Ulasan

Review Street Fighter: Antara Pesta Nostalgia dan Cerita yang Kehilangan Taji

Review Street Fighter: Antara Pesta Nostalgia dan Cerita yang Kehilangan Taji
Poster Film Street Fighter (IMDb)

Mesin arkade boleh saja pindah ke layar lebar, jurusnya bahkan bisa dibuat semakin spektakuler, dan karakter ikonik dapat tampil dengan wajah baru. Sayangnya, memindahkan keseruan sebuah game ke film ternyata butuh lebih dari sebatas adu pukul dan nostalgia masa kecil.

Street Fighter punya modal besar untuk memanjakan penggemar, tapi ambisinya menghidupkan dunia pertarungan justru memperlihatkan betapa cerita bisa kehilangan tenaga ketika terlalu sibuk mengejar hiburan.

Film produksi Legendary Pictures dan Paramount Pictures bersama Capcom ini disutradarai Kitao Sakurai, yang turut menulis skenario bersama Dalan Musson, T.J. Fixman, dan Gary Dauberman. 

Berdurasi ±119 menit, film laga-komedi ini dibintangi Andrew Koji sebagai Ryu, Noah Centineo sebagai Ken Masters, Callina Liang sebagai Chun-Li, David Dastmalchian sebagai M. Bison, Joe Anoai alias Roman Reigns sebagai Akuma, Jason Momoa sebagai Blanka, Curtis Jackson alias 50 Cent sebagai Balrog, Cody Rhodes sebagai Guile, serta Vidyut Jammwal sebagai Dhalsim. 

Film yang rilis bioskop Indonesia pada 14 Oktober 2026 ini, ceritanya berlatar tahun 1993, yang mempertemukan kembali Ryu dan Ken, dua petarung yang pernah tumbuh bersama di bawah asuhan Guru Gouken. Hubungan mereka merenggang, sementara masing-masing menempuh jalan hidup sendiri. 

Situasi berubah ketika Chun-Li, agen Interpol sekaligus saudara Gouken, merekrut keduanya untuk mengikuti turnamen World Warrior yang diselenggarakan Lord Bison. Misi tersebut berkaitan dengan upaya menangkap Bison dan membalas kematian Gouken yang dikaitkan dengan Akuma. 

Di balik kompetisi para petarung dunia, tersimpan konspirasi berbahaya yang menyeret Ryu dan Ken ke dalam konflik masa lalu, persahabatan, dan pertarungan yang menguji kesetiaan mereka.

Terasa menarik dan terbayang kerennya, kan? Sayangnya ….

Terlalu Mengandalkan Nostalgia?

Dari ceritanya saja, Street Fighter sebenarnya punya pemantik untuk membangun drama yang kuat. Persahabatan yang retak, kematian seorang guru, dan dendam pada lawan semestinya jadi fondasi emosional, bukan sekadar alasan untuk mempertemukan karakter dalam arena.

Sayangnya, film ini lebih menarik ketika membiarkan para petarung beraksi ketimbang saat harus merangkai konflik yang membuat penonton peduli terhadap nasib mereka.

Kelemahan tersebut terasa ketika nostalgia mengambil porsi terlalu besar. Jurus khas gim, penampilan karakter yang sengaja dibuat mencolok, serta kemunculan berbagai petarung memang menyenangkan. Namun, fan service punya batas. Mengenali karakter bukan berarti otomatis peduli perjalanan mereka. Ketika pengenalan tokoh lebih terasa sebagai parade referensi, penonton yang mengharapkan cerita matang cuma jadi penonton yang nunggu pertarungan berikutnya. Dan begitu terus, sampai terasa hambar. 

Untungnya, Kitao Sakurai membawa pendekatan komedi yang cukup berani. Humor slapstick dan tingkah Ken yang tengil ngasih warna berbeda di tengah pertarungan. Perpaduan aksi langsung dengan animasi juga mempertegas ciri khas film sebagai adaptasi game, bukan film bela diri realistis. Masalahnya, hiburan semacam ini belum tentu mampu menutupi kelemahan penulisan. Paham, ya? Lelucon yang berhasil mengundang tawa tetap tak otomatis memperdalam karakter atau membuat konspirasi terasa meyakinkan.

Pada intinya, Street Fighter lebih menjanjikan sebagai pesta nostalgia ketimbang drama laga yang solid. Film ini punya energi, karakter populer, dan keberanian tampil konyol, tapi cerita seharusnya jadi tiang yang menopang semuanya.

Penggemar game-nya mungkin nonton dengan senyum karena melihat dunia favoritnya hidup kembali. Namun. Buat penonton yang tak mengikuti game-nya, termasuk buat yang menginginkan konflik tajam dan perkembangan karakter kuat, film bermodalkan nostalgia ini belum sepenuhnya memuaskan.

Sobat Yoursay tertarik nonton? Buruan ke bioskop sebelum turun layar, ya. Selamat menonton!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda