Ulasan

Menjaga Kewarasan di Lingkungan Kerja lewat Buku, Progresnya Berapa Persen?

Menjaga Kewarasan di Lingkungan Kerja lewat Buku, Progresnya Berapa Persen?
Novel karya Soraya Nasution. (Dok. Pribadi/Agustian)

Dunia literasi fiksi Indonesia terus berkembang dengan hadirnya berbagai novel metropop yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat urban. Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian adalah Progresnya Berapa Persen? tulisan Soraya Nasution.

Buku setebal 360 halaman yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo ini mencoba memotret lika-liku dunia kerja dengan segala dinamika di dalamnya.

Buat kamu yang sering mendadak panik tiap kali melihat notifikasi WhatsApp dari bos, buku ini bakal terasa seperti cermin kehidupan. Novel ini berhasil memotret horornya kejaran deadline proyek konstruksi dengan balutan komedi romantis yang bikin gemas sekaligus elus dada.

Dinamika Kerja dan Asmara di Balik Teror Deadline

Cerita ini berpusat pada April, seorang asisten tangguh di sebuah perusahaan konsultan konstruksi yang sudah bertahun-tahun mengabdi. Pekerjaannya menuntut ketelitian tinggi, mulai dari mengurus dokumen tender, jadwal proyek, hingga menghadapi ego para klien dan kontraktor di lapangan.

Namun, tantangan terbesar dalam karier April bukan terletak pada rumitnya proyek konstruksi, melainkan pada sosok atasannya yang bernama Pak Dewangga. Dewangga adalah tipe bos muda yang super kaku, dingin, perfeksionis, dan punya hobi mengerikan: menagih laporan perkembangan tugas setiap waktu tanpa kenal situasi.

Pertanyaan keramat "Progresnya berapa persen?" dari Dewangga menjelma menjadi teror psikologis harian yang tiada henti bagi April. Situasi semakin parah ketika manajemen kantor menerapkan sistem kerja jarak jauh, yang malah membuat batasan jam kerja April menjadi makin kabur dan berantakan akibat pesan dari sang bos.

Saking jenuhnya dengan ritme kerja yang toksik dan tekanan konstan tersebut, April berkali-kali membulatkan tekad untuk angkat kaki dari perusahaan. Sayangnya, realitas mencari pekerjaan pengganti di bidang konsultan ternyata penuh persaingan ketat, sehingga mau tidak mau ia terpaksa harus bertahan demi isi dompetnya.

Lucunya, di balik ketegangan profesional dan adu mulut yang terjadi hampir setiap hari, benih-benih ketertarikan justru perlahan tumbuh di antara mereka. Hubungan yang semula kaku dan dipenuhi rasa jengkel lambat laun berubah menjadi dinamika asmara lokasi yang penuh gengsi namun manis untuk diikuti.

Ulasan Novel Progresnya Berapa Persen? 

Membaca halaman-halaman awal buku ini jujur langsung membuat aku teringat dengan beratnya beban kerja di industri kreatif dan korporat zaman sekarang. Soraya Nasution pintar sekali membangun atmosfer kantor yang sibuk, lengkap dengan istilah-istilah teknis dunia tender yang membuat latar tempatnya terasa sangat meyakinkan. Gaya berceritanya mengalir cepat, membuat pembaca ikut merasakan betapa mendesak dan kepanikan yang dialami oleh karakter utamanya.

Satu hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana buku ini tidak romantis secara instan, melainkan memberi ruang pada perkembangan karakter mereka berdua. Hubungan benci jadi cinta antara April dan Dewangga dibangun lewat interaksi sehari-hari yang relevan, bukan sekadar jatuh cinta pada pandangan pertama yang klise. Perubahan sikap Dewangga dari bos yang menyebalkan menjadi pria yang perhatian terasa sangat halus dan bikin baper.

Latar transisi ke sistem kerja digital atau WFH di dalam cerita juga digambarkan dengan sangat akurat dan relevan bagi kaum pekerja urban. Aku ikut merasakan bagaimana frustrasinya April ketika privasi di luar jam kantornya perlahan terkikis oleh tuntutan profesionalitas yang dipaksakan. Novel ini sukses menyuarakan keresahan para pekerja yang sering kali kesulitan menemukan kedamaian setelah laptop ditutup.

Pelajaran penting yang bisa dipetik dari novel ini adalah pentingnya memiliki ketegasan dalam menetapkan batasan antara ruang kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance). Bertemu dengan atasan yang menuntut seperti Dewangga memang melelahkan, tapi situasi itu sebenarnya menguji sejauh mana kita bisa mempertahankan profesionalitas tanpa mengorbankan kewarasan diri.

Selain itu, menghargai kapasitas diri sendiri adalah modal utama agar kita tidak hancur oleh kelelahan kerja (burnout) di lingkungan kantor.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda