Ulasan

Review Djamin Setia Selamanya: Cinta dan Perjuangan yang Terlalu Padat

Review Djamin Setia Selamanya: Cinta dan Perjuangan yang Terlalu Padat
Poster Film Djamin Setia Selamanya (IMDb)

Nama seorang pahlawan seringkali berhenti sebagai nama jalan, gedung, atau catatan di buku sejarah. Berbeda dengan film, yang biasanya membawa turun dari halaman sejarah, memberinya wajah, suara, keluarga, cinta, juga luka yang disuguhkan ke penonton. Djamin Setia Selamanya mencoba melakukan hal tersebut kepada Djamin Ginting, pejuang asal Tanah Karo yang perjalanan hidupnya dipenuhi perang, pengorbanan, dan pilihan antara keluarga dengan pengabdian kepada bangsa.

Film produksi Erjege Pictures yang rilis bioskop 1 Oktober 2026 ini disutradarai Rako Prijanto dengan skenario Titien Wattimena dan Lynda Ulviana. Durasi film mencapai 103 menit dan pemerannya antara lain Rafi Sudirman sebagai Djamin Ginting, Claresta Taufan sebagai Likas Tarigan, Chicco Kurniawan sebagai Kadir Saragih, Jourdy Pranata sebagai Selamat Ginting, Marcell Darwin sebagai Jacob Waas, Arla Ailani sebagai Sarita, Teddy Syach sebagai Lantak Ginting, Unique Priscilla sebagai Tidang Tarigan, serta Sulthan Hamonangan sebagai Ucok.

Cerita bergerak dari masa muda Djamin pada 1921, ketika dia mengenyam pendidikan bentukan Belanda di Handelsschool. Pengalaman melihat ketidakadilan kolonial kemudian membentuk pandangannya. Pada masa pendudukan Jepang, Djamin bergabung dengan Gyugun karena melihatnya sebagai jalan menuju kemerdekaan. 

Seiring perjalanan, dia menyadari bahwa kedaulatan bangsa harus diperjuangkan sendiri. Ketika Agresi Militer berlangsung, Djamin tampil sebagai pemimpin perang gerilya di Sumatera Utara. Di tengah medan perjuangan dan intrik politik, kehidupan personalnya berjalan berdampingan dengan hubungan bersama Likas serta persahabatannya dengan Kadir, Selamat, dan Jacob.

Daya Tarik Sekaligus Persoalan Film Djamin Setia Selamanya 

Djamin Setia Selamanya jelas ingin membuat seorang pahlawan terasa sebagai manusia. Ada istri yang dicintai, sahabat yang menemani perjuangan, keluarga yang harus ditinggalkan, dan keputusan yang membawa konsekuensi. Pendekatan semacam ini membuat cerita sejarah terasa lebih dekat karena penonton punya tempat dan waktu untuk melihat Djamin sebagai manusia sebelum melihatnya sebagai pahlawan. 

Masalahnya, perjalanan menjadi sosok besar itu terasa sangat padat. Rentang hidup Djamin begitu panjang, sementara film hanya berdurasi 103 menit. Akibatnya, proses pembentukan karakter kayak rangkaian tahapan menuju satu tujuan: menjadikan Djamin pahlawan. Film ngasih kita pendidikan, Gyugun, perang, kepemimpinan, cinta, dan pengorbanan dalam satu tarikan cerita. Semua penting, sehingga beberapa bagian seperti harus segera dilewati.

Menurutku, ini membuat konflik personal Djamin menjadi bagian yang paling menarik sekaligus paling membutuhkan ruang. Hubungannya dengan Likas punya potensi besar karena cinta di sini seharusnya jadi sesuatu yang berhadapan langsung dengan pengabdian. Seorang pejuang punya kehidupan yang ingin dipertahankan, sementara perang terus meminta bagian lain dari dirinya. Kalau benturan itu dibuat semakin dalam, Djamin akan jauh lebih manusiawi ketimbang sebatas sosok pemberani yang selalu tahu arah perjuangannya.

Pilihan Rafi Sudirman sebagai Djamin juga menyegarkan. Rafi membawa karakter muda yang secara visual dekat dengan generasi sekarang, lalu ditempatkan dalam dunia perjuangan yang penuh tekanan. Dia harus bergerak dari pemuda Tanah Karo menuju figur pemimpin. Tantangan terbesarnya berada pada perubahan tersebut, sebab penonton perlu merasakan pertumbuhan, bukan sekadar melihat pergantian fase kehidupan.

Terlepas dari itu, adegan perangnya punya visual menarik. Yup, kelihatan banget produksinya menggunakan efek praktik dalam sejumlah adegan medan perang, termasuk penggunaan api dan kendaraan. Jourdy Pranata bahkan menceritakan momen ketika efek api nyaris mengenai Marcell Darwin saat proses pengambilan gambar.

Bisa disimpulkan film Djamin Setia Selamanya punya ambisi yang jelas. Yakni membuat sejarah jadi dekat lewat seorang manusia. Film ini berhasil membuka pintu menuju kehidupan Djamin, Likas, dan orang-orang di sekelilingnya. Dan buatku, bagian paling menarik dari film ini bukan saat Djamin terlihat gagah di medan perang, melainkan ketika film memperlihatkan harga yang harus dibayar untuk jadi sosok pahlawan. 

Sobat Yoursay sudah nonton film Djamin Setia Selamanya?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda