Ulasan

Review Empat Musim Pertiwi: Saat Trauma, Horor, dan UFO Menyatu di Bromo

Review Empat Musim Pertiwi: Saat Trauma, Horor, dan UFO Menyatu di Bromo
Poster Film Empat Musim Pertiwi (Instagram/putrimarino)

Ketika Koboi, Mistis, dan UFO Masuk ke Desa: Genre Tidak Biasa dalam Film Empat Musim Pertiwi
Pulang kampung biasanya identik dengan suasana hangat bersama keluarga. Namun, bayangan itu langsung runtuh saat saya menonton kisah Pertiwi (Putri Marino) dalam film Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java). Kepulangannya ke desa kelahiran di lereng Gunung Bromo, Jawa Timur, justru terasa sedingin kabut subuh di lautan pasir.

Film garapan sutradara Kamila Andini dan produser Ifa Isfansyah (Forka Films) yang tayang mulai 8 Oktober 2026 ini terpilih mewakili Indonesia ke ajang Piala Oscar 2027. Sebagai mahasiswa yang sedang mempelajari Filmologi, saya melihat daya tarik utama film berdurasi 137 menit ini terletak pada keberaniannya memakai genre yang tidak biasa dan gaya visual (style) yang unik untuk mengisahkan trauma penyintas kekerasan seksual.

Cerita Pulang Kampung yang Penuh Luka

Empat Musim Pertiwi menceritakan kepulangan Pertiwi setelah 20 tahun dipenjara karena membunuh pria yang mencoba memperkosanya saat ia berusia 16 tahun. Bukannya diterima, Pertiwi justru disambut canggung oleh orang tuanya (Iswadi Pratama dan Hargi Sundari), dicurigai warga desa, dan kembali bertemu mantan kekasihnya yang sudah berkeluarga, Bisma (Arya Saloka).

Dalam kajian filmologi (Pratista, 2008 dalam Astuti, 2022), film ini menggunakan alur campuran (maju-mundur) dengan tempo perlahan (slow-burn) yang mengajak penonton menyusun ingatan Pertiwi lewat kilas balik (flashback). Di sepanjang cerita, Pertiwi menghadapi tiga masalah besar:

  • Menahan luka batin sendiri di balik sikap dingin karena ia menolak dikasihani.
  • Menghadapi kemunafikan warga desa yang membiarkan judi dan pejabat korup, tetapi mengasingkan mantan pekerja seks seperti Mak Ira (Christine Hakim) di tengah padang pasir serta memasung warga disabilitas bernama Kuntet (Dwika Pradnyana).
  • Menembus timpangnya hukum, terutama saat Pertiwi mendampingi Raras (Hanna Aretha), anak perempuan tuli korban kekerasan seksual, untuk melapor dengan bahasa isyarat di kantor polisi.

Melihat ketidakadilan itu, Pertiwi bersama Mak Ira dan Niken (Hana Malasan) akhirnya membangun rumah aman bagi warga yang disingkirkan. Sesuai Paradigma Kritis (Astuti, 2022), cerita yang terinspirasi dari perjuangan pengesahan RUU TPKS ini hadir untuk mengkritik budaya patriarki sekaligus menunjukkan kekuatan solidaritas perempuan.

Genre Tidak Biasa: Saat Drama Desa Bertemu Koboi, Horor, dan UFO

Biasanya, film Indonesia tentang kekerasan seksual hanya dikemas dalam genre drama sedih yang mudah ditebak alurnya (Astuti, 2022). Empat Musim Pertiwi mendobrak kebiasaan itu lewat genre yang tidak biasa. Kamila Andini membungkus filmnya sebagai suspense drama (drama ketegangan) yang mencampurkan berbagai genre sekaligus (mixed-genre):

"Sebenarnya genre-nya kami sebut suspense drama, tapi memang filmnya mix genre. Kami berusaha enggak kasih batasan-batasan genre dalam film ini. Ada fantasinya, realism dan supranaturalnya, tapi semua dibungkus suspense drama."

Dalam teori Rick Altman (1999), percampuran ini disebut hibridisasi genre (hybridisation), yakni meminjam ciri khas berbagai genre agar penonton tidak bosan dengan formula klise. Uniknya, film ini menggabungkan empat elemen genre yang jarang bertemu:

  • Mengambil gaya Koboi (Western) di Bromo: Lautan pasir Bromo direkam layaknya gurun pasir film koboi Amerika, lengkap dengan sosok Pertiwi yang menunggang kuda dan menyetir jip untuk memperjuangkan keadilan.
  • Membangun suasana Horor dan Misteri: Kabut tebal Bromo serta alat elektronik rusak yang tiba-tiba menyala sendiri di tengah malam memutar suara masa lalu menciptakan teror psikologis seperti gim horor Silent Hill: Homecoming.
    Menyelipkan Mistis Lokal (Magical Realism): Kesenian kuda lumping (jaranan) dan sosok siluman hadir sebagai simbol kemarahan batin serta pelindung korban ketika hukum manusia gagal bekerja.
  • Menutup cerita dengan Sci-Fi lewat UFO: Kejutan paling tidak biasa muncul di bagian akhir ketika cerita pedesaan ini ditutup dengan kemunculan piring terbang (UFO) di langit desa.

Menurut pakar genre Steve Neale (1980), kejutan yang keluar dari pakem justru membuat film semakin berkesan. Saat diwawancarai di Toronto, Kamila Andini menjelaskan makna di balik munculnya UFO tersebut:

"What happened to her, it happened. It's real. Even when you don't believe it, it happened."

UFO menjadi sindiran tajam bagi masyarakat. Sama seperti kesaksian orang yang melihat UFO namun dianggap mengada-ada, pengakuan korban kekerasan seksual juga sering tidak dipercaya. Padahal, meskipun diragukan banyak orang, kekerasan terhadap penyintas tetaplah fakta yang nyata.

Gaya Visual (Style) dan Musik yang Tepat

Perpaduan genre yang ekstrem tadi berhasil menyatu berkat gaya sinematik (style) yang matang (Astuti, 2022). Kamera Batara Goempar dan tata artistik Dita Gambiro sukses menyulap kabut dingin serta padang pasir Bromo menjadi gambaran rasa sepi Pertiwi. Akting Putri Marino yang rela menjalani delapan latihan khusus selama dua bulan, mulai dari bahasa Jawa Timur, bahasa isyarat, berkuda, hingga bela diri, juga tampil sangat memukau dan mengantarkannya meraih Face of Asia Award di Busan International Film Festival 2026. Ditambah musik elektronik menekan dari grup Bottlesmoker, suasana tegang di film ini terasa begitu hidup.

Lewat pilihan genre yang tidak biasa dan gaya visual yang berani, Empat Musim Pertiwi membuktikan bahwa kisah trauma perempuan tidak harus selalu tampil mendayu-dayu, melainkan bisa menjadi suguhan sinema yang lantang dan menggugah pikiran.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda