Ulasan

Review Serial X-Men '97 Season 1: Keberhasilan Nostalgia yang Sangat Keren!

Review Serial X-Men '97 Season 1: Keberhasilan Nostalgia yang Sangat Keren!
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 1 (IMDb)

X-Men '97 Season 1 merupakan kelanjutan resmi dari serial animasi klasik X-Men: The Animated Series (1992–1997). Serial ini memulai penayangan perdana pada 20 Maret 2024 di Disney+ dengan total sepuluh episode berdurasi sekitar 30–36 menit per episode. Di wilayah Indonesia, serial ini tersedia melalui Disney+ sejak akhir Maret 2024, sehingga seluruh Season 1 dapat ditonton secara penuh dan eksklusif di platform tersebut bagi pelanggan aktif.

Petualangan Epik Penuh Emosi yang Menembus Batas

Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 1 (IMDb)
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 1 (IMDb)

Cerita dilanjutkan kurang lebih setahun setelah peristiwa penutup serial asli. Profesor Charles Xavier meninggalkan Bumi untuk pemulihan di tengah peradaban Shi’ar setelah cedera serius. Kepemimpinan X-Men sementara dialihkan kepada Cyclops (Scott Summers), sementara Magneto muncul dengan wasiat Xavier yang menempatkannya sebagai pemimpin baru. Tim menghadapi meningkatnya permusuhan anti-mutan dari kelompok Friends of Humanity, ancaman teknologi Sentinel yang diperbarui, serta konflik internal yang mendalam. Konflik utama mencakup dilema kepemimpinan Magneto, hubungan romantis yang rumit—terutama antara Cyclops, Jean Grey, dan klon Jean yang dikenal sebagai Madelyne Pryor—serta ancaman genosida di pulau mutan Genosha. Musuh utama baru, Bastion, muncul sebagai ancaman sistematis yang mengancam kelangsungan hidup mutan secara global.

Serial ini berhasil menggabungkan elemen nostalgia dengan narasi yang lebih dewasa. Banyak pengisi suara original kembali, termasuk Cal Dodd sebagai Wolverine, Alison Sealy-Smith sebagai Storm, Lenore Zann sebagai Rogue, dan George Buza sebagai Beast, yang memperkuat koneksi emosional dengan serial pendahulunya. Karakter baru seperti Sunspot (Roberto da Costa) diperkenalkan secara natural sebagai jembatan bagi penonton baru. Gaya animasi mempertahankan estetika 1990-an sambil meningkatkan kualitas visual, koreografi aksi, dan detail ekspresi yang lebih ekspresif. Musik tema klasik diadaptasi dengan orkestrasi modern yang memperkuat atmosfer epik.

Review Serial X-Men '97 Season 1

Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 1 (IMDb)
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 1 (IMDb)

Dari segi kekuatan naratif, Season 1 menonjol karena keseimbangan antara aksi spektakuler, drama interpersonal, dan metafora sosial mengenai diskriminasi serta toleransi. Episode-episode awal membangun kembali dinamika tim dan memperkenalkan ancaman baru, sementara episode tengah hingga akhir mempercepat eskalasi konflik menuju klimaks yang intens. Kurasa, serial ini sebagai salah satu adaptasi X-Men terbaik, baik animasi maupun live-action. Serial ini setia pada sumber komik sekaligus berani mengambil risiko dramaturgi yang lebih gelap dan emosional dibanding serial original.

Adegan aksi paling seru terdapat pada beberapa momen kunci. Perkelahian awal melawan Master Mold dan Sentinel di episode pertama menampilkan kerja sama tim yang sangat terkoordinasi. Gambit mengisi cakar Wolverine dengan energi kinetik, Morph berubah menjadi Blob sebagai pegas, dan Wolverine diluncurkan seperti peluru untuk memenggal kepala Master Mold dalam satu gerakan yang dinamis dan memuaskan.

Adegan serangan Sentinel terhadap Genosha di episode yang berjudul Remember It juga sangat memukau secara visual, dengan skala kehancuran yang masif dan penggunaan kekuatan mutan yang maksimal di tengah kekacauan. Pertarungan Wolverine dan Nightcrawler melawan hibrida Sentinel-manusia, serta bentrokan X-Men versus Magneto di Asteroid M, menampilkan koreografi yang cepat, brutal, dan penuh kreativitas pemanfaatan kekuatan masing-masing karakter.

Adegan yang paling melekat di ingatanku terjadi di episode Remember It, saat Gambit mengorbankan nyawanya. Di tengah genosida yang melanda Genosha, Gambit mengerahkan seluruh sisa energinya untuk memusnahkan Tri-Sentinel raksasa demi menyelamatkan Rogue dan para mutan tersisa. Kalimat pamungkasnya yang begitu ikonik, “The name’s Gambit, mon ami. Remember it,” yang disusul gugurnya sang pahlawan secara tragis, menghadirkan efek emosional yang sangat dahsyat.

Momen ini tak cuma jadi klimaks pertarungan, tapi juga titik balik emosional yang mempertegas tema pengorbanan serta rasa kehilangan. Adegan lain yang nggak kalah berkesan yaitu saat Magneto melepaskan gelombang elektromagnetik ke seluruh dunia meluapkan kemarahannya atas insiden Genosha, serta perselisihan psikis dan emosional antara Jean Grey dengan klonnya, Madelyne Pryor.

Secara keseluruhan, X-Men ’97 Season 1 berhasil menghidupkan kembali semangat serial klasik sambil menyajikan cerita yang lebih matang, padat, dan relevan. Serial ini tidak hanya memuaskan penggemar lama, tetapi juga menarik bagi penonton baru melalui karakterisasi yang kuat, aksi yang spektakuler, dan pesan moral yang tetap relevan.

Ketersediaan penuh di Disney+ Indonesia memungkinkan penonton untuk menikmati seluruh perjalanan Season 1 tanpa hambatan. Dengan kualitas produksi yang tinggi dan penanganan tema yang bijaksana, serial ini berdiri sebagai salah satu pencapaian animasi superhero Marvel yang paling berkesan dalam beberapa tahun terakhir. Rating pribadi: 7.9/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda