremehkan kemampuan rekan-rekannya.

Ketika ia mendirikan perusahaan pun, ia jarang memberikan "pekerjaan" yang cukup bagus kepada pembunuh bayaran lain di bawah naungannya.

Namun, meski dikenal kejam, Mantis sebenarnya juga mempunyai sisi manusiawi. Di beberapa adegan, ia ditunjukkan sebagai sosok yang cukup rapuh secara emosional. Menurut saya, inilah yang membuat karakter Mantis terasa unik dan berbeda.

Selain Mantis, karakter Jae-yi pun nggak kalah menarik. Sebagai rival, dia selalu ingin menang dari Mantis. Menariknya, hubungan antara dirinya dengan Mantis di sini bukan sekadar rival biasa.

Ada keterikatan kuat yang membuat keduanya sulit lepas satu sama lain. Hal ini membuat perasaan Jae-yi terasa kompleks. Ia sebenarnya juga memiliki perasaan terpendam pada Mantis. Sayangnya, perasaan itu kemudian bercampur dengan rasa iri sekaligus obsesi besar untuk melampaui kemampuan Mantis.

Karakter Jae-yi sendiri digambarkan sebagai sosok yang sangat ambisius. Penolakan sang mentor di masa lalu yang membuat ia berakhir didepak dari MK membuat Jae-yi tumbuh dengan obsesi untuk membuktikan bahwa dia layak berada di puncak dunia gelap mereka.

Jika orang lain hanya melihat sosoknya dari luar, mungkin mereka menilai Jae-yi sebagai perempuan dingin, karismatik, ambisius, dan berani.

Namun, sebenarnya ia menyimpan luka masa lalu yang dalam akibat perasaan tidak dihargai dan dibuang oleh perusahaan MK Ent. yang lebih memilih Lee Han-ul daripada dirinya.

Terlepas dari semuanya, film Mantis menunjukkan bagaimana ambisi dan keserakahan bisa menghancurkan seseorang. Ketiga tokoh utama di film ini, misalnya. Perebutan mereka untuk menjadi yang paling berkuasa di MK sekaligus jadi pembunuh bayaran nomor satu akhirnya malah merusak hubungan dan membuat mereka harus saling membunuh.

Selain itu, film ini juga memperlihatkan bahwa kekerasan bukanlah solusi dari setiap persoalan. Bahkan di dunia pembunuh bayaran yang gelap dan dipenuhi dengan pengkhianatan sekalipun, tiap tindakan kejam yang dilakukan seseorang hanya akan melahirkan dendam dan kekejaman yang lain.

Kemudian dari karakter Jae-yi dan Mantis kita juga belajar tentang sulitnya merintis sebuah usaha baru. Mantis dengan karakternya yang cenderung egois berakhir ditinggalkan anggotanya beberapa waktu setelah merintis organisasi pembunuh bayaran seperti MK. Ini menunjukkan bahwa kehebatan seseorang tidak lantas membuat ia bisa menjadi pemimpin.

Sebab seorang pemimpin juga perlu memahami orang-orang yang bekerja bersamanya dan mampu membangun kepercayaan, bukan hanya mengandalkan kemampuan pribadi. Sebab, sehebat apa pun seseorang, ia tetap membutuhkan orang lain untuk membuat sebuah kelompok bisa bertahan.

Secara keseluruhan, film Mantis memang menawarkan adegan aksi dengan koreografinya yang memukau. Sayangnya, eksekusi film ini sedikit kurang memuaskan karena beberapa bagian alurnya cukup bertele-tele dan terlalu banyak dialog yang justru bikin penonton bosan.

Namun, bagi penggemar genre action, film ini tetap layak ditonton. Hanya saja, saya sarankan untuk menonton Kill Boksoon terlebih dahulu agar bisa lebih memahami keseluruhan ceritanya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda