Ulasan

'Seni Merayu Tuhan': Ketika Tobat Datang Bukan Karena Alim, Tapi Karena Hancur Kehilangan

'Seni Merayu Tuhan': Ketika Tobat Datang Bukan Karena Alim, Tapi Karena Hancur Kehilangan
Foto Film Seni Merayu Tuhan (Instagram/ filmsenimerayutuhan)

Film religi sering punya persoalan yang sama: manusia biasanya baru boleh disebut berubah setelah terlihat benar. Setelah menemukan Tuhan, hidup mendadak lebih tertata, ibadah lebih rajin, sikap lebih lembut, lalu konflik batin perlahan menghilang seperti memang sudah seharusnya begitu. Pola semacam ini memang hangat ditonton, karena penonton diberi gambaran yang jelas tentang perjalanan dari gelap menuju terang.

Seni Merayu Tuhan, sebaliknya, memilih jalan yang lebih berantakan. Film produksi Wahana Kreator ini nggak menempatkan hijrah sebagai garis lurus menuju kesempurnaan. Hikmah, tokoh utama yang diperankan Ari Irham, datang kepada Tuhan dengan membawa rasa bersalah, kebingungan, kehilangan, bahkan pertanyaan yang mungkin terasa nggak pantas untuk diucapkan. 

Disutradarai Cesa David Luckmansyah dalam debut penyutradaraannya, film berdurasi ±115 menit ini diadaptasi dari buku karya Habib Husein Ja'far Al Hadar. Skenarionya ditulis Salman Aristo, Gina S. Noer, Rino Sarjono, dan Habib Ja'far. Salman Aristo dan Sigit Pratama duduk sebagai produser. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 13 Agustus 2026 dengan genre drama dan rating 13+. 

Pemerannya terdiri dari Ari Irham sebagai Hikmah, Lutesha sebagai Sophia, Teuku Ryzki sebagai Hotib, serta Rieke Diah Pitaloka sebagai Halimah, ibu Hikmah. Sita Nursanti, Onadio Leonardo, Alfie Alfandy, Arie Kriting, Guzman Sige, Darren Rafid Khairan, Faudiyah Sari Chaniago, Miing Bagito, Irgi Fahrezi, Rania Putri Sari, dan Habib Husein Ja'far Al Hadar juga terlibat dalam film ini. 

Ceritanya terkait Hikmah, pemuda yang sedang menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman dan Sophia, kekasihnya yang berbeda agama, sementara hubungan dengan ibunya semakin jauh. Pesan dan panggilan sang ibu sering diabaikan. Urusan spiritual pun semakin ditinggalkan sampai Hikmah sendiri lupa kapan terakhir kali mendekat pada Tuhan. 

Kehidupan yang selama ini biasa saja mendadak runtuh ketika ibunya meninggal. Penyesalan langsung datang bersama kehilangan. Hikmah mulai berhadapan dengan semua perhatian yang dulu dia abaikan, nasihat yang pernah dia anggap sepele, serta hubungan ibu dan anak yang sudah nggak mungkin diperbaiki.

Persoalannya menjadi semakin pelik ketika sang ibu terus muncul dalam mimpi Hikmah. Dari sinilah perjalanan spiritualnya bergerak. Hikmah merasa perlu mencari cara agar ibunya bisa tenang di alam sana. Dia kemudian menjalani perjalanan bersama Hotib, sahabat masa kecilnya, dan Sophia untuk memahami kembali arti keikhlasan serta keimanan yang selama ini jauh dari hidupnya. 

Menariknya, perjalanan tersebut nggak otomatis membuat Hikmah berubah menjadi manusia yang langsung memahami semuanya. Lalu, apakah Hikmah mampu menangkap arti mimpi tentang ibunya dan meraih arti hidup sesungguhnya? Tonton langsung di bioskop, ya!

Membicarakan Hijrah yang Nggak Sesederhana Itu

Foto Film Seni Merayu Tuhan (Instagram/ filmsenimerayutuhan)
Foto Film Seni Merayu Tuhan (Instagram/ filmsenimerayutuhan)

Jujur saja aku merasa Film Seni Merayu Tuhan punya sesuatu yang lebih menarik dibandingkan film religi yang hanya menjadikan hijrah sebagai cerita perubahan perilaku. Sosok Hikmah di sini, datang kepada Tuhan dalam keadaan kacau. Dia nggak punya bekal jawaban yang lengkap. Bahkan datang karena kehilangan sesuatu yang sangat dia cintai. Bagiku ini jauh lebih manusiawi, karena kebanyakan manusia memang begitu. Ups. 

Kita sering membicarakan hijrah seolah-olah prosesnya sederhana. Seseorang yang sebelumnya jauh dari agama kemudian mulai beribadah, memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, lalu selesai. Seakan-akan setelah menemukan Tuhan, semua persoalan dalam diri ikut mendapatkan jawaban.

Padahal menjadi manusia nggak semudah itu. Ya. Seseorang bisa mulai rajin beribadah sambil tetap marah. Mulai belajar agama tapi masih menyimpan ego. Berusaha menjadi lebih baik, eh, sesekali kembali melakukan kesalahan yang sama. Pun bisa percaya Tuhan kendati masih bertanya-tanya kenapa sesuatu yang begitu menyakitkan harus terjadi. Dan sosok Hikmah berada di zona tersebut.

Ari Irham sendiri menggambarkan proses memainkan Hikmah sebagai eksplorasi terhadap duka, kebingungan, sifat impulsif, dan kehilangan arah. Ini menarik karena memperlihatkan karakter Hikmah memang sejak awal dirancang bukan sebagai sosok yang sudah punya pegangan kuat, melainkan seseorang yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri setelah mengalami kehilangan besar. 

Seriusan deh, aku suka gagasan film religi yang berani memperlihatkan manusia dalam kondisi seperti ini. Sebab kalau agama hanya ditampilkan melalui manusia yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, penonton yang masih berantakan bisa merasa cerita semacam itu terlalu jauh dari kehidupan mereka. Seolah-olah Tuhan hanya bisa dicari setelah seseorang menjadi versi terbaik dirinya.

Di sinilah judul filmnya terasa semakin menarik. ‘Merayu Tuhan’ terdengar seperti usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Hikmah ingin ibunya tenang. Dia ingin menemukan jawaban, mengurangi rasa bersalah, dan memahami sesuatu yang sudah telanjur terjadi. Semua keinginan itu sangat manusiawi.

Namun perjalanan tersebut perlahan bisa dibaca sebagai sesuatu yang lebih besar ketimbang sebatas usaha mendapatkan apa yang diinginkan. Hikmah sedang belajar, hubungan dengan Tuhan bukan transaksi. Doa bukan tombol untuk mengembalikan orang yang sudah pergi. Ibadah juga bukan tiket supaya hidup otomatis terbebas dari masalah. Mendekat kepada Tuhan nggak menjamin manusia berhenti merasakan kehilangan.

Karena itu, aku nggak melihat Seni Merayu Tuhan semata-mata sebagai film tentang anak yang kembali rajin beribadah setelah ibunya meninggal. Film ini lebih menarik ketika dibaca sebagai cerita tentang seseorang yang sedang belajar menjadi manusia setelah kehilangan orang yang selama ini diam-diam menjadi rumahnya.

Kelemahannya, pendekatan reflektif semacam ini juga membuat ritmenya terasa pelan. Beberapa perjalanan emosional memang waktu sebelum sampai pada titik yang ingin dituju. Namun menurutku, tempo tersebut masih sejalan dengan gagasan utama film. Yakni, perubahan batin memang jarang terjadi dalam satu malam.

Jadi, apakah Sobat Yoursay juga tertarik nonton Film Seni Merayu Tuhan? 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda