Ulasan

Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan

Buku Islam & Kebangsaan: Menemukan Wajah Islam dalam Rumah Kebangsaan
Buku Islam & Kebangsaan karya M. Quraish Shihab (Mizanstore)

Di pusat kehidupan masyarakat yang semakin mudah terbelah oleh perbedaan pilihan politik, identitas keagamaan, bahkan percakapan di media sosial, hubungan antara Islam dan kebangsaan kembali menjadi tema yang penting, buku Islam & Kebangsaan ini hadir untuk menjernihkan persoalan tersebut.

Buku terbitan Lentera Hati pada 2020 ini memiliki sekitar 160-an halaman dalam edisi cetak yang beredar, dengan struktur pembahasan mulai dari istilah bangsa, ummah, dan qawm, sejarah gagasan kebangsaan, respons dunia Islam, hingga pembahasan mengenai bangsa Indonesia dan Pancasila.

Membongkar kerancuan tentang Islam dan kebangsaan

Menurut saya, kekuatan utama buku ini terletak pada keberanian Quraish Shihab membicarakan sesuatu yang sering dianggap sensitif dengan bahasa yang tenang. Ia tidak mengajak pembaca untuk memilih antara Islam atau Indonesia.

Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan beriringan selama kebangsaan dipahami sebagai ruang bersama untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan.

Menurut penuturan M. Quraish Shihab, gagasan buku ini berangkat dari diskusi rutin yang diselenggarakan Yayasan Ikhlas Jakarta setelah peringatan Kemerdekaan Indonesia ke-75. Quraish Shihab melihat masih banyak kerancuan dalam memahami hubungan agama dan kebangsaan.

Pada bagian awal, saya diajak memahami istilah qawm dan ummah. Dua istilah Arab yang kemudian kita kenal sebagai “kaum” dan “umat” ini menjadi pintu masuk untuk memahami konsep bangsa. Yang menarik, pembahasan tidak berhenti pada definisi kamus. Quraish Shihab menghubungkannya dengan sejarah, pengalaman manusia, dan kebutuhan untuk hidup bersama.

Ia juga membandingkan konsep kebangsaan dengan pemikiran Ernest Renan yang menempatkan “keinginan untuk hidup bersama” sebagai salah satu dasar terbentuknya bangsa. Pembahasan mengenai unsur kebangsaan tersebut berada pada bagian awal buku, sekitar halaman 12-14 dalam rujukan yang mengutip buku ini.

Bagi saya, bagian ini penting karena kebangsaan ternyata bukan sekadar soal kesamaan darah, bahasa, suku atau agama. Ada pengalaman sejarah, cita-cita bersama, dan kehendak untuk hidup berdampingan yang ikut membentuknya.

Islam Tidak Mengajarkan Satu Bentuk Negara yang Kaku

Menjadi bagian yang paling menarik bagi saya ketika Quraish Shihab membahas anggapan bahwa negara bangsa bertentangan dengan Islam. Ia mengajak pembaca melihat persoalan secara lebih proporsional.

Islam, menurut uraian buku ini, tidak menetapkan satu sistem pemerintahan yang harus diterapkan secara seragam di setiap tempat dan setiap zaman. Yang lebih ditekankan adalah nilai-nilai yang harus hadir dalam kehidupan bersama.

Oleh karena itu, bentuk penerapannya dapat berbeda sesuai kondisi masyarakat. Pemikiran ini juga ditegaskan dalam diskusi peluncuran buku, ketika Quraish Shihab menjelaskan bahwa Islam lebih menekankan sifat dan nilai daripada bentuk formal.

Saya merasa gagasan ini sangat relevan dengan Indonesia. Kita hidup di negeri yang tidak dibangun dari satu suku, satu bahasa daerah, satu budaya, atau satu agama. Indonesia justru lahir dari kesediaan berbagai kelompok untuk hidup dalam satu rumah besar.

Maka dari itu, mencintai Indonesia tidak semestinya dianggap sebagai ancaman bagi keislaman. Justru cinta tanah air dapat menjadi jalan untuk menghadirkan nilai agama dalam kehidupan sosial, yaitu keadilan, kemanusiaan, persaudaraan, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Pancasila Bukan Lawan Islam

Ketika pembahasan sampai pada Indonesia, buku ini terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Quraish Shihab menunjukkan bagaimana nilai-nilai kebangsaan Indonesia dapat dibaca dalam hubungan yang harmonis dengan nilai-nilai Islam.

Salah satu bagian yang menarik adalah pembahasan mengenai Pancasila. Dalam buku ini ditegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara memiliki keterkaitan antarsila yang tidak dapat dipisahkan. Bagian buku pada halaman 157 mencatat pernyataan bahwa Pancasila menjadi sumber hukum dan bahwa hukum Indonesia tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

“Pancasila adalah sumber hukum.” (hlm. 157).

Kutipan ini sederhana, tetapi pesannya besar. Pancasila bukan sekadar simbol yang kita hafalkan saat upacara. Ia seharusnya menjadi nilai yang hidup dalam perilaku warga negara.

Pada titik ini saya merasa buku ini tidak sedang mengajak pembaca mempertentangkan Islam dan Pancasila. Justru sebaliknya, pembaca diajak melihat bagaimana nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial dapat menjadi ruang perjumpaan bagi seluruh warga Indonesia.

Membaca Sejarah agar Tidak Mudah Terprovokasi

Hal lain yang saya apresiasi adalah cara Quraish Shihab membawa pembaca memahami sejarah lahirnya gagasan kebangsaan. Ia tidak buru-buru memberikan kesimpulan. Pembaca terlebih dahulu diajak melihat bagaimana konsep kebangsaan berkembang di Barat, bagaimana dunia Timur meresponsnya, dan mengapa sebagian masyarakat Muslim sempat memandang nasionalisme sebagai gagasan yang bermasalah.

Cara seperti ini penting karena banyak perdebatan hari ini muncul akibat seseorang mengambil kesimpulan sebelum memahami sejarah.

Buku ini juga menjelaskan bahwa istilah seperti dar al-Islam dan dar al-Kufr bukanlah istilah yang secara eksplisit diperkenalkan Al-Qur’an dan hadis, melainkan berkembang dalam konteks pemikiran dan kondisi sosial-politik tertentu.

Saya menyukai pendekatan tersebut karena Quraish Shihab tidak menyederhanakan persoalan yang sebenarnya memiliki sejarah panjang. Ia mengajak pembaca berpikir sebelum menghakimi.

Mengapa Penting Dibaca Generasi Muda?

Bagi saya, buku ini justru semakin relevan untuk generasi muda. Anak muda hari ini hidup dalam dunia yang sangat terbuka. Informasi tentang agama, politik, ideologi, nasionalisme, dan berbagai paham dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan layar. Masalahnya, tidak semua informasi datang bersama konteks dan penjelasan yang memadai.

Akibatnya, potongan video, kutipan pendek, unggahan media sosial, atau pernyataan tokoh tertentu bisa dengan cepat membentuk cara pandang seseorang.

Di sinilah Islam & Kebangsaan terasa penting. Buku ini mengajarkan bahwa memahami agama tidak cukup dengan mengambil satu-dua potongan dalil. Kita membutuhkan pengetahuan, sejarah, konteks, dan kemampuan melihat persoalan secara utuh.

Generasi muda perlu memahami bahwa menjadi Muslim Indonesia bukanlah identitas yang harus dipertentangkan. Kita dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus warga negara yang bertanggung jawab. Kita bisa mencintai agama tanpa membenci kelompok yang berbeda. Kita bisa mencintai Indonesia tanpa kehilangan identitas keislaman.

Lebih dari itu, kebangsaan seharusnya tidak berhenti pada slogan. Ia harus terlihat dalam tindakan sederhana, menghormati perbedaan, tidak mudah menyebarkan kebencian, menjaga persaudaraan, menaati aturan, merawat lingkungan, membantu tetangga, serta menggunakan media sosial secara bijaksana.

Buku Sederhana dengan Pesan yang Mendalam

Setelah selesai membacanya, saya melihat buku ini sebagai buku yang tidak terlalu tebal, tetapi membawa persoalan yang besar. Gaya bahasa Quraish Shihab relatif mudah diikuti. Memang ada beberapa istilah Arab, sejarah, dan pembahasan konseptual yang membutuhkan konsentrasi lebih. Namun justru di situlah nilai tambahnya. Buku ini tidak sekadar memberi jawaban, tetapi mengajak pembaca berpikir.

Struktur bukunya juga cukup jelas. Bagian-bagian utama buku meliputi “Istilah Bangsa Ummah dan Qawm”, “Tanggapan Dunia Islam atas Paham Kebangsaan Barat”, “Dalih Penolak Paham Kebangsaan”, “Bangsa Indonesia”, dan “Penutup”.

Menurut saya, kekurangan buku ini mungkin justru terletak pada tema yang cukup berat bagi pembaca yang menginginkan bacaan ringan. Beberapa pembahasan membutuhkan pengetahuan dasar tentang sejarah Islam, politik, dan konsep kebangsaan.

Namun hal itu bukan kelemahan yang membuat buku ini kehilangan daya tarik. Sebaliknya, ia dapat menjadi pintu masuk untuk membaca lebih banyak tentang Islam, Indonesia, Pancasila, dan sejarah hubungan agama dengan negara.

Identitas Buku

  • Judul: Islam & Kebangsaan: Tauhid, Kemanusiaan, dan Kewarganegaraan
  • Penulis: M. Quraish Shihab
  • Penerbit: Lentera Hati
  • Cetakan: I, November 2020
  • Tebal: 163 Halaman
  • ISBN: 978-623-7713-39-5
  • Genre: Agama / Islam

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda