Ulasan

Review Film Fiksi.: Ketika Cinta Berubah Menjadi Obsesi Mematikan

Review Film Fiksi.: Ketika Cinta Berubah Menjadi Obsesi Mematikan
Fiksi (IMDb)

Fiksi. merupakan film drama thriller psikologis Indonesia yang disutradarai oleh Mouly Surya dan pertama kali hadir di layar lebar pada Juni 2008. Dibintangi Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, dan Kinaryosih, film ini membawa penonton masuk ke kehidupan sebuah rumah susun di Jakarta yang dipenuhi berbagai karakter dengan persoalan masing-masing. Pusat ceritanya adalah Alisha, perempuan muda dari keluarga berada yang hidup dalam kesepian dan memiliki kecenderungan membangun dunia fantasinya sendiri.

Gagasan film ini terinspirasi dari pembalikan cerita Alice in Wonderland karya Lewis Carroll. Alih-alih membawa tokohnya menuju dunia ajaib yang menyenangkan, Mouly Surya menciptakan ruang yang semakin lama terasa ganjil, gelap, dan mengancam. Sebagian besar adegan Fiksi. juga direkam di Rumah Susun Bendungan Hilir 2, Jakarta, sehingga lingkungan tempat tinggal para tokohnya terasa nyata dan dekat dengan kehidupan urban. Film ini kini dapat disaksikan melalui Netflix.

Ketika Fantasi Mengambil Alih Kenyataan

Fiksi (IMDb)
Fiksi (IMDb)

Alisha yang diperankan Ladya Cheryl merupakan perempuan berusia sekitar 20 tahun yang hidup dalam kemewahan, tetapi justru merasa terkurung. Rumah besar yang seharusnya memberikan kenyamanan menjadi semacam penjara bagi dirinya. Trauma masa lalu semakin memperburuk kondisi psikologisnya. Ketika masih kecil, Alisha menyaksikan ibunya mengakhiri hidup setelah mengetahui perselingkuhan ayahnya. Peristiwa tersebut meninggalkan luka yang kemudian memengaruhi cara Alisha memahami cinta dan hubungan dengan orang lain.

Di sisi lain, terdapat Bari (Donny Alamsyah), penulis yang tengah mengalami kebuntuan dalam menyelesaikan tulisannya. Ia mencari nafkah tambahan dengan bekerja paruh waktu di rumah keluarga Alisha. Bari tinggal di sebuah rumah susun sederhana bersama kekasihnya, Renta (Kinaryosih).

Pertemuan Alisha dengan Bari bermula dari sebuah kejadian kecil ketika Bari tanpa sengaja mengambil miniatur kelinci miliknya. Ketertarikan yang awalnya tampak sederhana berkembang menjadi keinginan yang semakin tidak sehat. Alisha kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya dan menyewa kamar di rumah susun yang berdekatan dengan tempat tinggal Bari dan Renta.

Alisha memasuki kehidupan Bari dengan menampilkan dirinya sebagai perempuan polos dan tidak berbahaya. Namun, di balik sikap tersebut, ia mulai mengatur berbagai kejadian di lingkungan rumah susun. Peristiwa-peristiwa yang ia ciptakan kemudian dapat digunakan Bari sebagai inspirasi untuk menulis.

Di sinilah batas antara kenyataan dan imajinasi perlahan menghilang. Alisha bukan lagi sekadar pembaca atau pengagum cerita Bari, tetapi berusaha menjadi pengendali kehidupan yang ingin ia jadikan sesuai dengan fantasinya. Keinginannya untuk memiliki Bari pun membuat hubungan Bari dan Renta menjadi sasaran manipulasi.

Semakin jauh cerita bergerak, tindakan Alisha berubah dari sekadar campur tangan menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Film ini memperlihatkan bagaimana obsesi dapat mengikis batas moral seseorang hingga tindakan menguntit, melanggar privasi, bahkan kekerasan dianggap sebagai jalan menuju tujuan.

Pelajaran tentang Cinta, Trauma, dan Kesehatan Mental

Fiksi (IMDb)
Fiksi (IMDb)

Meskipun Fiksi. telah dirilis pada 2008, menurut saya film ini masih memiliki daya tarik untuk ditonton sekarang. Secara visual, memang terdapat nuansa yang membuatnya terasa seperti film dari era tersebut, tetapi justru karakter visual dan tone yang digunakan Mouly Surya memperkuat atmosfer psikologisnya. Ada kesan muram, asing, dan mengancam yang terus terasa sepanjang film.

Saat menontonnya, saya beberapa kali merasa tidak nyaman dan gelisah. Film ini tidak selalu mengandalkan adegan mengejutkan untuk menciptakan ketegangan. Sebaliknya, rasa takut muncul melalui perilaku Alisha yang semakin sulit diprediksi. Penonton dibuat bertanya-tanya seberapa jauh ia akan melangkah demi mendapatkan Bari.

Bagi saya, pesan terbesar Fiksi. terletak pada penggambaran cinta yang telah berubah menjadi obsesi. Cinta seharusnya memberikan ruang bagi seseorang untuk memilih dan berkembang, bukan menjadi alasan untuk mengontrol kehidupan orang lain. Alisha salah memahami ketertarikannya kepada Bari hingga menganggap manipulasi sebagai cara yang sah untuk memperoleh cinta.

Film ini juga menunjukkan bahwa luka psikologis yang tidak pernah diproses dapat menghasilkan dampak serius. Trauma masa kecil, minimnya kehangatan keluarga, dan hubungan emosional yang tidak sehat membuat Alisha tumbuh dalam keterasingan. Kekayaan yang dimilikinya tidak mampu mengisi kekosongan tersebut. “Sangkar emas” yang ia tempati justru memperlihatkan bahwa kebutuhan manusia terhadap kasih sayang, perhatian, dan koneksi emosional tidak dapat digantikan oleh materi.

Selain itu, Fiksi. mengingatkan pentingnya kemampuan membedakan fantasi dari kenyataan. Alisha terlalu tenggelam dalam dunia yang ia ciptakan hingga mencoba mengatur kehidupan orang-orang di sekitarnya seperti karakter dalam sebuah cerita. Ketika seseorang terus melarikan diri dari realitas dan menolak batasan moral, konsekuensinya dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Kurangnya komunikasi terbuka juga menjadi salah satu sumber persoalan dalam film. Ketika karakter-karakternya tidak mampu menyampaikan perasaan dan masalah secara jujur, kesalahpahaman semakin berkembang hingga menghasilkan konsekuensi tragis. Dari sisi sosial, film ini juga menyiratkan bahwa perilaku bermasalah sering terlambat dikenali karena orang-orang di sekitar cenderung tidak cukup peka terhadap perubahan seseorang.

Fiksi. bukan sekadar cerita tentang seorang perempuan yang mengejar cinta. Film ini merupakan potret gelap mengenai kesepian, trauma, kebutuhan akan kasih sayang, dan bahaya obsesi yang kehilangan kendali. Kekuatan utamanya terletak pada atmosfer yang konsisten, karakter Alisha yang kompleks, serta kemampuannya membuat penonton merasa tidak tenang tanpa harus terus-menerus mengandalkan teror konvensional.

Bagi saya, Fiksi. layak mendapatkan 7/10. Film ini memang memiliki nuansa produksi yang terasa berasal dari zamannya, tetapi tema psikologis yang diangkat masih relevan dan mampu membuat penonton mempertanyakan batas antara cinta, kepemilikan, fantasi, dan kenyataan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda